Sang Guru Itu Pun 70 Tahun, Prof. Dr. Ir. Hasan Basri Jumin, MS : oleh Husnu Abadi

33

Pengantar

Bagi mereka yang berkecimpung di dunia perguruan tinggi, angka 70 memang mempunyai arti tersendiri. Memang di dunia hakim, angka ini juga selalu dinanti, dinanti untuk menyatakan bahwa kini saatnya aku pergi. Anwar Usman mengakhiri jabatannya sebagai hakim konstitusi ketika dia berumur 70 tahun, 15 April yang lalu. Bila seseorang hakim itu pensiun maka dia tak lagi punya kewenangan menjadi hakim yang memeriksa dan mengadili perkara. Inilah bedanya dengan perguruan tinggi. Bila seseorang guru besar mencapai umur 70 tahun, maka kalau dia ASN maka dia akan mengalami masa pensiun dan negara berhenti memberikan fasilitas resminya, kecuali kewajiban pokoknya yaitu uang pensiun serta fasilitas asuransi yang melekat padanya. Namun melalui Peraturan Menteri Pendidikan Tinggi No. 52 Tahun 2025 seseorang guru besar yang telah mencapai usia 70 tahun, maka dia akan pensiun sebagai ASN namun dia diperbolehkan untuk tetap bertugas sebagai guru besar “emeritus”, bilamana perguruan tinggi memerlukannya. Tentang tugas dan kewajibannya tergantung kontraknya dengan perguruan tinggi yang bersangkutan. Predikat emeritus itu hanya berlaku untuk masa 5 (lima) tahun.

Rektor dan Penulis

Biografi Hasan Basri Jumin, lahir 17 April 1956 di Kecamatan Tambang, Kampar seorang yang awalnya merintis sebagai guru pada SMPN di Airtiris (1977) dan terakhir menjadi seorang guru besar pertanian pada Universitas Islam Riau (sejak 2002), telah ditulis dalam buku Jejak dan Langkah Lima Rektor UIR (UIR Press, 2021) dan dalam buku Sebelas Guru Besar UIR Berkisah (UIR Press,2024). Kedua buku ini ditulis oleh sebuah tim penulis terdiri dari Fakhrunnas MA Jabbar, M. Husnu Abadi, Helfizon Assyafei, Muhammad Amin, Saparuddin Koto, Yusril Ardanis dan khusus buku ke 2 ditambah seorang penulis: Idris Ahmad. Dalam kedua buku tersebut, penulisan biografi HB Jumin, ditulis oleh Saparuddin Koto.

Sebagai dosen PNS yang dimulai sejak 1989 akan berakhir masa aktifnya pada bulan April tahun ini, atau sejak 1 Mei 2026 ia akan mengakhi masa pengabdiannya, karena usia pensiun adalah 70 tahun. Walaupun demikian, insya Allah HB Jumin akan tetap bisa menyandang sebutan Guru Besar dengan tambahan predikat “Emeritus”. Sebagai seorang yang selalu fokus dalam perkerjaannya dan mampu melakukan penelitian dengan angka produktifitas diatas rata-rata dosen pada umumnya, maka tak ayal lagi beliau dipercaya juga untuk memimpin di peringkat jurusan, fakultas, universitas, serta sejumlah organisasi diluar kampus. HB Jumin memimpin universitas sebagai Rektor UIR untuk 2 kali masa jabatan yaitu sejak 2001-2005 dan 2005-2009. Dibawah kepemimpinnya, dia menyempurnakan apa yang belum bisa diwujudkan oleh Prof. Dr. T. Dahril (Rektor UIR masa 1993-2001) seperti terwujudnya program pasca sarjana UIR dan kemudian melahirkan sejumlah fakultas baru dan prodi baru serta menaikkan peringkat akreditasi secara maksimal.

Selepas melepas jabataannya sebagai rektor di tahun 2009, beliau diberi amanah oleh Prof. Dr. Detri Karya , Rektor UIR yang meneruskan estafet kepemimpinan UIR, untuk menjabat sebagai Ketua Program Doktor Kerjasama UIR –UUM, meneruskan program percepatan jumlah doktor, kerjasama dengan Universitas Utara Malaysia, di Saintok, Changloon, Kedah. Jabatan ini berlangsung sampai tahun 2015. Program yang dimulai sejak 2005 ini memang menghasilkan sejumlah doktor seperti Hamzah, Zulkifly Rusby, Nurman, Syafhendri, Hamdi Agustin, Yusri Munaf, Husnu Abadi, Zul Akrial, Zulherman Idris, Arifin Bur, Hamdani. Bersamaan dengan itu, selama 2 (dua) tahun beliau dikontrak secara khusus oleh UUM Kedah untuk mengajar dan bermukim di Kampus Sintok, Changloon, Kedah. Itu terjadi antara 2009-2010.

Dalam bukunya berjudul Studies On Somatic Embryo Genesis and Invitro Flowering of Citrus Relatives, diterbitkan oleh UIR Press tahun 2004, HB Jumin mengumpulkan sekitar 9 paper yang kesemuanya berbahasa Inggris, dimana paper itu telah dipresentasikan atau telah dimuat dalam berbagai jurnal akademis. Bila dilihat dalam Curriculum Vitae yang dimuat dalam bagian akhir buku itu maka tercatat data sebagai berikut :
1. Anggota dari International Society for Plant Morphologist, Japan Society for Biotechnology, Japan Society for Horticultural Sciences, Japan Society for Plant Breeding, ditambah lagi dengan Society for Biotech in Riau, dan Research and Development Institute of Riau.
2. Mengikuti seminar international di Jepang, Turkiye, beberapa negara di Eropa, termasuk sejumlah kegiatan di dalam negeri.
3. Mempunyai Publikasi Jurnal Internasional (9 lebih jurnal), 24 jurnal lebih pada jurnal nasional, 6 paper lebih tentang genetics dalam seminar di Riau, 9 paper lebih tentang berbagai bidang sosial, ekonomi dan budaya, 20 lebih penelitian di bidang pertanian.
4. Sebagai referee pada jurnal international seperti Fruit Journal(Mountpilier, France), dan Plant Cell Report (Illionis, USA).

Kini telah Tahun 2026, perkembangan selama 22 tahun tentu saja harus dituliskan kembali dan semakin banyak deretan buku dan paper yang telah ditulis. Contohnya dalam buku Sebelas Guru Besar UIR Berkisah, terdapat catatan sebagai berikut : Penerbitan buku-buku berjumlah 8 buah, presentasi paper pada seminar di Perancis (2017), Stockholm Swedia (2016), Barcelona Spanyol (2015), Amsterdam Belanda dan di Istanbul, Turki (2014), USM Malaysia (2012), USIM Malaysia (2011), dan seterusnya. Walaupun beliau setelah Tahun 2015 tidak mempunyai jabatan struktural, namun jabatan guru besar saja telah mengantarkan beliau mejadi dosen dalam peringkat yang sangat produktif bersama sedikit dosen lainnya. Kepiawaian dan ketekunan beliau dalam penulisan jurnal dan dan tentu saja penelitian serta tampilan dalam berbagai seminar keilmuan, memberikan seminar yang tentu saja membawa marwah UIR naik ke peringkat yang bermartabat, mengantarkan beliau menerima penghargaan khusus dari Rektor UIR semasa Prof. Dr. Syafrinaldi.

Kenangan

Pengalaman yang cukup panjang membuat beliau mudah untuk bercerita dan berbagi pengalaman. Itu diakui oleh sejumlah sahabat. Ketika masa-masa dikontrak sebagai dosen oleh UUM, dimana beliau menempati rumah dosen tamu. Bila para mahasiswa program doktor ke UUM untuk menemui penyelia (promotor), maka beliau selalu datang ke tempat asrama mahasiswa (kolej) mengendarai mobil Mersi (merah sikit). Selama 2 tahun mobil ini berjasa membawa kami ke berkelana di sekitar kampus sampai ke kota kecamatan, Cangloon (sekitar 10 km dari kampus). Berbagai ragam kuliner juga sering dicuba, dan tentu saja khasnya adalah masakan Tom Yam + sayur khailan ikan masin + telur goreng dadar ataupun sop ekor (buntut). Sesekali kami dibawa ke Bukit Kayu Hitam, wilayah perbatasan Malaysia dengan Thailand, yang juga terkenal dengan restorannya. Selama 2 tahun menjadi dosen kontrak di UUM beliau setia menjaga semangat dosen UIR yang kuliah doktor. Yang sangat dirasakan hangat adalah ketika beliau sempat mengawal dan mengantarkan Hamzah, dosen FAI UIR, mengikuti viva (ujian promosi). Sejak awal sampai akhir beliau mengikutinya, yang tak terlalu lama, tak sampai 60 menit. Bagi beliau, itulah dosen pertama UIR yang selesai memperoleh doktor di UUM. Artinya usaha beliau (UIR) mulai menampakkan hasil. Itu terjadi pada Tahun 2010.

