

gerimis jatuh di sepanjang pelataran malioboro
mengiring duka sang mahaguru pergi
jejak-jejaknya terpatri di kitab sastra
buku-buku penyair mengalir dzikir
munajat doa dipanjatkan bertubi-tubi
bendera setengah tiang dipajang
di halaman media masa
tertancap di hati para murid
sebagai penghormatan perjuangan
atas meninggalnya sang maha guru penyair
langit menghitam duka
karangan buka menghias taman sastra
wewangian semerbak menghias udara keindonesiaan
pribadi unik yang tak butuh popularitas
lebih banyak menanam benih
menyemai cinta kasih
merawat puisi yang tumbuh di jalanan
menebar sampai jauh ke mana hinggap
dari laut kidul parangtritis sampai bali
lalui dengan menulis
pribadi rendah hati tak suka kemapanan
berkelana merawat silaturahmi
sesama sahabat juga siapapun
membebaskan ingin pergi tak kenal angin
lakukan perjalanan sunyi demi sunyi sejati
temukan ladang karya bagi ribuan murid-murid hati
tak suka pada puja-puji
apalagi gemerlap duniawi
ia banyak memilih jalan sendiri
dengan obor di tangan
sambil menerangi jalan-jalan terjal berliku bagi para pendaki puisi
ia sendiri adalah puisi illahi
yang melahirkan tafsir berjilid-jilid
bagi para ahli puisi
06032021