Sunyi di Tirai Senja: Cerpen Daris Kandadestra

67

MATAHARI sore di ufuk barat memancarkan cahaya lembut. Perlahan semakin meredup dan hilang di balik gumpalan awan. Kartika berdiri di depan kelas, memperhatikan murid-muridnya yang mulai membereskan buku mereka sambil tertawa riang. Meski ia telah lama mengajar, tak ada yang berubah dalam dedikasinya di dunia pendidikan. Termasuk keputusannya untuk tetap mengenakan cadar saat mengajar. Ia justru merasa lebih tenang, seolah ada jarak lembut yang melindunginya dari sorotan yang tidak ia inginkan. Meski ada harga mahal atas keputusan itu.

Di kota kecil ini, Kartika dikenal sebagai guru yang berdedikasi tinggi. Ia tidak hanya mengajar dengan hati, tapi juga kerap membawa sastra ke dalam pelajaran sehari-hari. Murid-murid mengenalnya sebagai sosok yang penuh inspirasi, tak pernah kekurangan kata-kata untuk menyemangati mereka. Sejak berhijrah dengan memakai cadar, beberapa orang sempat meragukan pilihannya, tetapi anak-anak di sekolah menerima penampilannya dengan biasa. Kartika merasa aman di ruang kelasnya, terlindung dari pandangan dunia luar yang sering kali penuh penghakiman.
Sore itu, Kartika duduk di beranda sekolah bersama Bu Ani. Angin berhembus lembut, menggerakkan dedaunan pohon asam yang rindang. Senja perlahan turun, mewarnai langit dengan cahaya keemasan yang memantul di kaca jendela. Bu Ani tahu Kartika sedang bergulat dengan keputusan penting. Selama ini, ia selalu menyemangati Kartika untuk segala hal tapi ia juga tahu bahwa sekarang ada pergulatan batin yang tak sederhana yang ditanggung Kartika yang sudah ia anggap seperti anak kandungnya itu.

“Kartika,” Bu Ani memulai, suaranya penuh perhatian. “Aku dengar kau mendapat undangan ke lomba puisi tingkat nasional. Luar biasa, itu impianmu, bukan?”
Kartika tersenyum samar di balik cadarnya. “Ya, Bu. Tapi sekarang… Aku merasa bimbang.”
“Bimbang?” Bu Ani menatapnya dengan lembut, mencoba memahami perasaan Kartika yang sulit ia ungkapkan.
“Aku takut ini akan menjadi masalah,” jawab Kartika perlahan. “Aku tahu, Bu. Lomba di tingkat nasional akan lebih ketat. Aku akan diminta membuka cadarku karena ekspresi wajah adalah bagian dari penilaian. Tapi aku… aku tak ingin melepaskannya.”
Bu Ani tersenyum dan meletakkan tangannya di pundak Kartika.
“Kartika, dunia sastra ini adalah dunia suara, dunia hati. Kamu tak perlu ekspresi wajah untuk menyampaikan makna. Aku yakin, jika ada orang yang bisa menyampaikan kedalaman perasaan hanya dengan suara, itu kamu.”
Kartika terdiam. Ia ingin percaya bahwa kata-kata Bu Ani benar, tapi ia tahu peraturannya tetap akan menuntutnya untuk tampil sesuai standar yang ada. Sebuah keheningan menyelimuti mereka, sampai akhirnya Kartika berbicara lagi, kali ini lebih perlahan, seolah berbicara pada dirinya sendiri.
“Tapi, Bu Ani, bukankah kita hidup di dunia yang selalu menuntut kita untuk terbuka, untuk mengikuti arus?” suara Kartika nyaris berbisik.
“Apa aku bisa tetap berjalan dengan prinsip ini tanpa terasing? Tanpa harus selalu memilih antara suara hatiku dan tuntutan orang lain?”
Bu Ani terdiam sejenak, lalu menjawab dengan nada lembut.
“Kartika, mungkin benar bahwa dunia ini selalu menuntut kita menyesuaikan diri. Tapi ingat, setiap keputusanmu adalah perjalanan batinmu. Jika kau merasa yakin, dunia ini akan menemukan cara untuk mengerti. Jadi, kau ikut saja lomba itu, sampaikan puisimu dengan caramu. Kalau memang harus memilih di akhir nanti, biarkan pilihan itu lahir dari hati, bukan dari desakan orang lain.”
Kartika mendengar kata-kata itu bergema dalam pikirannya. Senja semakin gelap, dan dalam hatinya ada keteguhan yang perlahan menguat.
Dalam perjalanan pulang malam itu, Kartika merenungkan percakapannya dengan Bu Ani. Dalam hatinya, ada suara yang terus bertanya: Apakah aku akan mampu menghadapi penolakan? Apa ini hanya soal prinsip atau juga tentang mimpi yang sudah lama aku perjuangkan?
Ia teringat impian-impiannya dulu, saat pertama kali terjun ke dunia puisi. Bagaimana ia begitu mencintai kata-kata, memaknai setiap bait seolah itu adalah denyut nadinya sendiri. Dan sekarang, kesempatan itu ada di hadapannya—kesempatan yang mungkin hanya datang sekali dalam hidup. Tapi di sisi lain, keyakinannya tak bisa dikompromikan begitu saja. Ini bukan sekadar tentang hijab atau cadar, pikirnya. Ini adalah identitasku, kedamaian yang telah lama aku cari.
Ia menarik napas panjang. “Aku akan tetap pergi ke lomba itu,” bisiknya dalam hati. Jika mereka tak bisa menerima caraku, biarlah. Setidaknya aku sudah berusaha menyampaikan pesan puisi, dengan cara yang paling tulus.
***

HARI perlombaan tiba. Kartika berjalan memasuki aula besar yang dipenuhi peserta lain, juri, dan penonton. Aura lomba begitu terasa, dengan panggung besar yang dikelilingi lampu sorot. Ketika namanya dipanggil, Kartika berdiri di atas panggung, membawa puisinya dengan penghayatan mendalam, melantunkan kata-kata yang bergaung di antara kursi-kursi penonton.
Namun, tak lama setelah ia selesai, salah seorang juri mengangkat tangannya, memberi isyarat agar Kartika tetap berada di panggung.
“Maaf, Kartika Sari,” kata juri itu dengan suara tegas, “Kami menghargai usahamu, tetapi ada satu hal yang harus kami sampaikan. Dalam lomba ini, ekspresi wajah adalah bagian penting dari penilaian. Bisakah kamu membuka cadar?”
Kartika merasakan ketegangan menyelimutinya. Ia sudah memperkirakan kemungkinan ini, tetapi tetap tidak mudah menghadapinya secara langsung. Ia menghela napas, mencoba berbicara setenang mungkin.
“Maaf, Pak. Saya memilih untuk tidak melepas cadar saya. Namun, saya yakin pesan dalam puisi saya bisa tersampaikan melalui suara dan gerak tubuh.”
Para juri tampak saling pandang. Salah seorang dari mereka, seorang wanita paruh baya dengan rambut beruban, menatap Kartika lama.
“Kami mengerti prinsipmu, tetapi aturan tetaplah aturan. Kami tak bisa menilai keseluruhan performa jika wajahmu tertutup.”
“Bukankah puisi adalah suara hati, Bu?” tanya Kartika perlahan. “Bukankah sebuah puisi bisa mencapai hati pendengarnya tanpa perlu ekspresi wajah?”
Wanita itu tersenyum tipis, sedikit getir. “Benar, tapi kami hanya juri di sini, Kartika. Kami tak bisa melawan aturan.”
Kata-kata itu terasa seperti pisau yang mengiris pelan di hati Kartika. Dengan perasaan yang bercampur aduk, ia melangkah turun dari panggung, didiskualifikasi. Senja kian beranjak, meninggalkan semburat oranye di kaca jendela aula. Kartika menatap warna itu, menyadari bahwa mungkin ia akan terus dihadapkan pada dinding yang sama di dunia ini.
***

Tulisan Terkait

BULAN berikutnya, ia menerima undangan untuk mengikuti sebuah lomba puisi yang diadakan di kota lain. Lomba ini diakui sebagai salah satu lomba paling bergengsi dan banyak diikuti oleh para penyair berbakat. Kartika ragu, tapi akhirnya memutuskan untuk berpartisipasi.
Di tengah sorotan lampu panggung, Kartika maju dengan langkah mantap, lagi-lagi menghadapi pandangan ragu dari juri dan penonton. Ketika ia memulai puisinya, ia memberikan semua energinya, membiarkan setiap kata meluncur dengan penuh emosi. Setelah selesai, ia menatap para juri, mengantisipasi reaksi mereka.
Seorang juri perempuan yang tampak bijaksana berbicara pelan. “Kartika Sari, kami sangat menghargai pilihanmu. Tapi, bisakah kali ini kamu coba menanggalkan cadarmu hanya untuk beberapa saat saja?”
Ada jeda panjang. Kartika menatap ke bawah, menimbang-nimbang. Segala pikiran berkecamuk dalam benaknya. Lalu, ia berkata dengan lembut, namun tegas,
“Saya rasa… pilihan saya sudah jelas. Dengan segala hormat, saya tidak bisa membukanya.”
Suasana panggung menjadi hening. Para juri hanya bisa mengangguk. Salah seorang juri akhirnya berkata, “Baiklah, keputusanmu sudah kami hargai. Namun sayangnya, ini tetap aturan kami, Kartika.”
Kartika mengangguk kecil, mundur dari panggung dengan perasaan yang campur aduk. Ia telah berusaha, berjuang dengan segala cara. Di luar panggung, ia menghela napas panjang. Mungkin ia tak akan pernah diterima dalam dunia sastra dengan aturan yang kaku seperti ini. Namun, Kartika menyadari sesuatu: ia tidak harus berhenti.
Sambil melangkah pulang, Kartika berkata pada dirinya sendiri,
“Mungkin puisi dan suara hatiku akan terdengar di tempat lain. Tempat di mana mereka bisa melihat lebih dari sekadar wajah.”
***

SETELAH hari itu, Kartika kembali tenggelam dalam rutinitas mengajar. Di sekolah, murid-murid tetap menyambutnya dengan hangat, seolah tak ada yang berubah. Namun, di balik senyum yang ia tunjukkan di depan kelas, ada perasaan sunyi yang tak kunjung pergi. Ia merasa terasing di tengah lingkungannya sendiri, seolah ada tirai yang membatasi dirinya dengan dunia luar, sebuah tirai yang ia pilih sendiri namun membuatnya semakin jauh dari mimpinya.
Suatu sore yang muram, saat senja mulai turun dan warna langit berpendar keemasan, Kartika duduk di kursi taman sekolah yang sepi. Di sampingnya Bu Ani, duduk dengan wajah penuh perhatian.
“Kartika,” kata Bu Ani pelan, “Aku tahu kau kecewa, dan aku mengerti posisimu. Tapi, mungkin dunia ini masih sulit menerima pilihan seperti yang kau ambil.”
Kartika menunduk, tersenyum kecil di balik cadarnya.
“Bu Ani, dulu aku pikir dunia sastra adalah tempat yang terbuka untuk siapa pun, tanpa melihat bentuk atau rupa. Tapi sekarang, aku ragu.”
“Pernahkah kau berpikir untuk membuat panggungmu sendiri?” tanya Bu Ani tiba-tiba.
“Panggungku sendiri?” Kartika mengernyitkan dahi.
“Ya. Kau punya bakat besar dalam puisi, Kartika. Mungkin sudah saatnya kau menciptakan tempat di mana orang-orang bisa mendengar puisimu, tanpa perlu memaksa dirimu untuk membuka cadar.”
Kata-kata Bu Ani menembus sunyi di hati Kartika, meninggalkan jejak yang dalam. Pikiran itu tertinggal sepanjang senja, mengiringinya hingga malam tiba. Mungkinkah benar? Haruskah ia menciptakan ruang sendiri untuk tetap berbagi puisi, di mana ia tak perlu mengorbankan prinsipnya?
***

HARI demi hari, ide itu semakin tumbuh dalam pikiran Kartika. Ia mulai berpikir, mungkin sudah saatnya ia membuka jalan baru, ruang yang lebih bebas untuk berekspresi tanpa harus berkompromi. Dengan bantuan Bu Ani, ia mulai merencanakan sebuah komunitas sastra kecil di kotanya. Ia mengundang para pemuda, teman-teman guru, dan mereka yang tertarik pada dunia puisi.
Setiap senja di taman sekolah, mereka berkumpul. Kartika, dengan suara dan gesturnya, membacakan puisi di hadapan para pendengar setia. Mereka tak pernah meminta cadarnya untuk dibuka; mereka memahami bahwa di balik tirai itu, ada dunia penuh makna yang tersampaikan melalui suara.
Namun, pada suatu sore, seorang pengunjung asing datang, seorang penyair terkenal yang kebetulan mendengar tentang komunitas kecil Kartika. Ia mendekati Kartika seusai pembacaan puisi dan bertanya,
“Kartika, menurutmu, sampai kapan tirai ini akan kau pertahankan? Tidakkah kamu ingin membuka dunia yang lebih luas untuk puisimu?”
Kartika menatap langit yang mulai meredup, menatap senja yang berwarna jingga kemerahan. Ia terdiam, mendengar gema sunyi yang samar terdengar di dalam dirinya. Haruskah ia mengorbankan prinsipnya demi dunia yang lebih luas? Atau mungkin, ia bisa tetap dalam sunyi di balik tirai ini?.
Seketika suasana menjadi hening. Hanya desau angin senja meniup lembut dedaunan mengundang syahdu di hati Kartika.
“Maaf, kau tak perlu menjawab pertanyaanku itu,“ ujar penyair itu akhirnya.
Kartika tersenyum tipis di balik cadarnya. Ia memandang sinar matahari di ufuk barat. Sinar itu bagaikan tirai senja yang seolah tak pernah mampu menghindar dari gelapnya malam yang datang.****

Daris Kandadestra adalah nama pena dari Dedi Saputra yang lahir 12 Juli 1984 di Enok, Riau. Penulis merupakan anggota FLP Cabang Pekanbaru. Kicauannya dapat di lihat di Instagram @daris_kandadestra atau di akun facebook Daris Kandadestra. Dapat di hubungi lewat Email : dariskandadestra@gmail.com atau di no 085264883343.

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan