Balon Putih | Puisi : Hening Wicara

175

BALON PUTIH

di antara sekian banyak balon
yang pernah singgah di balkon
kau lah balon paling unik
sekaligus paling menarik

dengan cerita paling klasik

kau datang di tengah riuh belia
suguhkan secawan asa
untuk kutelan di akhir masa
kala itu, akalku tak sanggup mencerna
perihal cawanmu yang terlalu sempurna

maka kubiarkan kau mendekap harap
menanti jawab yang tak kunjung lengkap
dan denganmu sengaja kucipta jarak
hindari aneka tanya menyeruak
dari dinding pikiranmu yang sesak
oleh sikapku yang teramat kanak-kanak

beberapa tahun kemudian kudengar kabar
kau pergi belajar sekaligus memohon restu
pada guru yang menambah kesholehanmu

dan melalui sang guru kau serahkan secawan asa itu
kepada siapapun yang sudi menerimamu

ternyata wanita beruntung itu adalah ia

yang usianya lima belas tahun lebih tua

dan ia seorang ahli ternama

sungguh, caramu yang awalnya kuanggap sama

dengan pangeran dalam dongeng cinderella

ternyata berujung seperti kisah nabi sang baginda

suatu hari di dalam pesawat

tak sengaja aku melihat

sosokmu dalam sebuah majalah

sebagai pasangan sejati dari perempuan terkenal itu

entah mengapa air mataku tumpah

membingkai wajahku yang malu merah

Berita Lainnya

Pemaleh: Puisi Musmulyadi

membayangkan sikapku di masa lalu

sikap yang mengabadikan sesal di kalbu

dan sejak saat itu

kau di benakku sering hadir

sering aku berkhayal merubah takdir

menjadikannya indah tanpa getir

hingga pada suatu pagi

jantungku seolah nyaris berhenti

mendengar kabar dari grup sekolah

bahwa kau baru saja menutup mata

untuk selama-lamanya

aku dari belahan bumi yang lain

tak mampu menahan gejolak batin

air mataku deras mengalir

basahi bibirku yang bergelimang zikir

kupanjatkan doa-doa

melepasmu menuju Sang Maha Cinta

Pekanbaru, Juli 2022

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan