Membaca Teori Pengelolaan Kesan Para Politisi, Tidak Ada yang Kebetulan: Catatan Nafi’ah al-Ma’rab

115

Pasca pelantikan presiden dan kabinet baru, seekor kucing bernama Bobby Kertanegara ikut viral mengikuti jejak Prabowo ke istana. Sebenarnya Bobby sudah cukup lama dimunculkan pada sisi kehidupan Prabowo di media sosial, khususnya setelah memasuki momen Pemilu 2024 lalu.

Saat ini Bobby sendiri memiliki akun Instagram dengan jumlah pengikut sebanyak 699 ribu.

Bukan hanya Prabowo yang memiliki kucing dan ditampilkan sedemikian rupa di media sosial. Sebelumnya kucing-kucing Anies juga viral jelang Pemilu 2024. Mulai dari Lego, Snowball, Aslan, Oboy, Wednesday & Mocca hadir di akun Instagram bernama @Pawswedan dengan jumlah pengikut 86,7k.

Dalam perspektif komunikasi, tidak ada yang kebetulan ditampilkan. Semuanya memiliki makna yang ingin dikomunikasikan.

Beberapa hari sebelum pelantikan menteri, tercatat sejarah unik adanya semacam pembekalan calon-calon menteri sebelum presidennya dilantik. Catatan pertama dalam sejarah di Indonesia yang bisa dipertanyakan mengapa? Nama-nama narasumbernya pun praktisi politik dari luar negeri.

Anda bisa bayangkan, untuk semacam pembekalan saja narasumbernya para praktisi dunia, bagaimana dengan konsultan politiknya untuk pemenangan pemilu? Sudah pasti sangat hebat dan pilihan.

Para politisi yang berhasil meraih kekuasaan hari ini adalah mereka yang sangat pintar dalam hal komunikasi.

Kembali soal kucing tadi. Kucing adalah simbol. Ditampilkannya kucing pada sosok politisi memiliki makna untuk menciptakan pengelolaan kesan. Apakah kontradiktif atau memang untuk memperkuat, kembali pada individunya.

Berita Lainnya

Prabowo di Pemilu tahun 2019 misalnya terlihat berapi-api dan cukup keras dalam bersikap, tetapi di Pemilu 2024 semua kesan itu hilang. Ia dimunculkan dengan positioning ‘gemoy’ dan diperkuat dengan kucing untuk kesan lembut dan halus.

Itulah pengelolaan kesan. Pengelolaan kesan adalah sesuatu kesan yang diinginkan oleh seseorang. Selanjutnya melalui sikap dan penampilan yang dikomunikasikan, seseorang berusaha untuk meraih kesan itu dari khalayak. Asumsi dari teori ini menyebutkan, target dari pengelolaan kesan itu sendiri agar seseorang mendapatkan kekuatan yang sepenuhnya, promosi, dan target-target lainnya yang diinginkan. Kesan apa yang ingin dibentuk, itulah yang dikomunikasikan.

Jokowi barangkali seseorang yang sangat mahir dalam hal pengelolaan kesan.

Di awal kemunculannya di Solo dan pindah ke Jakarta, ia dikesankan sebagai sosok yang merakyat.

Penggunaan simbol baju putih, wajah sederhana, aktivitas masuk ke gorong-gorong, semua dilakukan untuk pengelolaan kesan pemimpin yang merakyat pada saat itu. Trend khalayak saat itu menyukai pemimpin yang merakyat, maka pakar-pakar komunikasi pun memunculkan sosok Jokowi sedemikian rupa.

Hasilnya, ia sukses memimpin Indonesia dua periode. Bermula dari pengelolaan kesan melalui komunikasi.

Salahkah pengelolaan kesan? Tentu terpulang pada tujuan di balik itu apa. Komunikasi hanya bagian dari proses, makna sebenarnya adalah tujuan seseorang dalam melakukan komunikasi itu.

Sudah siap dengan cara pengelolaan kesan yang paling cocok untuk Anda?

De Daikos, 25 Oktober 2024

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan

1 Komentar
  1. Bagus mengatakan

    bingung mau kesan apa yg ingin ditampilkan. Kesan merakyat sudah, kesan sangar sudah ada… hehee