Menunggu Undangan Allah Bangun Malam: Catatan Nafi’ah al-Ma’rab

105

Dalam sebuah kajian bersama guru-guru di sekolah Islam, seorang guru bertanya kepada saya, Kak bagaimana ya caranya supaya bisa bangun malam untuk salat? Rasanya susah sekali.

Sungguh, ini pertanyaan yang membuat saya malu. Teringat beberapa bulan terakhir kualitas bangun malam saya secara pribadi cukup memprihatinkan. Ibarat orang pergi prasmanan, datang sudah terakhir-terakhir dan dapatnya hanya sisa hidangan.

Begitu saya mengibaratkan qiyamullail yang saya lakukan beberapa bulan terakhir. Tetap datang, tetapi pada akhir-akhirnya sehingga secara kualitas hanya Allah yang tahu.

Namun, saya tetap coba jawab pertanyaan si guru tadi, sebab memberi jawaban itu sama halnya menasihati diri sendiri. Saya harus menasihati diri saya sendiri.

Saya katakan, soal bangun malam untuk qiyamullail (salat, tilawah, zikir, istighfar, dll) semua itu adalah undangan dari Allah. Orang yang tidak diundang oleh Allah tidak akan bisa hadir. Di saat orang tidur, maka hanya orang-orang yang Allah undang saja akan bangun dan datang padaNya.

Apa yang kita lakukan di siang harinya akan memengaruhi apakah kita termasuk orang yang diundang Allah pada malam itu atau tidak.

Namun, pernah suatu waktu saya tidak bangun sama sekali. Terbangun pada saat suara azan berkumandang, sudah Subuh. Padahal siang harinya saya harus banyak aktivitas bertemu orang, mengisi, dan lainnya.

Benar-benar tidak terbangun. Saya ingat-ingat lagi, tadi siang ngapain aja ya? Dosa apa yang sudah saya lakukan sehingga mata benar-benar tidak terbangun? Saya ingat-ingat rasanya hari ini justru lebih baik dari hari sebelumnya, tetapi tetap saja tidak Allah undang.

Saya sedih dan terus berpikir, kenapa ya? Akhirnya saya paham, bahwa Allah hanya ingin menegaskan kepada hambaNya bahwa semua aktivitas ibadah kita itu semuanya atas dasar kekuatan yang Allah berikan.

Bukan kehebatan kita sebagai manusia yang sok-sok mau beribadah. Kalau Allah tidak berkehendak ya tetap saja tidak bisa. Jadi jangan sombong dengan kemampuan manusia dalam beribadah.

Baiklah, kembali ke soal tips. Seorang teman menjelang tidur dia sibuk menyediakan air dingin untuk diminum. Dua gelas air ia minum menjelang tidur. Saya heran, ini orang cari masalah jelang tidur banyak minum. Tak cuma itu, rupanya dia juga menyediakan dua gelas lagi di samping tempat tidurnya. Akan dia minum lagi katanya. Saya pun bertanya, untuk apa? Dia jawab, supaya saat tidur nanti ia terbangun untuk buang air kecil dan bisa salat malam di waktu-waktu yang utama.

Saya bertemu lagi dengan orang yang tidak mau tidur di kamar di atas kasurnya. Ia memilih tidur di lantai. Saya tanya kenapa? Supaya saya kedinginan dan terbangun nantinya untuk salat malam. Ada-ada saja cara orang untuk mendapatkan undangan dari Allah.

Saya pun mikir, saya sudah punya cara apa ya supaya Allah selalu mengundang saya tiap malam?

Sebenarnya paling mudahnya berdoa. Berdoa supaya Allah memudahkan dan mengistiqomahkan. Semuanya minta sama Allah, bahkan untuk beribadah sekalipun agar dimudahkan.

Setelah beribadah, kita juga harus berdoa agar ibadah itu diterima. Sebab kita ini benar-benar lemah, semuanya benar-benar atas kuasa Allah.

Saya teringat pernyataan seorang Habib, jika kita menangkan Allah di dalam hati kita, maka Allah akan memenangkan kita. Berat, susah, dan banyak hambatannya, tetapi jika Allah ridho dan berkehendak atas diri kita, Allah akan mampukan kita melakukannya.

Wallahualam.
De Daikos, 23 Januari 2025

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan