seperti anak haram ibukota lainnya ada memori di peron kereta senja itu kita adalah pemintal waktu kau tak hendak ngobrol denganku? tak rindu suaraku? tanyamu gemas manja diiringi rintik akhir januari itu gerimis sore menertawakan kebisuanku.. sumpah serapah inang inang pasar bikin lidahku kian kelu.. dalam bising Pasar Minggu kita ngobrol tanpa pita suara.. seekor kodok menonton dipayungi hujan.. seakan dia baca mantra.. kero..kero..kero.. katanya juwita hatiku.. senyum bibirmu telah sampaikan pesan betapa kau sayang aku.. dua bola matamu ungkapkan kebenaran bahwa kau takkan pernah tinggalkan aku.. genggaman erat jemarimu bisikkan rahasia kalau kau takkan biarkan aku terjatuh.. sandarmu dibahuku tuturkan cerita betapa kau tak bisa hidup tanpaku.. kecupan gairahmu ajariku tuk jadikan kau ujung penantian kisah ini.. ku rangkul bahu mungilmu kucubit nakal hidung indahmu lepaskan saja kebinalan orang muda itu berpayung langit : kita terobos tanah basah Jakarta kutatap lagi kedalaman pandangmu juwita hatiku.. begitu laku kita selalu obrolan tak dilahirkan lewat mulut bahasa kita linguistik semesta cuma aku, kau, dan ratu kodok yang insafi sambil dia baca mantra Kero.. Kero.. Kero begitu katanya
Pekanbaru, 25 Oktober 2020
(Puisi ini juga dimuat dalam buku Antologi Puisi Bersama “Bait-Bait Sendu” Penerbit Elfa Mediatama, Cikarang Baru, 2020)
Untuk pemuatan karya sastra (Puisi, Cerpen, Pentigraf, Esai, Pantun, Kritik, Resensi, Peristiwa Budaya, dan tulisan sastra lainnya) silakan dikirim melalui surel:
redaksi.tirastimes@gmail.com