

Dimusim apa kau tidak meratapi dirimu sendiri? Sedangkan langitmu tak hanya menumpahkan air hujan tapi juga air mataku untukmu. Lalu kenapa kau masih bisa memandang dengan senyum sementara kesakitan membanjur di sekujur tubuhmu?
Apakah dimusim dingin terbilang singkat, kau mendekap tubuhmu di samping nyala perapian. Kantuk dan kutuk sesekali membuatmu terlihat ringkih. Sementara di luar kamp pengungsian, dentuman senapan dan bunyi-bunyi bom memaksamu terus terjaga. Saat itu,aku hanya bisa berharap. Salju tak hanya mendinginkan tanah, juga ke hati para penjajah.
Barangkali pada musim panas yang panjang dan kering. Angin barat menerbangkan aroma darah, baru saja tumpah baru saja disumpah. Apakah kematian memang seakrab ini di tanahmu?
Astaga.
Kenapa aku bisa lupa
Tentu semua itu bisa kaulalui. Bukankah perang telah menjadi musim yang mukim di tubuhmu. Hampir tiap hari kematian semacam ritual mereka untukmu. Bukankah kematianmu adalah kehidupan untuknya.
Biadab.
Aku malu.
Bagaimana mungkin bisa mencintaimu. Sebab aku lelaki biasa. Tak seperti lainnya bisa mencintaimu dengan harta dan tenaganya. Sementara aku? Hanya sebatas kata-kata, itupun aku tulis secara terbatabata. Sementara aku? Cuma setakat kalimat singkat, itupun aku tulis dengan tangan berjingkatjingkat.
Palestina,
Bagaimana caranya aku mencintaimu?
Indragiri Hilir, 18 Juni 2021.
Pukul 20.00 Wib.
Untuk pemuatan karya sastra (Puisi, Cerpen, Pentigraf, Esai, Pantun, Kritik, Resensi, Peristiwa Budaya, dan tulisan sastra lainnya) silakan dikirim melalui surel:
redaksi.tirastimes@gmail.com