Oleh: Kang Thohir
“Gerimis bukan berarti bercerita tentang kesedihan melulu, melainkan ada juga bercerita tentang cinta yang terharu dan bahagia atas segala rahmat-Nya. Bahwa payoda itu simbol peneduh sekaligus tanda turunnya hujan dan terang. Jangan biarkan dirimu duduk melamun sendirian. Rawatlah harimu dengan aktivitas yang baik, dengan hidup yang penuh kemanfaatan dan juga melakukan hal-hal yang positif.”
_______
Kerikil kecil menghalangi jalan, namun di situ ada rasa empati di jalur buntu. Ada sebuah mata angin melaju kencang di arah barat. Mengusap air mata di atas permukaan tanah yang gersang. Mungkin suatu ketika mengetuk kalbu yang telah lama tertutup. Hingga akhirnya jalur cinta terbuka. Cerita dewasa telah menapaki, kesabaran telah teruji. Batas karakter membuka yang baru dan bermunculan, maka di situ buah akan segera dipanen oleh pemiliknya dan dibagi-bagi untuk orang lain, supaya bermanfaat dan berkat.
Benih-benih telah tumbuh dengan baik atas takdir-Nya atas kebaikannya. Kadang sebagian hanyut dan termakan tikus-tikus rakus. Sisa di antaranya adalah keikhlasan, kesabaran, dan menyelimuti, lalu menghampiri mereka yang terpilih dan terpercaya padanya. Merupakan cerminan dari dalam diri yang bisa diusap, meski debu itu menghalangi penglihatan dari kasat mata yang terlihat kotor. Usap mengusap memberi kesadaran diri masing-masing, sehingga mengevaluasi dalam jiwanya masing-masing.
Tetap kondusif, meski kadang angin menerjang dan hujan yang mengguyur, tetap di posisi itu, dan memberi kemanfaatan bagi sekelilingnya. Tegak dan tegar, akan memberi keistimewaan dalam pandangan mulia Tuhan semesta alam.
Brebes, 18 Januari 2026