Puisi Wanto Tirta : Elegi Bagi Mahaguru Umum Landu Paranggi

ELEGI BAGI MAHAGURU UMBU LANDU PARANGGI

gerimis jatuh di sepanjang pelataran malioboro
mengiring duka sang mahaguru pergi
jejak-jejaknya terpatri di kitab sastra
buku-buku penyair mengalir dzikir
munajat doa dipanjatkan bertubi-tubi

bendera setengah tiang dipajang
di halaman media masa
tertancap di hati para murid
sebagai penghormatan perjuangan
atas meninggalnya sang maha guru penyair

langit menghitam duka
karangan buka menghias taman sastra
wewangian semerbak menghias udara keindonesiaan

pribadi unik yang tak butuh popularitas
lebih banyak menanam benih
menyemai cinta kasih
merawat puisi yang tumbuh di jalanan
menebar sampai jauh ke mana hinggap
dari laut kidul parangtritis sampai bali
lalui dengan menulis

pribadi rendah hati tak suka kemapanan
berkelana merawat silaturahmi
sesama sahabat juga siapapun
membebaskan ingin pergi tak kenal angin
lakukan perjalanan sunyi demi sunyi sejati
temukan ladang karya bagi ribuan murid-murid hati

tak suka pada puja-puji
apalagi gemerlap duniawi
ia banyak memilih jalan sendiri
dengan obor di tangan
sambil menerangi jalan-jalan terjal berliku bagi para pendaki puisi

ia sendiri adalah puisi illahi
yang melahirkan tafsir berjilid-jilid
bagi para ahli puisi

06032021

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan