

Malam semakin kelam
Namun mata enggan terpejam
Angka dua jarum di jam
Kucermin wajah tampak kusam
Lampu kamar sudahku padam
Hati resah pikiranku gelisah
Dosa-dosa menampakan wujud semakin suram
Pikiran berkelana di samudera dalam
Kulantunkan do’a-do’a
Kepada Sang Kuasa Malam
Dia hanya terdiam
-Sudut Kamar, 9-08-2021
***
Subuh tak datang dengan gaduh
Ia akhiri malam dengan teduh
Para buruh terbangun menyongsong pagi
Para penguasa terlelap menikmati gaji
Hari yang sama dimensi berbeda
“Siapa yang kita kuasai hari ini?”
Ujar penguasa dengan kukuh
“Siapa yang sudi mengupahku hari ini?”
Ujar buruh dengan luruh
-Rumah Tua, 09-08-2021
***
Kadang kita jauh terasing
Seperti manusia kebelet kencing
Menuju tempat nan sepi
mencari dedaunan kering
Melepaskan rasa
Meluapkan air mata
Semak-semak dibasahi dengan sunyi
Akhir dari fenomena
Ada yang meludah
Ada pula yang berdo’a
–Malam Jum’at, 05-08-2021
***
Kokok ayam menyadarkan raga
Mata terbuka memecah sunyi semesta
Dengan ganas kewajiban memangsa
“Nyam nyam nyam nyam”
Beban kehidupan melahap masa muda
Tak ada batas
Tak bisa merasa malas
Yang ada harus ikhlas
Badan kurus tetap kerja welas
Sebab di rumah beras sedang tandas
-Jalan Sepi, 10-08-2021
***
Dari sudut kampung nan rusuh
Suara tangisan melangit menjerit
Makian getir bagaikan petir
Kusuluh masalah semakin diplitir
Pak RT tepis gerimis
Pak RW hindari hujan
Pak Dusun lari dari kenyataan
Pak Kades tak meresapi keadaan
Masyarakat menangis dilukai kebijakan
–Gubuk Tua, 10-08-2021
***
Mahadir Mohammed, lahir 21 April 1996, berdomisili di Pangkalan Kerinci, Kabupaten Pelalawan, Riau. Seorang laki-laki yang hobinya memasak dan bermimpi, kesibukan harianya menyantap kuliner dan menonton review masak-masakan chef Renata. Sekarang sedang bergelut menulis puisi-puisi kontemporer dan menulis resep masakan khas Melayu. Karyanya sudah banyak termaktub di media-media online, seperti: Kumparan.com, GoRiau, Suara.com dan lain-lain.