Sikap Overprotektif Orang Tua dan Imbasnya Terhadap Anak: oleh Syamsul Bahri

26

Overprotektif adalah istilah yang sudah populer dan sering dipergunakan dalam sebuah hubungan, baik itu hubungan rumah tangga atau pun hubungan orang tua dan anak. Overprotektif sendiri berasal dari bahasa inggris yang berarti terlalu melindungi. Overprotektif bisa disinonimkan dengan posesif. Overprotektif ini biasanya sering terjadi antara hubungan romantis orang tua dan anak. Hal itu bisa terjadi karena terlalu sayangnya orang tua terhadap anak. Sehingga terkadang orang tua melakukan pembelaan buta terhadap anaknya.

Salah satu contoh perilaku overprotektif dapat kita saksikan dalam sebuah video tentang orang tua yang terlalu berlebihan saat membela anaknya yang melanggar aturan sebuah lembaga pendidik (Pondok Pesantren) beberapa bulan yang lalu. Dalam video itu sang ibu tidak terima karena anaknya dihukum dengan cara dicukur rambut anaknya sampai gundul. Padahal pihak pesantren melakukan hal itu karena anak sang ibu ketahuan melanggar aturan pesantren yaitu merokok, dan pelanggaran itu sudah sering dilakukan. Menurut pihak pesantren aturan itu sudah disosialisasikan kepada orang tua. Tampak dalam video yang beredar luas itu sang ibu dengan arogannya melakukan intimidasi terhadap pengurus pondok pesantren yang berada di Pekanbaru Riau. Bahkan sang ibu sempat mengancam pengurus pesantren untuk memviralkan kejadian tersebut. Sang ibu juga sempat menyebut bahwa suaminya adalah seorang anggota kepolisian.

Tujuan sang ibu untuk memviralkan dan menyebut bahwa suaminya adalah seorang aparat, tentu untuk menekan pengurus pesantren agar gentar dan mungkin harapannya bersedia untuk meminta maaf. Tapi, di luar dugaan, pengurus pondok pesantren tersebut tidak gentar sedikit pun, bahkan sang ustaz mempersilakan untuk memviralkan dan melaporkan mereka ke pihak yang berwajib. Bahkan dengan tenang sang ustaz memberikan ultimatum, agar sang ibu membawa pulang sang anak untuk dididik sendiri di rumah.

Kejadian seperti di video yang viral di atas sebenarnya sudah sering menimpa suatu lembaga pendidikan. Tentu kita juga tidak akan lupa beberapa kejadian arogansi yang dilakukan orang tua terhadap lembaga pendidikan. Padahal jika mau berdiskusi secara baik-baik tentunya tidak akan terjadi perselisihan antara orang tua dan lembaga pendidikan. Sikap orang tua yang overprotektif dengan masalah anaknya tentu akan berpengaruh terhadap psikologi sang anak. Penulis tidak bermaksud melarang orang tua untuk membela anak, namun akan lebih baik jika pembelaan orang tua terhadap anak dilakukan secara proporsional dan profesional. Artinya orang tua wajib melindungi anak, jika memang sudah dianggap di luar batas kesesuaian.

Psikolog Anak, Remaja, dan keluarga Rosdiana Setyaningrum, menyebut orangtua kerap tidak menyadari campur tangannya dalam masalah anak. Di mana orangtua selalu menyelesaikan setiap masalah yang dilakukan anaknya. Padahal, itu adalah bentuk overprotekif dari ketidakinginan orangtua jika anaknya terjebak dalam masalah. Terkadang orangtua melakukan hal tersebut tanpa menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi pada anaknya. Bahkan beberapa orangtua tetap membela anaknya, meski terbukti telah melakukan kesalahan. (Kompas.com)

Rosdiana menambahkan dampaknya anak bisa jadi semena-mena, tidak punya empati terhadap orang lain, dan tidak mengerti akibat. Anak yang merasa selalu dibela orangtuanya jadi merasa bisa melakukan apa saja, karena orangtua akan selalu membelanya. Dia juga jadi tidak memiliki empati, karena tidak pernah merasa kesulitan dan tidak pernah menerima konsekuensi atas kesalahannya. Anak juga menjadi tidak mengerti akibat, karena semua konsekuensi kesalahannya ditanggung oleh orangtuanya. Akibatnya, nanti anak bisa melakukan banyak kesalahan yang tidak perlu dan semena-mena pada orang lain. (Kompas.com).

Dari beberapa sumber yang ada, sikap overprotektif orang tua terhadap tidak ada manfaat yang positifnya, bahkan semuanya berdampak negative terhadap anak. Overprotektif dari orang tua justru dapat menghambat perkembangan sosial, emosional dan juga kemandirian dari anak. Sikap orang tua yang terlalu melindungi anak justru dapat menciptakan ketergantungan yang tinggi, rasa takut terhadap kegagalan, serta kesulitan dalam hal bersosialisasi.

Dalam Jurnal Stikes Yarsi Pontianak, Psikolog, Dwi Surya Purwanti, M.Psi menyebutkan anak yang terbiasa hidup dengan pola asuh overprotektif kelak akan tumbuh menjadi anak yang manja. Anak tidak akan bisa mandiri. Anak tidak bisa bergerak bebas untuk mengekspresikan dirinya, hal yang paling menonjol pada anak yang mendapatkan asuhan overprotektif tak dapat bersosialisasi dengan baik. Anak juga akan menjadi egois, sulit berbagi dengan orang lain, dan cenderung menjadi anak yang dependent. Dwi menyatakan perilaku ini akan berlanjut hingga anak beranjak remaja. Saat remaja, anak akan semakin erat dengan penyimpangan pada penyesuaian dirinya. Dimana saat remaja ruang lingkup sosial anak semakin luas.

Selain dampak di atas, pola asuh overprotektif juga bisa membuat hubungan orang tua dan anak menjadi renggang saat ia beranjak dewasa. Hal ini mungkin karena anak yang diasuh secara overprotektif ingin mendapatkan kebebasan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Jadi kesimpulannya segala sesuatu yang over atau berlebihan akan berdampak negatif.

Syamsul Bahri, Kepala MTs Al-Hidayah Toboali

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan