Kenang Umbu, Sastrawan Yogyakarta Deklarasikan Museum di Malioboro

YOGYAKARTA – TIRASTIMES : Umbu Wulang Landu Paranggi, sastrawan besar yang dijuluki Presiden Malioboro tersebut telah berpulang seminggu lalu. Tapi, jasanya akan selalu dikenang sebagai piwulang atau mahaguru sastra di Indonesia.

Bahkan, demi mengenang jasa-jasanya dalam membesarkan sastra di Indonesia, masyarakat sastra Yogyakarta mendeklarasikan Museum Sastra Yogyakarta di Jogja Library, Jalan Malioboro, Senin (12/4/2021).

Ketua Panitia Sigit Sugito menjelaskan museum ini untuk mengabadikan artefak maupun karya sastra dari Umbu dan sastrawan lain agar kasus seperti almarhum Ragil Suwarno Pragolapati yang sulit menemukan dokumentasinya tidak terulang.

“Ada kendala dokumentasi di dunia sastra di Indonesia. Untuk itu, kami berinisiatif bisa membuat dokumentasi terhadap Umbu di ruang kerjanya ini (Jogja Library),” katanya.

Alasan lain yaitu karena Yogyakarta, dikenal sebagai salah satu pusat seni dan kebudayaan yang menonjol di Indonesia. Para seniman, khususnya sastrawan, yang pernah dan atau masih bergulat di kota ini, dinilai memiliki pengaruh kuat dalam kehidupan dan perkembangan sastra di Indonesia hingga saat ini.

“Para seniman Yogyakarta, tidak saja berkiprah di kota sendiri, tapi juga mampu tampil di tingkat nasional dan internasional,” katanya.

Di Yogyakarta, kata dia, sejak tahun 1940-an telah tumbuh berbagai sanggar ataupun kelompok kesenian yang berbasis di luar kampus dan di dalam kampus. Ada masa, di ratusan kampung bertumbuhan kelompok-kelompok kesenian. Kehidupan kesenian ditopang pula adanya berbagai media yang terbit di Yogyakarta berupa majalah dan koran yang pada masa lalu hal semacam hanya terjadi di kota-kota besar, dan juga banyaknya penerbit-penerbit di Yogya yang memiliki perhatian terhadap kehidupan seni-budaya.

“Malioboro, sebagai salah satu ikon Yogyakarta, erat pula dengan kehidupan dan perkembangan seni budaya, termasuk sastra. Di tahun 1950-an dikenal “Sastrawan Malioboro” untuk menyebut orang-orang yang kerap hadir, berdialog dan berdiskusi ataupun mempresentasikan karya-karyanya di beberapa ruas jalan malioboro. Kemudian di akhir tahun 1960-an hingga awal tahun 1970-an dikenal pula Persada Studi Klub (PSK) sebagai kelompok yang berperan besar untuk memunculkan para penyair, yang tidak terbatas dari Yogyakarta saja, melainkan dari berbagai wilayah di Indonesia. Umbu Landu Paranggi sebagai tokoh utamanya,” jelasnya.

Saat deklarasi ini, dibacakan puisi karya Umbu. Tak hanya sastrawan yang hadir dalam pembacaan, berbagai tokoh profesional pun turut hadir. Seperti advokat Sunu W Ciptahutama, Sutirman Eka Ardana Senator Afnan Hadikusumo, Taufik Ridwan , Dewo PLO, Menik Swarno Pragolopati dan banyak lain.

Mereka bergantian membacakan puisi karya Umbu. Kemudian, diakhiri dengan pembacaan deklarasi Museum Sastra Yogyakarta yang nantinya akan merek rekomendasikan ke Dinas Kebudayaan DIY untuk ditindaklanjuti. (hs/dtk)

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan