

Kepada Chairil Anwar
Tak adalagi pelabuhan kecil
yang kau sampaikan
kepada angin, ombak laut
dan burung senja
yang terus menyanyi, terus menyanyi
di derai cemara
tak ada lagi perahu yang merapuh
pada pantai yang remuk runtuh
pada jejak kita seperti belangkas
disapu ombak tiada bekas
Mari menari dara asmara!
Sahut Amir si musafir lata :
“barangkali mati di pantai hati
gelombang kenang membanting diri”
Engkau pun tegak termangu depan pintu
menghardikku: Jangan tantang lagi aku
Nanti darahku jadi beku!”
Dalam temu singkat
ada pesan tercatat
yang tak bisa diremehkan:
permusuhan, perasaan rindu, dan penjahat
kita hidup pada abad yang berlari
berlari hingga hilang pedih perih
pada pantai yang keempat
perahu usia bisa mendekap.
Medan, 31 Januari 2025
Nocturno
Pada surat kepercayaan gelanggang
tahun sembilanbelas empatpuluh lima
“kita hidup seribu kilo meter per jam
Aku mau hidup seribu tahun lagi”
( 1945+1000 = 2045)
Kini kami hidup di era duaribu duapuluh lima
masih adakah harapan untuk duapuluh tahun lagi
di tengah gelombang globalisasi
merayakan amanat kepercayaan ini
yang kini hampir menepi?
Medan, 31/01/2025
Persetujuan dengan Bung Chairil
Kita siap sedia
Menjaga negara
Menjaga bangsa
Kita memiliki kitab Indonesia
Di bawah Bendera Revolusi
Di bawah Lindungan Kakbah
tapi kita juga punya literasi
Di bawah Naungan Korupsi
yang menggerogoti negeri ini!
Medan, Januari 2025
Bertemu Chairil Anwar
di pinggir sungai Deli dan pepohonan bestari
di rumah tersembunyi
Ia menulis sajak, berbini dan beranak
Di jalan Mongonsidi , ia mengisap rokok
dan bertanya: ,” jam berapa sekarang?”
ada orang berdebat, bagaimana menulis sajak
Dia menjawab, “sebuah sajak yang menjadi adalah
sebuah dunia.”
Ia menjadi penting bukan panjang pendeknya,
tapi kadar dan derajadnya”
kami jalan sama sebelum berpisah
ia menyatakan kerja kesenian
membuat kita hidup berterus terang
“ingat kerja belum selesai
belum apa-apa”
Medan, 2025
Mereka yang Terbuang
“Aku ini binatang jalang.dari kumpulannya yang terbuang”
tak ada dua jagoan dalam satu gelanggang
mereka dipaksa saling mengalahkan
demikian kata hikayat
demikian tercatat
berabad-abad
Medan, 2025
Assoc Prof. Dr. Shafwan Hadi Umry, lahir 27 Januari 1951 di Bedagai Kabupaten Serdang Bedagai Sumatra Utara. Menamatkan pendidikan di SD (1963), SMP (1966), SMA (1969), IKIP Negeri Medan Sarjana Muda Bahasa Indonesia (1974), S-1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP Negeri Medan (1983) kemudian S-2 Prodi Linguistik USU (2008), S-3 Prodi Linguistik Konsentrasi Wacana Sastra (2014). Instruktur nasional PKG bahasa Indonesia (1988-1990). Mengikuti Program Studi Pengajaran Bahasa di Universitas Macquarie Sydney Australia (1992) Kabid Kesenian Kanwil Depdikbud Sumatra Utara (1993-2000), Kepala Balai Bahasa Sumatra Utara (2001-2006). Kepala Taman Budaya Medan (1998). Setelah purnabakti selaku dosen menjadi gelandangan profesional. Kadang menetap di Oman tempat tinggal anaknya mengajar dan terkadang di Medan.