Penyair Berjuang Dengan Darah Kalbu (Wawancara dengan Penyair Abdul Hadi WM): Catatan Shafwan Hadi Umry

163

Penyair Abdul Hadi WM yang dikenal sebagai sastrawan terkemuka di Indonesia hadir sebagai pembicara dalam acara Seminar Tapak Sufi Hamzah Fansuri di Sibolga yang berlangsung sukses (20-21 Desember 2002). Menjelang keberangkatannya kembali ke Jakarta, saya menyempatkan diri berbincang-bincang dengannya tentang sosok Hamzah Fansuri dan beberapa permasalahan kebudayaan dan situasi sastra saat ini di Indonesia.
Tanya (T): Bagaimana kesan Anda tentang kegiatan Seminar Hamzah Fansuri kali ini?
Jawab (J): Sangat bagus sebagai awal perbincangan. Oleh karena bangsa ini harus menghargai tokoh-tokoh pemikir dan kaum intelektual yang bergerak di lapangan kebudayaan. Kita bukan sekedar mengingat Fansuri dan menziarahi tempat berjejak beliau. Jejak Hamzah Fansuri haruslah jelas meresap dalam kebudayaan kita. Bagaimana kita mampu mempribumikan tasawuf di kalangan masyarakat Melayu yang beragama Islam.
(T) : Semana jauhnya kharisma seorang pujangga dibandingkan dengan kekuatan sang penguasa?
(J) : Sang raja belum tentu bisa diikuti sepanjang masa, namun seorang pemikir, ia juga digolongkan raja kerohanian. Ia bukanlah pahlawan fisik, tetapi berjuang pada jalan yang lain. Para empu, wali-wali juga membangun kepahlawanan spritual. Figur Hamzah Fansuri telah berjasa dan mampu merajut bahasa-bahasa nusantara menjadi bahasa persatuan melalui karya-karyanya.
(T): Pada karyanya kita melihat pola pengucapan dan penempatan rima (sajak) pada setiap kalimat akhir seperti dipaksakan”.
(J): Itulah licentia poetica sebagaimana lazimnya seorang penyair menulis dan mengolah bahasa puitik.
(T): Baik, kita beralih kepada situasi sastra saat ini yang terjadi di Indonesia. Apa yang Anda lihat pada sikap berpuisi generasi sekarang?
(J): Setelah tahun 1970-an, generasi sastrawan sekarang rendah dalam penguasaan bahasa asing. Mereka tidak mengenal tradisi membaca yang baik. Kepekaan visi tidak terbangun. Saya melihat adanya semacam gejala mengejar tujuan yang cepat, mencari jalan pintas, dan ingin dikenal secara cepat. Padahal dunia kepenyairan adalah sebuah proses.
Puisi itu ibarat daun yang datang dari pohon seperti kata Jhon Keats. Kelancaran getah dari sebuah pohon adalah sebuah proses alamiah yang membangun daun-daun. Saya kira yang penting kita menulis saja dulu, sebab Chairil Anwar juga berproses yang pada akhirnya menjadi seorang penyair besar di tanah Air. Tidak ada lahir penyair sejati tanpa mengalami periodisasi proses dan pendewasaan.
(T): Dapatkah Anda mengambil beberapa contoh tentang sikap kepenyairan penulis sekarang?
(J): Mereka menulis sebagaimana adanya saja, tapi belum mengental meskipun menampilkan ungkapan yang gagah. Tak punya makna dan tidak ada konteks dan filsafat, keagamaan, sosial dan lain-lain sepertinya mereka tidak percaya pada filsafat dan akibatnya akarnya tidak jelas. Apakah mereka berjejak di Barat atau berjejak di Timur.
(T): Apa karena faktor penyebab rendahnya penguasaan bahasa, filsafat dan rendahnya tradisi membaca saja yang menyebabkan rendahnya kualitas penyair sekarang? Atau adaah faktor yang lain?
(J): Hal yang lain saya pikir adalah, tidak ada perdebatan dan polemik berkesenian. Sebagai contoh pengalaman saya sendiri yaitu sejak SMA saya telah mengenal S. Takdir Alisyahbana, Sanoesi Pane, Amir Hamzah, WS Rendra, Goenawan Mohammad. Saya berusaha mengenal nama-nama tersebut visi dan sikap kebudayaannya dalam bersastra dan berpuisi. Jadi ada bandingan bila saya berusaha mengenal sastrawan lain setelah generasi mereka.
Sastrawan itu pada galibnya tetap tegar mempertahankan mutu. Penyair yang baik tidak akan mengenal bagaimana komunikasi antara kritikus terjalin rapi seperti H.B Yasin dan Subagio Sastrawardojo. Seorang seniman haruslah menempatkan diri sebagai intelektual, dan bukan sebagai selebriti. Andaikata ia ingin disanjung sebagai selibriti silakah saja ia buat lagu-lagu pop.
Saya prihatin dewasa ini forum dialog kebudayaan tentang kreativitas kurang mendapat tempat. Dulu, diawal tahun 67-an kita banyak memanfaatkan kaum intelektual untuk berdebat dengan tokoh-tokoh sastrawan dan pengarang. Forum-forum diskusi dan pembicaraan perlu diciptakan di mana saja, misalnya di rumah-rumah, di sudut-sudut warung. Hal itu mampu mengasah intelektual kita dan bukan dalam rangka bermusuhan sesama kita.
(T): Bertolak pada aspreasi sastra. Apakah apresiasi masyarakat terhadap sastra?
(J): Pengaran apresiasi masyarakat sangat rendah. Buktinya ruang-ruang budaya surat kabar jarang lagi diasuh oleh penjaga gawang yang terdiri atas sastrawan. Kesenangan anak-anak sekarang tidak mau keluar dari kandangnya. Mereka tidak mau keluar, menghargai karya-karya orang lain. Kurang menghargai karya-karya sastawan seperti Iwan Simatupang Subagio.
Kalau sastrawan tidak lagi menghargai sastra, siapa lagi yang akan menghargai. Saya melihat ada kecenderungan pengarang sekarang menutup diri dengan dinding-dinding tidak ada komunikasi budaya bahkan minat untuk mengulas karya sastrawan tidak ada sekarang.
Kita harus menyadari yang membesarkan sastra Indonesia ini adalah sastrawan-sastrawan zaman dahulu. Betapapun berbedanya aliran-aliran yang dipegang sastrawan dulu dan kini, semuanya itu hendaklah kita terima sebagai suatu sikap kebersamaan dan sikap berbaik sangka (positive thingking), dan bukan bermusuhan.
Sastrawan harus dekat dengan kaum poltisi, tokoh-tokoh cendekiawan, ulama dan masyarakatnya. Sebagaimana dahulu Chairil Anwar dekat dengan kaum politisi dan negarawan seperti Sutan Syahrir. Sebagai seorang sastrawan dan katakanlah budayawan kita perlu diuji dengan pemikiran-pemikiran orang lain. Jangan menutup diri dan membentuk dinding, berburuk sangka (negative thingking).
(T): Bagaimana menurut Anda peran media massa dalam pembinaan sastra?
(J): Saya melihat ada kecenderungan memitoskan (menjagokan) seseorang tokoh tertentu. Harian Kompas, sebutlah sebagai misal hanya memberi peluang kepada ketokohan Rendra sebagai seorang sastrawan. Majalah Tempo tak bisa dipisahkan dengan figur Goenawan Mohamad. Kita tidak mewariskan teori-teori sastra pribumi yang milik kita sendiri. Sebenarnya kita bukan hanya berorientasi teori ke Barat, tetapi orientasi ke Timur juga sangat penting dan bermakna dalam rangka membantu pemahaman kita yang dangkal terhadap sastra.
(T): Anda mengatakan figur sastrawan yang dijagokan tadi, dan apakah peran mereka dalam meletakkan posisi kritik sastra di Indonesia?
(J): Orang-orang tua kita tidak mau dikritik. Inilah sulitnya. Mereka menggunakan jurus-jurus yang tidak estetika. Akibat sikap ini kalangan yang muda-muda berumah di tempat tersendiri dan mengalami sikap “benar sendiri”. Hal ini menimbulkan para penyair menjadi kesepian. Kultur kritik sastra bisa hidup bila kita tidak takut dikritik.
Saya juga pernah mengkritik Linus Suryadi. Orang-orang merasa risau dan ramai memperbincangkannya. Saya hanya mengatakan, baca dulu argumentasi kritik itu, dalam konteks apa kritik itu keluar. Hal ini sesuai dengan kemiripan budaya intelektual di masa Chairil Anwar yang berhasil mencetuskan gejolak pemikiran revolusi dan karyanya, Sitor Situmorang yang mengembangkan filsafat eksistensialis tentang kegelisahan dan keterasingan manusia pada masa-masa tertentu dan semua itu bakal diuji oleh pemikiran-pemikiran lain yang datang kemudian dari Umar Khayam atau Goenawan Mohamad.
(T): Baik, waktu Anda untuk berangkat hampir tiba. Saya ingin kembali kepada Hamzah Fansuri. Apa pesan yang perlu disampaikan?
(J): Sastra sufistik dimulai dari pemikiran dan pendekatan yang tertuang pada Majalah Kalam. Sebagaimana Chairil Anwar yang telah mengobarkan revolusi pemikiran pada masanya. Masa sekarang ini peranan sastra sulfistik telah diuji dalam proses kebudayaan Indonesia.
Pemikiran sastra keagamaan yang disuarakan Danarto, Kuntowijoyo merupakan hasil dialog pada pemikiran-pemikiran orang Islam. Mereka banyak membaca sejarah kebudayaan lain. Sebagaimana halnya Hamzah Fansuri yang mengembara ke Baghdad untuk menulis karya puitik Syair Perahu sebagai hasil pengembaraan intelektual.
Kita harus berjalan di atas waktu. Penyair berjuang bukan dengan tinta, tetapi dengan darah kalbu.

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan