

Dalam setiap proses penerbitan antologi bersama, akan selalu ada volunter yang merelakan waktunya. Waktu yang telah dikeluarkannya untuk memajukan literasi di negeri ini dengan mengajak, memotivasi, menunjukkan, mengumpulkan, editing, dan lebih penting lagi melatih kesabaran. Namun, akan selalu ada kepuasan kala buku antologi itu telah hadir dan diapresiasi pembaca.
Antologi yang hadir di tengah kita kali ini berjudul “Suara Guru di Teluk Puisi”. 27 Guru Bahasa Indonesia dengan 51 puisinya saat dengan simbol-simbol guru, sekolah, dan pendidikan. Kita akan menemukan kata yang mewakili seputar dunia itu yaitu: papan tulis, guru, pahlawan tanpa tanda jasa, murid, kurikulum, dan perpustakaan.
Adalah wajar seorang guru Bahasa Indonesia telah dekat dengan dunia kepenulisan. Mengingat mereka adalah perawat bahasa dan sastra yang akan memperkuat daya tahan literasi di negeri ini.
Beberapa puisi yang saya anggap representasi dari suara guru ini antara lain:
Membahasakan Papan Tulis
ia membahasakan dirinya tentang hitam.
dasar paling jauh kehidupan. tentang segala
hidup yang akan ditempuh.
ia membahasakan dirinya tentang hijau.
sedikit terang tentang kehidupan. jauh dari
gelap ke ranah sejuk untuk dilihat.
ia membahasakan dirinya tentang putih.
lebih dari sekadar redup, lebih dari sekadar
terang. segalanya dapat di ruap oleh angan
dan harap.
(Riki Utomi)
Puisi “Membahasakan Papan Tulis” karya Riki Utomi menggambarkan perjalanan dan transformasi identitas melalui simbol warna. Pembaca diajak untuk merenungkan perjalanan hidup melalui lensa warna. Dengan menggunakan simbolisme warna, penyair berhasil menyampaikan pesan tentang identitas, harapan, dan transformasi. Karya ini tidak hanya menggambarkan pengalaman pribadi tetapi juga resonansi universal tentang kehidupan yang dapat dirasakan oleh banyak orang.
Catatan Seorang Guru
Selalu saja tangan subuh menarik tirai
Membentanglah pagi
terlihat di singkap jendela
Sudah berapa subuh dan dhuha ia lalui
Dan untuk apa ia lalui?
Bukannya tidur berpeluk kantuk lebih nikmat
daripada memaksa mata terbuka?
…
(Heza Hera)
“Catatan Seorang Guru” adalah refleksi mendalam tentang kehidupan seorang pendidik yang penuh dengan tantangan dan pengorbanan. Melalui puisi ini, Heza Hera berhasil menangkap esensi dari dedikasi seorang guru, serta tantangan yang sering kali tidak terlihat oleh masyarakat luas. Puisi ini mengajak pembaca untuk lebih menghargai peran guru dalam mendidik generasi masa depan.
Di Sebuah Perpustakaan Sekolah
Di sebuah perpustakaan sekolah
Entah pada hari yang keberapa
pada suatu musim yang sendu
ku humban jauh-jauh rasa jenuh
sambil duduk di sebuah kursi kayu
menyaksikan debu-debu
dan sarang laba-laba berumah
di antara sela-sela lemari buku.
Lama aku melempar pandang
…
(Jasman Bandul)
“Di Sebuah Perpustakaan Sekolah” adalah refleksi mendalam tentang pengalaman seorang individu di lingkungan pendidikan yang seharusnya menyenangkan namun justru terasa membosankan dan sunyi. Jasman Bandul berhasil menangkap esensi dari keterasingan dalam proses belajar-mengajar, serta kerinduan akan interaksi yang bermakna. Puisi ini mengajak pembaca untuk merenungkan kondisi pendidikan yang sering kali tidak memperhatikan kebutuhan emosional dan intelektual para siswa.
Sebagian besar puisi memiliki kesenadaan yang berbincang tentang dunia seputar sekolah, namun ada beberapa puisi yang menarik untuk diulik karena beda tema, salah satunya puisi yang berjudul
Tuah Andung
Puisi : (Aek Martua)
Gemericik air bersenandung penuh rindu
Menyambutku seperti dulu
Pelan aku tatap butirannya jatuh satu satu
Aku hitung sebagai ramuan pilu
Nada Koba dan Onduo mengetuk kalbu
Gambaran cinta Omak yang tak kenal waktu
Mematah segala mau
Asal sibiran tulang tetap tersenyum penuh madu
Tuahnya hampir jadi semu
Tersebab mereka yang datang menabur tabu
Andung sudah mulai sayu
Ini tempat tuah bunda merajut syahdu
Jangan ambil tuah andungku
Nikmati saja tanpa meninggalkan luka biru
Sebab akupun punya murka yang paku
Dan tak satupun rayu aku mau
Pasir Pengaraian, 31 Agustus 2024
(Reni Juniarti)
Puisi “Tuah Andung” karya Reni Juniarti menyampaikan perasaan kerinduan dan nostalgia yang mendalam. Puisi ini mengangkat tema kerinduan, cinta, dan pengorbanan. Penulis menggambarkan hubungan yang erat dengan sosok yang dihormati, mungkin seorang ibu atau nenek, yang memberikan pengaruh besar dalam hidupnya. Ada nuansa melankolis yang mencerminkan kehilangan dan harapan akan kehadiran kembali.
Puisi ini mencerminkan perasaan cinta dan penghormatan terhadap sosok ibu atau nenek. Penulis menunjukkan bagaimana kenangan akan cinta tersebut dapat memberikan kekuatan, meskipun ada rasa sakit akibat kehilangan. Frasa “Jangan ambil tuah andungku” mengekspresikan keinginan untuk menjaga warisan emosional dan spiritual yang telah diberikan oleh sosok tersebut.
Ada pertentangan antara rasa rindu dan kemarahan, seperti terlihat dalam kalimat “Sebab akupun punya murka yang paku.” Ini menunjukkan bahwa meskipun ada cinta, terdapat juga rasa sakit dan kekecewaan yang mungkin disebabkan oleh situasi tertentu.
Puisi ini menyampaikan emosi melankolis dan nostalgia. Perasaan kerinduan sangat kuat, tetapi ada juga nada peringatan terhadap mereka yang mungkin tidak menghargai warisan tersebut. Penulis berusaha untuk menegaskan pentingnya menghormati kenangan dan pelajaran dari orang-orang tercinta.
Tahniah untuk guru-guru Bahasa Indonesia. Selamat merayakan karya yang akan memperkuat daya tahan literasi di negeri ini.