Indonesia Sudah Lama Gelap: Catatan @rafif_amir

29

Aksi mahasiswa bertajuk “Indonesia Gelap” terus bergulir di sejumlah daerah. Esok (20/2/2025) adalah puncaknya.

Mereka membawa 13 tuntutan. Tapi hemat saya, hanya dua yang substansial. Lainnya terlalu muluk, dangkal, dan kurang tajam.

Lain kali mahasiswa perlu belajar pada mantan aktivis 66. Tritura itu fokus, menukik, dan tajam. Gak perlu ikut-ikutan gemoy seperti kabinet.

Yang mendesak saat ini adalah UU Perampasan Aset dan Perombakan Kabinet. Ini akarnya. Lain-lain nanti akan mengikuti.

Korupsi adalah penyakit yang harus dibasmi secepatnya. Tangkap semua koruptor. Miskinkan. Rampas asetnya. Kembalikan pada negara. Dengan demikian, problem efesiensi akan selesai.

Soal perombakan kabinet, ini juga mendesak. Tendang semua menteri bermasalah. Copot, ganti.

Nampaknya tuntutan ini mulai dikabulkan. Mendikti Satryo out. Reshuffle perdana dimulai. Kita menunggu reshuffle-reshuffle berikutnya.

Prabowo sudah berada di track yang benar–meski tentu tak bisa secepat kilat berganti haluan. Soal pagar laut, ia selesaikan. Anggaran IKN 14 T sudah ia blokir. Kisruh LPG langsung ia bereskan.

Hanya saja, orang-orang di sekelilingnya yang kerap jadi duri. Dan tentu yang terbesar, bayang-bayang Jokowi dengan kekuatan besar di belakangnya (baca tulisan saya sebelumnya: Prabowo Minta Diselamatkan?)

Mahasiswa harus terus bergerak dan kritis. Namun di saat bersamaan, mereka harus mendukung Prabowo untuk terus berada di jalur fitrahnya. Sebab suara-suara mahasiswa itulah yang akan menguatkan Prabowo, yang menjadi dasar kuat bagi Prabowo untuk melawan hegemoni Jokowi dan campur tangan asing. Indonesia harus berdaulat. Prabowo harus kuat.

Yang perlu dijaga, aksi harus tetap damai. Tidak anarkis. Apalagi menyulut chaos. Sebab jika terjadi, Indonesia akan lebih parah dari 98. Ada yang mengharapkan itu, untuk kemudian asing masuk, lalu tajuk “Indonesia Gelap” itu berubah menjadi “Indonesia Bubar“.

Sembari terus mengkritik dan mendorong perbaikan, kita juga perlu memaklumi bahwa kegelapan ini telah terjadi lebih dari 10 tahun. Dimulai ketika tukang kayu diangkat menjadi raja gorong-gorong, lalu ia bawa semua rakyatnya menikmati comberan.

Semua kebusukan itu diwariskan. Tentu tak mudah menyulap bau bangkai menjadi sewangi mawar. Tak mudah pula menyulap utang 8.461 trilyun menjadi nol putul.

Perlu kerja berat. Kerja bersama. Semua elemen bangsa.

Karena itu kita perlu memastikan iklim demokrasi tetap sehat. Kritik tak dilarang. Oposisi tak dibui. Aksi turun ke jalan tak dihalang.

Sampai saat ini, kita lihat Prabowo berbeda dengan Jokowi. Meski kata-kata “ndasmu” diulang-ulang demi menyenangkan Jokowi, tapi nyatanya, tak ada satu pun yang ditangkap dengan tudingan makar. Di Malang, foto Prabowo dibakar, tapi pelaku masih aman.

Ruang demokrasi yang dibuka lebar-lebar akan menjadi jalan perbaikan yang panjang, meski mungkin terseok-seok, sakit, dan melelahkan. Mahasiswa harus terus bersuara, para tokoh publik harus saling mengingatkan, semua yang mencintai Indonesia tidak boleh diam ketika melihat kerusakan.

Sebab, segala gelap yang lampau telah dimulai dari satu hal: pembungkaman.

Panjang umur perjuangan. Hidup mahasiswa!

Sidoarjo, 19 Februari 2024
Penulis buku “Keranda Revolusi”

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan