Beliau sebenarnya sudah tidak menjabat lagi sebagai bupati. Masa jabatannya sudah berakhir tiga tahun yang lalu.
Mantan Bupati itu menjabat selama dua periode.
Selama menjadi bupati dua periode, beliau tak pernah mendapat masalah. Artinya, tak pernah berusan dengan aparat hukum, apalagi KPK. Jangankan dengan KPK, di medsos pun tak pernah ada isu kurang baik tentang diri beliau. Orang banyak menyimpulkan, bahwa beliau adalah bupati sukses di kabupaten itu selama dua periode.
Tak sedikit kawan karibnya melontarkan pujian kepadanya. Pujian itu memang wajar diterimanya. Sebab ia terhindar dari momok mengerikan, yaitu tinggal beberapa tahun dalam penjara setelah habis jabatan. Kadang-kadang ada yang tercatat lebih sepuluh tahun. Disebut tercatat, karena mungkin tak banyak yang tahu betapa lama seseorang dalam Lembaga Pemasyarakatan itu. Apakah sama vonis hakim atau berbeda jauh. Yang paling tahu tentulah yang bersangkutan.
Seharusnya, mantan Bupati itu senang dan bangga. Jarang para pejabat masih dipuji-puji setelah tak menjabat lagi. Yang banyak adalah caci maki, meskipun disampaikan di belakang-belakang.
Bagi Fadlul, ucapan pujian itu dirasakannya seperti sindiran. Kadang-kadamg ia rasakan seperti mengolok-olokkanya. Sebab itu, setiap kali kalimat pujian itu disampaikan orang, ia hanya menyambut datar saja dan diikuti sedikit anggukan.
Memang aneh, kadang-kadangnFadlul merasakan wajahnya seperti ditusuk-tusuk bila mendengar ucapan pujian sukses itu. Tidak jarang pula ia rasakan pujian itu menusuk-nusuk jantungnya. Sakit, perih, benar-benar terasa sampai ke zum-zum.
“Aku tak sukses,” bantah batin Fadlul setiap kali pujian itu diterimanya.
Dalam hati Fadlul terasa ada tumpukan perasaan bersalah setelah tidak lagi menjadi bupati.
Bagi Fadlul, sepuluh tahun bukanlah sebuah masa singkat. Ada 120 bulan, 3.650 hari. Selama itulah Fadlul menjadi orang nomor satu di kabupatennya. Selama itu tak seorang yang berani membantah ucapannya. Selama itu pula dia bisa berbuat sesuatu yang diinginkannya.
Jauh sebelum ia terpilih menjadi Bupati, ia sudah pasang niat dan rencana yang sudah ada dalam hatinya. Seperti yang diucapkannya waktu kampanye sebelum pemilihan. Ada sejumlah keinginan baiknya jika terpilih. Itu disampaikannya ke mana dan di manapun dia berada. Kemampuan bicaranya yang tertata dengan baik serta performance yang amat meyakinkan, calon pemilihnya sangat percaya akan apa yang diucapkannya itu. Tak mungkin dikhianatinya.
Dulu rencana pertama yang menjadi prioritasnya jika terpilih menjadi Bupati adalah, ia akan meningkatkan kesejahteraan rakyat di kabupaten itu. Fadlul paham sekali, janji ini paling ampuh untuk memperoleh dukungan, terutama bagi masyarakat yang saat itu sedang dihimpit masalah ekonomi.
Memang benar, warga petani karet di kabupaten itu dan mungkin di di daerah lain juga, sudah terlalu lama menderita karena jatuhnya harga karet. Mereka merasa menjadi warga termiskin di daerahnya. Tapi bagaimana lagi. Itulah satu-satunya pekerjaan yang dapat mereka kerjakan untuk mendapatkan uang. Mereka tidak punya pilihan lain.
Dalam pikiran Fadlul waktu itu ketika kampanye dulu bahwa dia tidak akan mampu menaikkan harga karet. Naik dan turunnya harga karet tidak akan bisa dipengaruhinya walaupun dia menjadi Bupati. Tapi waktu itu, itulah satu-satunya cara untuk mendapat dukungan suara pemilih. Terutama pemilih yang tinggal di daerah perkebunan karet.
Kini, ucapannya sepuluh tahun yang lalu itu terasa seperti mengaum-ngaum di dalam kepalanya. Apalagi saat ini harga karet semakin jatuh. Harganya tinggal separuh dari harga saat dia berkampanye dulu.
Fadlul coba menghitung berapa banyak orang kesal dan kecewa padanya. Kabupaten Z tempat dia jadi Bupati dulu adalah kabupaten pemekaran. Ada 13 kecamatan. Rata-rata setiap kecamatan itu ada 15 hingga 20 desa/kelurahan. Sebanyak 75% penduduk desa itu menggantungkan hidup mereka ada karet.
Dulu, waktu terjadi krismon (krisis moneter) sekitar tahun 1998, para pekebun karet naik angin. Harga karet waktu itu melonjak tinggi. Hasil pekerjaan mereka menyadap karet satu hari bisa memenuhi kebutuhan rumah tangga selama satu minggu. Waktu itu, bagi penduduk yang mata pencahariannya menyadap karet, ada yang berdoa semoga krismon itu bertahan untuk selamanya. Sebab selama krismon kehidupan mereka sangat sejahtera untuk ukuran mereka.
Waktu krismon harga karet rakyat yang disebut ojol mencapai harga 20 ribu rupiah per-kilo. Kenaikan harga barang kebutuhan pokok tak mereka risaukan waktu itu. Sebab masih dikalahkan dengan tingginya harga ojol. Tapi, kini harga ojol tak sampai 5 ribu rupiah perkilo. Celakanya, harga kebutuhan terus meningkat.
Fadlul tak tahan bila ada warga yang bercerita tentang harga karet atau ojol. Cerita itu dirasakannya seperti tuntutan atas janjinya sepuluh tahun yang lalu. Jangankan mendengar cerita langsung dari warga, berita-berita di media tentang harga karet pun dia tak sanggup membacanya. Sebab itu, sudah lama dia tidak siaran menikmati televisi. Ia takut akan keluar berita tentang harga ojol.
Fadlul kini lebih banyak mengurung diri di rumah. Ia hanya keluar rumah untuk hal-hal penting.
Ia hanya mau bertemu dengan orang-orang tertentu saja.
Fadlul serasa dikejar-kejar oleh janji-janji masa lalunya. Kadang-kadang seperti ia dengar ucapan lantang dari banyak orang. Janji itu terus menghantuinya. Entah sudah berapa kali pula masuk ke dalam mimpi-mimpinya.
Bengkalis, 2020