Syair Rindu Separuh Nyawa – M. Rizal Ical

Cinta adalah perasaan unik
Melanda hati rindu terpercik
Merajut rasa sayang diracik
Walau kadang rindu berbisik

Syair berkisah tentang asmara
Ketika datang hasrat gelora
Memendam rindu amat mendera
Menanti jumpa pelipur lara

Tidak sengaja bertegur sapa
Pertama kali saat berjumpa
Sekejap terserang penyakit lupa
Badai cinta datang menerpa

Mulailah debar menjalar hebat
Bertentang mata saling terpikat
Tersirat gelora menyentap hangat
Wajah kekasih datang berkelabat

Terasa hidup semangat membara
Sulit ungkap angkat bicara
Berpisah malah luka sengsara
Harap berdo’a bahagia kembara
Pernah sekejap terbentang jarak
Kumpul rupiah matan teragak
Membina mahligai jiwa mendesak
Supaya hidup naik beranjak

Siang malam membanting tulang
Lelah sedikit bukan penghalang
Hari bersanding terus membayang
Pakaian pengantin warna cemerlang

Walau sakit menganggu badan
Tetap bangkit melangkah pelan
Demi menggapai indah impian
Corak pelamin melambai tangan

Terkurung hutan berteman rindu
Perasaan sepi merona sendu
Zikir lembut bernada merdu
Supaya nafsu menuntun pandu

Setiap sujud berderai tangis
Membaca rindu helai berlapis
Sekuat tenaga tangan menepis
Malah menggigil nafas mengais

Mengapa terus ganggu terkenang
Bahkan waktu ingat sepanjang
Bagai menyuruh segera pulang
Sekadar menatap ungkap senang

Menahan rindu separuh nyawa
Kisah cinta mengusik jiwa
Sedang kalbu sedih sungkawa
Tiada menentu arah terbawa

Rasa tanggal ruh terbang
Rindu benar mabuk kepayang
Jikalau lautan dapat diseberang
Biarlah lemas tetap dihadang

Kepada kekasih mohon bersabar
Cobaan cinta selalu mencabar
Yakinlah bahwa hikmah menebar
Kecamuk rindu menghilang nyasar

Usah dengar hasutan orang
Galau kerap datang terkadang
Paling penting pikiran tenang
Hadapi keadaan dengan riang

Rindu menganggu ketika lena
Jika diterus membawa merana
Khayal terus membingkai kelana
Siksa mendera indah pesona

Seakan putus nafas bersambung
Menjerit jiwa lolong bergaung
Rebah sajadah memohon lindung
Godaan datang gulung menggulung

Menahan rindu menanggung sebak
Tertahan nafas membuat sesak
Bersyukur mampu kekang gejolak
Supaya bertemu semakin semarak

Rindu bukan alang kepalang
Sampai ubun mendesak halang
Ramuan hanya jeling memandang
Walau sekejap sebagai perintang

Gelap dunia kelam mencekam
Sekian lama hasrat terpendam
Berharap geram terlepas karam
Sembuh penyakit jiwa tenteram

Kelapapati, 17 R. Awal 1443 H

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan