Anak Kita Jauh Dari Kata Merdeka, Ulah Kita Orang Dewasa: Opini Husin

115

Satu minggu sudah anak-anak kita, mengalami hal paling buruk dalam dunia kesenian. Pengalaman paling melukai, paling menyedihkan, dan paling tragis dalam hidup mereka. Tidaklah pernah terbayangkan oleh anak-anak kita sebagai pemain teater yang rata-rata duduk dibangku sekolah dasar, pementasan teater yang berjudul Opera Tun Fatimah yang dinakhodai oleh Fedli Aziz bersama Teater Selembayung pada Rabu (9/8/2023) di Gedung DPRD Provinsi Riau HUT Riau ke-66. Semula suatu penghargaan, penghormatan, dan kebahagiaan itu hilang seketika, berbalik arah menjadi pengalaman paling buruk dalam hidup mereka.
Anak-anak kita tidak mengerti dan tidak tahu menahu dengan segala urasan dan ulah orang-orang dewasa yang telah mengkhianati hati dan pikirannya. Hal yang paling bisa anak-anak kita mengerti adalah kesenian sebagai halaman bermain, suatu kesenangan yang mereka impikan. Lalu, pernahkah orang-orang dewasa yang terlibat dalam hajatan itu mempertanyakan apa yang anak-anak kita rasakan, menyembuhkan perih luka yang anak-anak kita tanggungkan, dan memperbaiki mental buruk yang anak-anak kita terlanjur simpan dalam-dalam. Pemberhertian, pengusiran, atau apapun kata yang diberikan telah berseleweran di media massa, anak-anak kita tidak urus dan tidak mau tahu menahu.
Orang-orang dewasa paham, sangat mengerti malah. Bahwasanya apabila seseorang tidak punya sense of belong terhadap seni, maka hatinya akan mati (sulit untuk merasa); dengan kata lain hati akan menjadi keras. Dampaknya akan sangat fatal bagi tumbuh kembang anak. Pada kasus yang dialami oleh anak-anak kita, anggapan seni sebagai suatu kebaikan telah pudar dan lenyap seketika. Pementasan teater sebagai halaman bermain yang mereka impikan hancur berantakan, anak-anak kita akan kenang dan simpan selama-lamanya.
Tumbuh kembang anak, sebagai generasi yang lebih baik menjadi dambaan bagi generasi kini, tua, dan akan segera habis. Tumbuh kembang anak ini menjadi tanggung jawab semua orang-orang dewasa, tanpa terkecuali. “Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki. Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi. Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri. Jika anak dibesarkan dengan hinaan, ia belajar menyesali diri. Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri. Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri. Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai. Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan”, begitu Dorothy Law Nolte telah menasihati kita, orang-orang dewasa.
Ada niat baik telah dilakukan, untuk membantu tumbuh kembang anak-anak kita dalam sebuah pementasan teater Opera Tun Fatimah, namun sekaligus yang buruk juga dirasakan oleh anak-anak kita. Sebuah insiden yang tidak pernah anak-anak kita harapkan. “Diisi penuh penuh | Dituang kenyang kenyang | Diantar sampai-sampai | Diangkat tinggi-tinggi | Yang isi tak ada hingganya | Yang tuang tak ada sudahnya | Yang antar tak ada batasnya | Yang angkat tak ada had nya | Supaya kuntum menjadi bunga | Supaya putik menjadi buah | Supaya bunga harum baunya | Supaya buah sedap rasanya”, oleh nasehat Tenas Efendi, apa yang telah dilakukan oleh orang-orang dewasa terhadap anak-anak kita adalah kerja yang dilakukan setengah-setengah. Hilang sudah kuntum kan menjadi bunga, lenyap sudah putik kan menjadi buah. Hingga bunga yang wangi tak sempat tercium baunya, buah tak dapat dirasakan sedapnya.
Saya percaya, seluruh orang-orang dewasa yang menyebabkan luka pada anak-anak kita telah berupaya untuk mengobatinya. Namun sangat disayangkan, pengobatan itu masih pada ranah keegoisan orang dewasa yang tidak habis-habisnya. Anak-anak kita tidak mengerti, tidak tahu menahu perihal tuntutan dan permohonan maaf orang-orang dewasa dan siapa yang paling bertanggung jawab. Pernyataan sikap serta poin-poin yang telah dilayangkan oleh Jaringan Teater Riau, saya kira “YA” itu harus dilakukan, Sanggar Seni Anak Kita juga memberikan dukungan atas pernyataan sikap yang dilayangkan. Namun jauh dari itu, setelahnya apa?
Ada perih luka yang segera disembuhkan melalui perspektif anak yang bisa anak-anak kita tahu dan mengerti. Ada kebahagiaan yang harus terus menerus anak-kita dapatkan, agar hal buruk lambat laun bisa menghilang tanpa bekas. Ada ketidakpercayaan terhadap kesenian yang baik, harus segera dikembalikan menjadi kesenian yang paling baik, malah. Saya membayangkan sikap bijak untuk bertemu langsung dengan anak-anak kita. Bisa bercakap langsung dengan anak-anak kita. Jangan malu dan segan untuk meminta maaf secara langsung kepada anak-anak kita. Trauma healing harus dilakukan segera. Apakah penting? Ya, menurut saya itu sangat penting. Sehingga prestasi Riau sebagai Provinsi Layak Anak 2023 ini bisa terus terjaga dan dapat terawat dengan baik.
Satu minggu sudah preseden buruk yang dialami anak-anak kita. Besok 17 Agustus, anak-anak kita akan mengikuti upacara kemerdekaan Republik Indonesia. Orang tua anak-anak kita di rumah, telah mempersiapkan pakaian terbaik. Kemerdekaan, kata yang masih abstrak bagi anak-anak kita.

Tulisan Terkait
Berita Lainnya

Penulis: Pimpinan Sanggar Seni Anak Kita

Pekanbaru, 16 Agustus 2023

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan