Generasi Baru Penulis ‘Putra Langit’: oleh Kurniawan Junaedhie

82

Diam-diam, selama hampir dua dekade terakhir, telah lahir Generasi Sastra Millenial. Mereka adalah kaum muda penulis sastra berusia 18 sampai 40-an tahunan. Cirinya, IT-addict, punya kecerdasan enterpreneurship tinggi, punya kebebasan dan kemandirian otentik dalam kreativitas, serius, serta dikenal amat kritis. Nama-nama mereka umumnya juga jarang atau malah tak pernah muncul dalam hiruk-pikuk perbincangan di grup-grup Whats App, juga tak pernah disebut dalam percaturan sastra mainstream. Bahkan nama-nama mereka kerap luput dikutip oleh para penulis buku-buku sejenis Apa Siapa Sastrawan Indonesia, meski dalam kenyataannya nama-nama mereka amat mudah dilacak di laman pencarian Google.

Mereka seolah juga tak butuh pengakuan/validasi kritikus sastra, peresensi, dokumentator atau para redaktur sastra media massa untuk menjadi seorang penulis, baik sebagai penyair, cerpenis dan atau novelis. Mereka menulis apa adanya, tanpa beban sama sekali, termasuk terhadap apa yang disebut ‘kanonisasi sastra Indonesia’ atau ‘sejarah sastra Indonesia’. Nama mereka dikenali justru karena ‘prestasi’nya memenangi banyak sayembara dan sejumlah anugerah sastra, di dalam maupun di luar negeri.; atau bukunya laris manis di pasaran.

Arkian, ketika seseorang menuding generasi milenial ini tak menyukai buku, Bernard Bartubara, salah seorang di antara sastrawan milenial itu, langsung meradang. “Kami generasi digital, masih membaca buku, hanya saja dengan cara yang baru,” katanya di laman blognya.

Bara, –begitu ia biasa disapa– kelahiran Pontianak 9 Juli 1989, adalah pembicara di Makassar International Writers Festival 2013, penulis terpilih Ubud Writers & Readers Festival 2013, dan pembicara di Asean Literary Festival 2015. “Produk sistem digital tidak hanya ‘cebong dan kampret’, tapi juga penulis-penulis muda yang haus bacaan dan menulis dalam format-format baru, meraih pembaca baru,” sambungnya.

Jelas. Karena buku bagi mereka memang bukan lagi buku fisik, berupa lembaran kertas yang dijilid, tetapi buku yang berwujud berkas digital. Toko buku pun, bagi mereka, bukan lagi ‘toko buku’ yang biasa kita kunjungi setiap hari pada jam buka, kecuali hari Minggu dan hari libur, tetapi sebuah layar peranti digital, yang bisa mereka akses selama 24 jam dan 7 hari dalam seminggu.

Mereka juga tak pernah terkendala oleh ada-tidaknya toko buku, perpustakaan atau koleksi buku-buku fisik sastra terjemahan. Mereka juga merasa tidak penting untuk datang ke TIM, agar divalidasi sebagai sastrawan. Tapi dengan gajet di tangan, mereka justru merasa lebih mampu, lebih bebas dan lebih leluasa mencari pergaulan baru, bacaan baru, membaca buku baru, sekaligus otomatis mampu membuat tulisan-tulisan dianggapnya lebih bermutu. Tak aneh, bila mereka lebih friendly dengan nama para pengarang kaliber dunia seperti Gabriel Garcia Marquez, Yevgeny Zamyatin, JK Rawling, Roberto Bolanõ, Orhan Pamuk, Haruki Murakami, dan lain-lain, –termasuk Abdullah Harahap— dibanding, misalnya pada nama-nama seperti –mohon maaf– Marah Rusli, Amir Hamzah atau Sutan Takdir Alisyahbana.

Kami setiap hari pegang handphone dan kami masih membaca. Kami main Twitter, Instagram, sesekali ikut arus perdebatan yang tidak perlu, tapi kami juga tidak berhenti membeli buku,” kata Bara yang tadi.

Berita Lainnya

Zen Hae, penulis, meyakini, generasi milenial ini memang bisa membaca karya sastra apa saja, tak terkecuali dalam bahasa Inggris dan bahasa asing lainnya. “Sepanjang menguasai bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya -ditambah akses internet yang tanpa batas- mereka akan dengan mudah mengakses karya-karya sastra asing, yang dahulu hanya mungkin tersedia dengan mengandalkan terjemahan Indonesia,” lanjutnya seperti dikutip dari laman BeritaTagar.

Eka Kurniawan, 43 tahun, yang lebih suka bermain blog daripada ikut bersosmed adalah contoh sastrawan millenial yang namanya masuk dalam jajaran sastrawan dunia. Karya-karyanya, terpilih sebagai nominator Man Booker Prize Award, –penghargaan bergengsi bagi penulis dunia– dan meraih World Readers Award. Ia juga disebut-sebut sebagai representasi penting dari sastra Indonesia murakhir dan bahkan sastra Asia dalam beberapa tahun ke depan. Mendiang Indonesianis Benedict Anderson malah pernah menyebut Eka sebagai “the next Pramoedya Ananta Toer.

Selain nama-nama di atas, ada sederet nama lain yang bisa mewakili generasi digital ini, antara lain, –untuk tidak menyebut semua nama– adalah: Mario Lawi, Faisal Oddang, Dewi Michellia Kharisma, Rio Johan, Norman Erikson Pasaribu, Aan Mansyur, Andina Dwifatm, Prischa Aswarini, Fariq Alfaruqi dan Areispine Dymussaga S. Miraviori, Dea Anugerah, dan Zigy.

Sastra terasa berubah banyak. Para penulis generasi milennial itu seakan tak hanya menghapus jarak antara sastra tinggi dan sastra rendah tetapi juga mendekatkan sastra dengan pembaca. Di tangan generasi digital ini, sastra bukan lagi menjadi sesuatu yang seram, ruwet dan sakral, tetapi justru menjadi ‘sesuatu yang menyenangkan sekaligus menggairahkan.

Anak-anak itu seperti makhluk baru yang lebih genuin, seolah-olah ada pengasuh yang lain yang tidak berada di bumi,” ujar Emha Ainun Nadjib, budayawan, dalam sebuah diskusi di Jakarta. Emha juga menyebut mereka sebagai kaum muda yang seakan-akan merupakan ‘putra langit’, bukan anak-anak yang dibesarkan oleh tata nilai kepengasuhan di bumi. Selama hampir dua dekade belakangan ini, menurut Emha, generasi sastra baru ini menciptakan ruang-ruang sastra sendiri, tanpa fobi, sentimentalitas atau penolakan terhadap ruang-ruang sastra yang telah ada sebelumnya, yang sangat berbeda formula sosialisasinya. “Mereka menampilkan optimisme sastra yang tidak tersangka-sangka, merekahkan harapan-harapan kebudayaan dan kemanusiaan melalui keasyikan sastra yang berbeda dari generasi-generasi sebelumnya.

Sastrawan Eka Budianta, mengamini. “Masyarakat literasi kita sudah berubah. Dulu sumbernya pemerintah dan berlangsung formal, misalnya penerbit pemerintah dan forum resmi. Sekarang pasar lebih bebas, komunitas sastra juga bebas. Tidak berurusan lagi dengan otoritas. Tidak terdengar lagi redaksi atau kritikus bacaan. Semua berjalan leluasa.”

Kita memang tak lagi punya alasan untuk khawatir pada masa depan susastra Indonesia,” sambar Seno Gumira Ajidarma.Pengarang muda Indonesia dewasa ini dalam kondisi baik-baik saja. Dalam berbagai penjurian dan kurasi untuk seleksi, saya kerap merasa minder dengan kecanggihan berbahasa para penulis muda ini,” kata Seno.

(Kurniawan Junaedhie, pernah dimuat di Majalah Sastra MAJAS 2020)

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan