Ratusan ribu kini jadi pengungsi tanpa tujuan,
hujan air mata jatuh di bumi, bertahun-tahun disayat keserakahan.
Hampir seribu tubuh rebah, bumi dipenuhi kabar kematian,
ratusan lagi lenyap, ditelan kabut tanpa jawaban.
Kelaparan mulai menggigit, seperti serigala di malam gelap,
penyakit merayap tanpa izin, merobek tubuh yang kian lekap.
Jangan tanya hari esok, sebab hari ini pun tak punya nama,
hanya tumpukan ngeri di dada, dan doa yang kehilangan suara.
Namun lihatlah—truk-truk sawit melintas tenang penuh percaya,
ban mereka menulis luka di tanah yang dulu bernama rimba.
Hutan yang dahulu berzikir kini tinggal abu keserakahan,
ditukar tandan-tandan rakus bernilai emas di meja kekuasaan.
Siapa tuan truk itu? Siapa pemilik kebun neraka,
yang panennya tangis, dan doanya berubah menjadi lara?
Sawit tersenyum di kota, jadi sabun dan bensin kemewahan,
sementara desa-desa terkubur dalam lumpur dan kesenyapan.
Bagansiapiapi, 09 Desember 2025.