Pucuk Kata : 1. Polar Vortex, 2. Laut Pilu, 3.Kudeta Bumi

 
 
Puisi Aini Meiyasa Atria 
 
Polar Vortex
 
Pantai malu-malu merosot, menaikan air ke daratan
Ombak tak lagi bersahabat dengan bulan
Lelehan salju dingin datang bukan pada waktunya
Amerika terkejut, Trump sebut ini bukan global warming
Rancu kamu Trump
 
vanilla ice cream seharusnya dimusim panas
Orang-orang negeri Paman Sam borong membeli jaket
Rasanya bukanlah panas
Tapi dingin
Erang orang pintar, ilmuwan, ahli bahkan dukun
Sebut ini global warming
 
 
Aini Meiyasa Atria, siswa SMA Cendana Pekanbaru. 
 
 
Puisi Khayla Suci Andani 
 
Laut Pilu
 
Deru ombak berpadu riuh
Memecah hening bibir pantai
Mengeluh pilu
Indahku hanya sebatas sejarah
 
Ikan-ikan mati
Nelayan sengsara
Masyarakat gaduh
Lucu, tak sadar diri atas perlakuan awal
Omong kosong!
Hanya asik berucap tak peduli arti
Penuhi diri dengan dusta
 
 
Khayla Suci Andani, siswa SMA Cendana Pekanbaru.
 
 
 
Puisi Alim Rahmat Putra 
 
Kudeta Bumi
 
Engkau adalah habitat terindahku
Tak bosan mataku memandang keindahanmu
Benar.. Kaulah bukti kebesaran-Nya
Dan tertera di kitab-Nya
Meski kutak tahu pasti
Bentukmu bulat atau datar
 
Tapi sekarang di mana indahmu?
Indahmu telah dikudeta anak cucu Adam yang tak bertanggung jawab
Bunga tak lagi bermekaran
Harimau tak lagi mengaum
Pinguin tak lagi mendapat kehangatan
Amfibi tak lagi dapat hidup di dua lam
 
Kumohon padam amarahmu
Jangan kau luapkan pada kami
Karena tak semua insan bersalah
Kuberjanji akan terus menjaga dan melestarikanmu
Dengan luka yang akan terobati
 
 
Alim Rahmat Putra, siswa SMA Cendana Pekanbaru.
 
 
Untuk pemuatan karya sastra (Puisi, Cerpen, Esai Kritik Resensi, Peristiwa Budaya dan tulisan sastra lainnya) silakan dikirim melalui surel: redaksi.tirastimes@gmail.com

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan