PARADE PUISI 237 TAHUN PEKANBARU – Puisi Husnu Abadi (2)

PARADE PUISI
237 TAHUN KOTA PEKANBARU,
23 JUNI 1784-2021

Puisi-Puisi Husnu Abadi

Husnu Abadi

SUNGAI SAIL, KOTAKU

Kepada siapakah aku harus berterima kasih
Ketika hari ini kunikmati perjalanan sungai
Dengan taman-taman yang asri
Di kanan kiri sungai
Dari jembatan Sail
Hingga pertemuan dengan sungai Siak
Oh betapa mempesonanya

Kepada layskar mana aku harus menyapa
Dan membawakan setangkai bunga mawar
Pertanda terima kasihku
Ketika senja ini
Aku bersama para penyair tujuh negeri
Dengan bangga menyajikan sungaiku yang harum
Dengan kelapkelip sinar lampu
Ditambah dengan rembulan yang malumalu
Menambah romantisme yang tak pernah padam
Seolah-olah aku mengulang masamasa silamku
Ketika aku di sungai Melaka, Mekong, Venesia ataupun
Malam-malam yang gemuruh di Singapore

Kepada siapakah aku harus berterima kasih
Tolong tunjukkan aku, kepada siapa ?

Sungai Sail- Pekanbaru,
2016

Husnu Abadi

GERIMIS SENJA

Ketika gerimis senja
Adalah gerimis yang dirindukan
Beribu burung berteduh di ketiak pohon
Di berbagai sudut kotaku yang ramah
Banyak burung berkejaran
dari satu pokok ke pokok lainnya

Kotaku yang selalu tersenyum
Cicit-cicit burung yang manja
Tetap berlindung di sarangnya
Pohon-pohon telah melindunginya

Ketika gerimis senja
Pohon-pohon kotaku
Selalu berkata,
Aku sayang pada kota ini
Aku sayang pada kota ini

Taman Kota-Pekanbaru
2016-2021

Husnu Abadi

SAJAK-SAJAK PELABUHAN RINDU

(1)
Malam larut
Dingin
Mencekam
Alunan alam
Berbisik
Tak bersisik
Jalan yang jauh
Semakin jauh
Kearah mana kapal ini bersandar

(2)
Aku merenda
Huruf demi huruf
Ada rindu
Ada sayang
Ada bukit cinta
Kemanakah kapal ini hendak aku tambatkan
Agar semua pulau dapat kujangkau
Dan pelabuhan demi pelabuhan
Segera aku datangi
Di malam-malam yang sepi ini

(3)
Pelabuhan rindu
Semakin jauh
Dan ia dapat berkata
Mengeja huruf demi huruf
Yang sama dalam rongga dadaku
Pelabuhan bergoncang
Ketika perahu yang kutambatkan
Hendak berlabuh
Janganlah engkau menjauh
Pelabuhan rindu hendak berteduh

(4)
Perahu menyerbu
Dan engkau mempererat dekapan
Pada tiang-tiang yang dihadapan
Layar laut layar gelombang
Bersahut-sahutan
Menyiram mataku
Yang semakin lama
Semakin merindu
Tiang perahu semakin jantan
Dan pelabuhan harapan
Telah di depan
Kemarilah

Pasar Bawah- Pekanbaru
2010-2021

Biodata HUSNU ABADI

Ia termasuk  deklarator Hari Puisi Indonesia (26 Juli), yang dideklarasikan di Pekanbaru        (2012).    Penerima Anugerah Sagang, sebagai Seniman Budayawan Sagang (2015), Anugerah Z. Asikin Kusumah Atmaja Program Pascasarjana  UI Jakarta sebagai  Penulis Buku Hukum (2014), Anugerah LDT Dua Terbilang UIR sebagai Sastrawan Budayawan Kampus  (2007)

Buku puisi: Lautan Zikir (UIR Press 2004),  Lautan Kabut ( UIR Press, 1998) dan Lautan Melaka (UIR Press, 2002), Di Bawah Matahari, 1981 dan  Matahari Malam Matahari Siang, 1982 (bersama Fakhrunnas MAJ).  Buku lainnya:  Ketika Riau, Aku Tak Mungkin Melupakanmu (UIR Press, 2004) dan Leksikon Sastra Riau (UIR Press, 2009,  bersama M. Badri)

Pendidikannya ada di Sekolah Rakyat Negeri No. IV di Mataram, Lombok (tamat 1962), SMP Baktiyasa di Singaraja (1965), SMA Muhammadiyah di   Purwokerto (1968), Fakultas Tehnik Sipil di UNUD Denpasar (1969-1972 tidak selesai), FH UIR di  Pekanbaru (1985), Magister Hukum UNPAD (1996), Program Doktor . pada Colgis UUM Malaysia (2013)   Alamat  Jalan Kelapa Gading 20, Tangkerang Labuai,   Pekanbaru.  (: mhdhusnu@law.uir.ac.id  dan +62812 753 7054), dan kini sebagai  Associated Professor pada  Fakultas Hukum UIR.

Untuk pemuatan karya sastra (Puisi, Cerpen, Pentigraf, Esai, Pantun, Kritik, Resensi, Peristiwa Budaya, dan tulisan sastra lainnya) silakan dikirim melalui surel: redaksi.tirastimes@gmail.com

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan