Narasi Duka Hutan Ibu | Puisi : M.Z. Billal

157

NARASI DUKA HUTAN IBU

dan demi masa kecil hutan-hutan sebagai ibu

yang senantiasa jelita, ramah dan berbahagia

tak sepatutnyalah kita kini merundungnya dengan luka

seolah-olah ia sekadar ketampakan alam belaka,

masa bodoh ia akan menjadi buruk rupa dan berduka

mau sampai kapan kita akan menjadi bedebah?

tidakkah kita saksikan sendiri, ketika hutan-hutan ibu menjerit

tanpa suara dan wajahnya lebam oleh api yang begitu merah

sama saja kita memanggil bencana untuk singgah

dan menikmati berpasang-pasang paru-paru panggang

yang siap dihidang di meja waktu?

dan demi masa remaja hutan-hutan sebagai ibu

yang senantiasa merona, penuh cinta dan romansa

tak sepantasnyalah kita menodai kemurniannya dengan nafsu tak terarah

seakan-akan ia sekadar hamparan pohon-pohon perawan tak bermakna,

terserah ia akan binasa dan menangis tak sudah-sudah

sampai bila kita akan menjadi pendusta?

Tulisan Terkait

Rempang: Husnu Abadi

Berita Lainnya

tidakkah kita paham pada  akal sendiri, bahwa langit sebagai ayah

menyaksikan dan mencatat tiap-tiap perbuatan dengan sepasang mata luas birunya

tatkala kita durjana, mengorbankan banyak nyawa

yang kehabisan air mata untuk berduka

yang tak lagi mampu merangkum amarah ke dalam dada?

dan demi masa tua hutan-hutan sebagai ibu

yang kini semakin renta, retak dan patah hatinya

tak bisakah lagi kita menemukan kilau zamrud

di keningnya yang kian keriput

di bumi yang semakin pepat dan menyusut

sampai kapan kita akan terus menjadi durhaka?

tidakkah kelak kita akan meratap, sesal yang lebih pekat dari jerebu

mengenang sayat-sayat luka yang mendekam di dinding jiwa

dan meluluhlantakkan narasi cinta hutan ibu

tatkala kita kehilangan sepotong surga yang tuhan ciptakan

sebagai warisan untuk anak dan buyut kita

Kamar Alegori, 2021

M.Z. Billal, lahir di Lirik, Indragiri Hulu, Riau. Menulis cerpen, cerita anak, dan puisi. Karyanya termakhtub dalam beberapa kumpulan puisi Bandara dan Laba-laba (2019, Dinas Kebudayaan Provinsi Bali), Antologi Rantau Komunitas Negeri Poci (2020)), Antologi Sebuah Usaha Memeluk Kedamaian (2021) dan telah tersebar di berbagai media.Bergabung dengan  komunitas menulis Kelas Puisi Alit (Kepul) dan Genitri.

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan