Syair Bulan (Catatan Cinta Prof Yusmar Yusuf) – M. Rizal Ical

Tuan pandai rangkai kiasan
Alam semesta menjadi lukisan
Tidak terkecuali pesona bulan
Sinar benderang lantun pujian

Kadang sempat tertunduk pikiran
Benarkah tuan pujangga titisan
Ilmu setinggi gunung jangkauan
Luas wawasan tanpa sempadan

Sekali terbaca langsung tertawan
Cerita bulan sungguhlah menawan
Terpukau takjub gagap perkataan
Merenung dalam menganggu igauan

Kaulah mentari kaulah rembulan
Sifat nabi senandung pujian
Penerang gelap pantul sinaran
Luput jahil terang pengetahuan

Pernahkah dengar sebuah ungkapan
Tradisi Melayu singkap ucapan
Sibak perkataan datang bulan
Seorang wanita tanda keindahan
Wahai alangkah molek bawaan
Makna sembunyi serba menyimpan
Peristiwa berulang garis suratan
Tertuang anggun elok tampilan

Bulan menuntun mengatur waktu
Gerak bumi ungkap sesuatu
Air mengalir menghilir tentu
Bukan tipuan sembarang begitu

Cahaya bulan gelora lunar
Menerpa malam membias sinar
Terpaku menatap mata berbinar
Sendiri kembara liput gelepar

Cerita Amerika memanjat bulan
Membangun alur kisah perjalanan
Meski pengelana bungkam kesaksian
Melantai bulan berpijak sandaran

Awal masa kisah dibangun
Prinsip ilmuan menjadi penuntun
Mudah percaya terbaik tegun
Ketimbang ragu terus mengalun

Tersebut ikhwal bulan terbelah
Al-Qamar sajikan untaian surah
Menggoda zaman dialog berbantah
Kemudian terdiam sambil terperangah

Kemudian teliti teroka dalil
Manusia memiliki akal kerdil
Tersebab cipta berasal kecil
Singgah buana tempat terpencil

Negara disebut tunjuk kuasa
Terkesan lagak tonjol perkasa
Seolah tegap bagai raksasa
Padahal terlihat sangat memaksa

Memang berdebat tidak mengapa
Membuka pikir menjawab kenapa
Bukan tentang sesuati siapa
Tetapi islam berkah menyapa

Ternyata kisah terbukti benar
Bulan terbelah kuasa besar
Allah hendak memberi iktibar
Al-Qur’an agung rujuk bersandar

Bulan terbelah bukti mukjizat
Rasulullah nabi pemberi syafa’at
Segala bedah kajian berkiblat
Berpegang teguh tiada sesat

Ketika bulan sinar berpendar
Menerpa dedaun percik tersebar
Insan tersesat mulai tersadar
Tasbih menguntai bibir bergetar

Musim penghujan bulan menyuruk
Jarang tampak awan memeluk
Tetapi tidak sedang merajuk
Berpeluk malam menguap kantuk

Ketika sinar bulan sirna
Nelayan terdiam kekang kelana
Bintang sepi bungkam terlena
Seakan serentak sepakat merana

Terhadap tipuan dunia berkata
Jangan silau meski seketika
Kisah bulan sebenar cerita
Bangunlah jarak bukan sengketa


Kelapapati, 01 Rabiul Awal 1443 H

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan