“Setiap karya memberi jejak, meningkatkan rasa peduli,
menjadikan kita manusia berarti” (Ainy Fauziah)
“Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila
Ada banyak episode, tapi bukan sinetron. Frase itulah yang bisa menggambarkan program Merdeka Belajar yang dicanangkan oleh Kementrian Pendidikan Nasional saat ini. Dalam episode kelima belas program Merdeka Belajar ada kebijakan tentang Kurikulum Merdeka yang menjadi perhatian penulis. Kebijakan ini bersamaan dengan peluncuran platform merdeka mengajar pada medio Februari 2022 (dilansir dari kemdikbud.go.id). Salah satu aspek yang menjadi pembeda antara kurikulum merdeka dan kurikulum 2013 adalah adanya Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5).
Dalam kegiatan P5, sekolah dan guru diharapkan menyerap dan memetakan aspirasi atau minat, bakat, dan aset yang dimiliki. Dari hasil pemetaan tersebut dirancanglah sebuah proyek yang dilakukan melalui serangkaian proses hingga menjadi sebuah produk atau aksi yang nyata. Proyek seperti ini merupakan salah satu penerapan program yang berdampak pada murid. Ini disebabkan pada kegiatan P5 tersebut peserta didik akan mendapatkan pengalaman belajar baru yang akan menuntun mereka meraih “pemahaman bermakna”. Selain itu P5 mengandung muatan literasi, gotong royong, kemandirian, dan kreatifitas yang akan membuat peserta didik menginternalisasi nilai-nilai dalam profil pelajar pancasila.
Aset yang Dimiliki Sekolah
Hal yang harus diperhatikan dalam melaksanakan program berdampak pada murid dalam hal ini P5 adalah bahwa program yang dipilih berangkat dari kemampuan dan aset yang secara nyata ada di dalam peserta didik dan lingkungan sekolah. Sebagai contoh, di dalam suatu sekolah terdapat banyak peserta didik yang berminat pada seni drama dan sastra. Maka kemungkinan proyek yang bisa dilaksanakan adalah pertunjukan seni teater, monolog, atau tari. Jika di sekolah banyak sampah plastik yang tidak dimanfaatkan, maka proyek yang bisa dilakukan adalah pengelolaan limbah sampah plastik menjadi kerajinan tangan bernilai jual. Kejelian dan kreatifitas guru dibutuhkan disini agar bakat yang ada di peserta didik dapat tersalurkan dan aset yang dimiliki sekolah dapat dimanfaatkan.
Contoh proyek berbasis aset yang sudah dilakukan penulis adalah praktek ecoprinting. Proyek ini dipilih berdasarkan aset sederhana yang dimiliki sekolah yaitu daun-daunan. Daun-daunan ini diambil dari pohon-pohon di sekitar sekolah karena SMP N 7 Batam, tempat penulis mengajar, merupakan sekolah yang terletak di pulau hinterland dan mempunyai lingkungan yang masih alami.
Praktek Ecoprinting
Apa itu ecoprinting? Menurut Nurhayati,dkk ecoprinting adalah teknik cetak kain yang memanfaatkan pewarna alam. Pewarna alam ini bisa berupa daun, bunga, buah, atau benda alami lainnya yang mempunyai warna atau corak yang jelas. Cara pembuatannya yaitu dengan menyiapkan kain berjenis katun yang dapat menyerap warna dengan baik. Kemudian kita memilih daun, bunga, atau bahan alam lain yang akan dijadikan pola serta alat pemukul kecil. Daun atau bunga yang dipilih harus mempunyai kadar air yang agak tinggi sehingga ketika dipukul warna alami bahan alami tersebut akan meresap ke dalam kain.
Penuulis memilih pembuatan ecoprinting ini sebagai program yang berdampak pada murid karena aset yang paling sederhana yang bisa dimanfaatkan adalah adanya tumbuh-tumbuhan di sekitar sekolah. Selain itu pada saat murid mempraktekkan pembuatan ecoprinting, mereka juga belajar untuk bekerja sama, melatih kesabaran dan ketelatenan, serta membuka peluang untuk mendapatkan penghasilan dari hasil ecoprinting ini. Murid-muridpun merasa senang ketika mereka bereksperimen dengan benda-benda yang ada di sekeliling mereka.
Praktek pembuatan ecoprinting yang dilakukan memang belum sepenuhnya sempurna. Akan tetapi hasil yang sudah ada paling tidak sebagai awalan untuk menyempurnakannya lagi di waktu yang akan datang. Dalam pembuatan ecoprinting ini penulis mendapatkan banyak pembelajaran. Pembelajaran yang didapat antara lain ketika melakukan sesuatu harus direncanakan dengan matang. Selain itu melalui praktek ecoprinting ini guru dan murid sama-sama belajar bahwa untuk mendapatkan hasil yang maksimal kita harus menghargai proses.
Akhirnya mari kita sikapi penerapan program berdampak pada murid ini sebagai peluang dan bukan sebagai hambatan. Bahwa dengan memanfaatkan aset dan kemampuan yang dimiliki akan banyak manfaat yang diraih. Diantaranya guru dapat meningkatkan kompetensi dan kreatifitasnya. Dan tak kalah penting peserta didik dapat mengembangkan potensi serta memperoleh pembelajaran bermakna yang berguna sebagai bekal keterampilan untuk kehidupannya di kemudian hari.
Referensi
Nurhayati dkk. Pemanfaatan Pewarna Alami Teknik Eco-Printing Kain Pada Kader Tim Penggerak PKK Kecamatan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Jurnal Abdimas Satya Widyakarya (JASW). Vol. 1 No. 1 Tahun 2020.
Kurnia Nur Ainy, S.Pd, Guru SMP N 7 Batam