Malay – Imaging || Yusmar Yusuf

Memang dia yang berazam begitu. Ya, sebuah proses cor ulang demi memadatkan kembali tubuh Melayu. Tak sekadar tubuh, tetapi juga arasy kognitif Melayu tak boleh mengalami defisit secara bahasa. Maka, bahasa Melayu mengalami pencangkokan silang dalam dua momen agung; pertama persilangan yang oleh Pollock disebut sebagai Sanskrit Cosmopolis, dan momen kedua diracik oleh Ricci dalam terma Arabic Cosmopolis. Jika tak mengalami pencangkokan silang (cross fertilization) seperti ini, kognitif yang tersedia di dalam bahasa Melayu akan mengalami defisit (alias penuaan yang meng-gering). Bahasa ini, selintas terasa ringan diucap, struktur gramatika dan sintaksis tak serumit bahasa-bahasa belahan barat, namun kaya dalam dimensi semantik. Orang boleh berkata, bahwa bahasa Melayu yang hari ini dinaik-tarafkan menjadi ‘bahasa bazaar’ Indonesia, terkesan tak sekuat bahasa Swahili (sepanjang pantai timur Afrika) dari segi “knowledge contents”, sehingga bahasa Swahili yang jumlah penutur bahasanya tak sebanyak penutur bahasa Melayu, menjadi salah satu bahasa sastra dunia.

Jejaring pustaka alias jejaring sastra, menjadi kunci utama yang secara tak sadar telah memadatkan Islam ke dalam alam Melayu. Kedatangan Islam ke wilayah ini secara arus peradaban dunia menjadi sesuatu yang mencengangkan. Karena wilayah Kepulauan Melayu (Nusantara) sejak ribuan tahun telah diikat oleh sebuah sistem ”seloka spiritual” berpembawaan lokalitas (kepercayaan lokal) dan selanjutnya mengalami perbancuhan yang ranggi dan tinggi ketika adopsi bahasa Sanskrit (Sansekerta) menyertai dendangan suci dua agama (Hindu dan Budha), masuk dan menusuk ke jantung suci ruang-ruang asketik dunia Melayu bernama kuil, biara dan candi. Jejaring pustaka ranah Sanskrit ini adalah gelombang pertama serbuan “pencangkokan silang” itu berdesing. Sanskrit sebagai bahasa, bertandang ke wilayah alam Melayu dalam posisi bahasa para dewa.

Bahasa Sanskrit itu seakan meluncur ke ranah nan baruh; yang dalam karya sastra Melayu dan Jawa selalu disebutkan bahwa India sebagai “negeri di atas angin” sebagai lawan dari “negeri di bawah bayu”, sebuah alamat bagi negeri-negeri di Kepulauan Melayu. Ketika bahasa Sanskrit mengalami dua “penanda”: Sebagai bahasa di alam suci, masuk ke alam sastra dan politik. Kemudian, diikuti dengan fenomena bahasa Sanskrit sebagai bahasa ‘ilahiah’ bersalin diri menjadi bahasa manusia. Dari kenyataan ini lahirlah dua budaya yang saling bertemali dan berjalin erat, yaitu; kavy dan prasasti. Kavy adalah sebuah bentuk bahasa sastra tulis yang merupakan ciptaan baru. Sementara itu, prasasti adalah maujud dari nukilan, sedutan, guratan, cukilan, sudut pandang dan titik tinjau dalam ranah resam politik. Kedua bentuk budaya yang bertemali erat ini, ikut menggemukkan kehidupan dan tubuh kebudayaan Melayu. Pollock mengandai-andai, “bahwa bahasa Sanskerta itu lahir secara lintas batas;

merupakan bagian akrab dari semua tempat, sekaligus sesuatu yang asing bagi semua tempat”. Bahasa ini menjalani peran “hyperglossia” yang memiliki kedudukan yang jauh lebih tinggi dari bahasa tempatan. Dia menjalani sifat melintasi batas etnisitas, mengatasi defesit perbendaharaan estetika bahasa lokal. Bahasa Sanskrit itu layaknya sebuah bahasa yang muai keanggunan verba dan adjectiva, pun himpunan kemapanan dari segi tata-bahasa; kaya dalam gambaran gramatika-kehidupan (die Grammatik von Lebensformen). Lintas batas yang menawarkan keakraban sekaligus keasingan pada semua tempat itulah yang menjadikan bahasa ini sebagai bahasa kosmopolis pada zamannya.

Cor ulang kedua, sebuah penggemukan kebudayaan dan peradaban Melayu melalui Arabic Cosmopolis. Ricci meracik anatomi jejaring pustaka alias jejaring sastra (literature network), selain jalan mempribumikan nilai-nilai keislaman, namun sekaligus dia adalah “proyek penceritaan” yang disambut dalam model terjemahan melalui ragam bahasa, termasuk lewat bahasa perantara seperti Tamil dan terutama tentulah bahasa Parsi yang menawan. Tradisi menerjemah (penerjemahan), pun terjadi. Tradisi ini bukanlah sebuah tradisi biasa. Dia berkait erat dengan keterbukaan ide, keterbukaan budaya, keriuhan pasar, kerinduan estetika, kejelitaan spiritualisme, kosmopolitanisme kesultanan (pentadbiran). Dan, bahasa Arab pun datang sebagai bahasa Tuhan. Bahasa yang digunakan sebagai alat untuk berdoa dan shalat. Bahasa yang dijadikan lorong untuk mendalami tauhid dan sifta-sifat ilahiah. Kemudian berlanjut menjadi bahasa persuratan (sastra) yang berkisah dalam jalinan penceritaan yang bertangkai-tangkai; tentang keesaan Allah, tentang nabi-nabi sebelum Muhammad, tentang hikmah, percintaan orang suci dan sederet hikayat dan kisaf para sufi yang menusuk ke jantung Melayu yang lembut-hanif itu.

Ada semacam kesinambungan dan kesamaan antara dunia Sansekerta dan Arab dalam peristiwa kedua bahasa dunia ini mengalami kombinasi dan penyesuaian ke dalam bahasa lokal melalui asimilasi arti dan bunyi. Terutama, ihwal bahasa Arab, kala diasimilasi ke dalam bahasa Melayu, ayat Arab yang tak mengenal akhiran huruf “i” dan “u” (seperti al abd dan al waqt, berubah dalam lidah Melayu menjadi abdi dan waktu). Juluran kata-kata serapan dari bahasa Arab di dalam bahasa Melayu kian kaya dan gemuk dengan arti atau makna yang lain (berdiri sendiri, alias makna tersendiri). Sudah mengalami perubahan arti dan konteks makna, sesuai dengan “kehendak” lokalitas dan “kemauan” kebudayaan Melayu itu sendiri. Lalu, mengapa pekerjaan menerjemah ini begitu rancak dilakukan di pusat-pusat perniagaan rantau Melayu atau di pusat-pusat pemerintahan kesultanan Melayu? Ada dimensi langit yang dikaitkan dengan kehendak untuk menerjemah segala manuskrip Islam itu. Selain alasan mendakwahkan ajaran tauhid, Kitab yang diturunkan kepada umat Islam, misteri huruf, peran Jibril, mistik angka 1 sampai 100, atrologi, stamboek tentang catatan kejadian dan nasib, romansa Adam dan Hawa, titian rambut dibelah tujuh, kenikmatan surga. Selain itu juga untuk menjelaskan sillogisme Islam yang kaya-raya sebagai warisan ajaran Ibrahimic yang diteruskan kepada Muhammad Suci. Pertanyaan-pertanyaan menjebak dari “Kitab Seribu Masalah” atau “Kitab Seribu Masa’il”, Suluk Seh Ngabdulsalam, Hazar Mas’ala, One Thousand Questions dan sederet nama lain dari buku ini, merupakan kumpulan pertanyaan dari Abullah bin Salam, seorang Yahudi yang rajin mengajukan pertanyaan (sekaligus tindakan pemeriksaan) yang berkait dengan keterhubungan Islam dengan ajaran Tauhid Ibrahimic sebelum Islam. Pertanyaan-pertanyaan itu berlangsung dalam segala suasana di Madinah, termasuk di hamparan kebun kurma. Dan Nabi menjawabnya dengan tepat dan cerdas. Kecerlangan sillogisme inilah yang dihayun dalam pembacaan atau recital yang amat menghanyutkan dalam perjalanan panjang Islam mengukir tanah-tanah di Kepulauan Melayu. Imaging Melayu…

Untuk pemuatan karya sastra (Puisi, Cerpen, Esai, Kritik, Resensi, Peristiwa Budaya, dan tulisan sastra lainnya) silakan dikirim melalui surel: 
redaksi.tirastimes@gmail.com

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan

1 Komentar
  1. Manggolo seto mengatakan

    Sangat bermanfaat tulisannya