Zulkifli Rusby, punya cerita lain, termasuk pengalamannya di UUM Malaysia. Penyelianya selalu menuntut mahasiswanya untuk lebih maju, lebih banyak membaca, lebih banyak ikut seminar, agar level doktor betul-betul tercapai. “Saya hampir putus asa. Mungkin lebih baik saya mundur saja dari program doktor di UUM ini. Sepertinya tahapan demi tahapan telah yang saya lalui, tapi terasa saya jalan di tempat”. Keluhan tadi sampailah ke telinga Pak Hasan. Tentu saja harus dicari jalan keluarnya. Salah satunya adalah dengan menceritakan pengalaman beliau ketika studi di Jepang, sama-sama mengejar doktor. Lebih banyak lagi tantangan di Jepang. Di samping keharusan ada tulisan yang dimuat di jurnal international, juga sikap promotor yang antagonistis dan selalu menyepelekan mahasiswa. Namun Pak Hasan tak kenal ampun, terus maju dan maju. Bahkan kerja lembur di laboratorium melebihi rata-rata. Dari pagi sebelum labor buka sampai malam hari ketika mahasiswa semua dah pulang. Kegigihan yang pantang menyerah ini yang akhirnya membuat hasilnya manis. Cerita ini yang membuat Rusby berpikir balik. Ia bertekad tak akan pulang ke UIR, sebelum gelar Ph.D. di tangan. Alhamdulillah.

Guru Besar Baca Puisi

Pada tahun 2021, ketika UIR menyambut ulang tahunnya yang ke 59, Rektor UIR Syafrinaldi menggagas agar ada acara Guru Besar baca puisi. Saya dan Fakhrunnas MA Jabbar, dosen perikanan yang penyair, ditunjuk sebagai koordinator acara. Pembaca boleh memilih puisinya sendiri berdasarkan teks puisi yang disediakan, atau membaca puisi ciptaannya sendiri. Semua guru besar akhirnya bersedia membaca puisi. Mereka dipersilahkan datang ke panggung yang telah dipersiapkan yang berada di lantai IV gedung rektorat, dimana latar belakang panggung telah ditata sedemikian rupa, disertai foto besar dari para pembaca itu. Beberapa orang tidak bisa hadir di panggung namun bersedia membaca puisi berdasarkan rekaman di tempat masing-masing. Sebagai contoh Prof. Thamrin membaca puisi di tengah taman kebun pertanian wisata (agro wisata), di belakang Gedung FKIP. Tinggal satu guru besar yang belum bersedia membaca puisi. “ Saya sampai mati pun tak akan mau membaca puisi “ kata pak Hasan. Saya dan Fakhrunnas akhirnya mencoba mendekati dan membujuk beliau. Namun beliau sangat istiqomah dengan keyakinan dan kepercayaannya ini. Akhirnya kami yang membawa sebuah puisi dari Ibrahim Sattah, seorang penyair Riau, berjudul Di Kaki Jakarta, sebuah puisi pendek, menyerahkan pada beliau untuk dibaca dalam hati. Lalu kami tanyakan padanya, apa kesan Bapak dengan puisi pendek ini? “Baik puisi ini, kita sekarang ini seperti yang disuarakan oleh Ibrahim Sattah”.

Puisi pendek itu diambil dari buku HAITI halaman 65, lengkapnya berbunyi begini :

JAKARTA

Inilah
Terimakasihku
Indonesia
Kuucapkan dari hati yang kanan
Sebelum selamat tidur sebelum aku
Tiba-tiba
Merasa malu
Mengenangmu

Selamat Ulang Tahun Pak Hasan
17 April 1956-2026

Penulis adalah dosen Fakultas Hukum UIR, dan pernah menjabat Warek 3 (2001-2005) ketika Rektor UIR dijabat oleh HB Jumin. Mendirikan perkumpulan penulis SATUPENA lewat Kongres Sarupena di Solo 2017, dan kini sebagai Penasehat Utama Perkumpulan Penulis SATUPENA Wilayah Riau

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan