Mengelola Marah Sebagai Komunikasi Intrapersonal: Catatan Nafi’ah al-Ma’rab

79

Berita nasional di media sosial hari ini dihebohkan dengan pemberitaan Mendikti Saintek Satryo Brodjonegoro yang didemo oleh ASN di kantornya. Disebut-sebut sang menteri melakukan tindakan dan ucapan kasar hingga memecat staf di kantornya. Sebuah hal baru di dunia birokrasi tanah air, sekelas menteri didemo oleh ASN kantornya sendiri.

Saya tidak akan membincangkan persoalan detail kasus sang menteri, tetapi lebih kepada sumber masalah yang umum. Soal amarah dan emosi. Bagaimana seseorang mengelola emosi dalam berbagai kondisi dan suasana. Bahwa amarah dan emosi adalah sesuatu yang manusiawi, siapa pun akan merasakannya. Maka hadist Nabi mengatakan, jangan marah dan jangan marah. Namun, sebagai manusia tentulah kita akan berada pada kondisi itu. Keadaan jiwa, faktor penyebab dan hal-hal lain terkadang membuat kondisi kita ya marah. Begitulah.

Komunikasi Intrapersonal dan Pengelolaan Jiwa

Manusia secara umum melakukan dua bentuk komunikasi dalam hidupnya. Komunikasi dengan orang lain (interpersonal) dan dengan dirinya sendiri (intrapersonal). Komunikasi dengan diri sendiri dapat berbentuk berbicara kepada diri sendiri, berdialog dengan hati, bertanya pada diri sendiri, menjawab pertanyaan, memikirkan, mengevaluasi, merasakan, menafsirkan, merenung, hingga mengamati. Proses ini adalah komunikasi seseorang dengan dirinya sendiri.

Marah adalah kondisi refleks ketika seseorang melihat sesuatu yang tidak disukainya. Dalam perspektif agama, pada saat marah maka kita diminta untuk sabar, tetapi sabar mungkin tidak bisa dimunculkan seketika oleh sebagian orang. Dibutuhkan jeda untuk itu. Pada kondisi inilah seseorang bisa melakukan komunikasi intrapersonal.

Ia bisa melakukan hal-hal seperti berdialog kembali dengan hati tentang hal yang ia rasakan. Kenapa harus marah? Apa risikonya jika marah? Apakah marahnya berlandaskan kebenaran, apakah masalah akan selesai dengan marah? Dialog-dialog itu bisa dilakukan dengan mengambil jeda diam.

Berita Lainnya

Maka pada saat emosi itu datang, hal paling baik adalah diam. Walaupun ada beberapa kondisi marah memang harus diverbalkan. Biasanya menyangkut kepentingan umum dan kesalahan kolektif, agar orang tahu hal tersebut sebuah kesalahan.

Meredakan sesuatu bisa dilakukan dengan melakukan komunikasi intrapersonal yang lebih matang. Ada yang mudah ada yang tidak, ada yang cepat dianalisis oleh diri sendiri dan ada juga yang butuh waktu. Biasanya tergantung dari rasionalisasi marah dan emosi yang dilakukan.

Adapun kondisi agar proses komunikasi intrapersonal itu bisa efektif, akan lebih sempurna jika didukung dengan faktor religiusitas. Melakukan ibadah sebagai bentuk refleksi ketenangan batin akan membuat proses komunikasi bisa lebih efektif, bisa lebih berkualitas, dan bisa lebih cepat.

Jika hanya mengandalkan pemikiran dan kemampuan pribadi manusia, maka akan sangat terbatas.

Ya, komunikasi intrapersonal adalah bentuk perenungan, refleksi, dan cara bagaimana kita mengelola diri kita. Berlatih hingga berdoa agar menjadi pribadi yang pandai menjaga amarah.

Lubuk Batu Jaya, 21 Januari 2025

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan