Puisi-Puisi Aisyah Muhammad

43

๐—•๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐—ท๐—ฎ๐—ฟ ๐— ๐—ฒ๐—ป๐—ท๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ ๐—ฆ๐—ฎ๐—บ๐˜‚๐—ฑ๐—ฟ๐—ฎ

kukira tumbuh dewasa
adalah bebas tanpa batas
terbang ke langit lepas

ternyata takdir memahat labirin waktu
tempat mimpi-mimpi membeku
satu per satu ekspektasi luruh
sementara tanggung jawab dituntut utuh
tangis menyeret keluh
sepi bersemayam di tengah riuh

di ujung senja jingga larut perlahan
aku terdiam di tepi lautan kenangan
riak-riak langkah telah dijejakkan
namun ribuan tanya
tak kunjung menemukan jawaban

detik demi detik menelan kecewa
pahit mendekam di dada
perih menetap di telapak doa

ya, begitulah hidup
belajar menerima
rela menjadi samudra
menampung ribuan sungai suka dan duka
lalu memeluk diri sendiri
tanpa menyisakan benci

Kubu Raya, 24 Juni 2026

 

๐—ฅ๐—ฎ๐—ต๐—ฎ๐˜€๐—ถ๐—ฎ ๐—ช๐—ฎ๐—ธ๐˜๐˜‚

sebuah pohon tinggi menjulang
ranting-ranting meliuk-liuk
diterpa angin
helai-helai daun gugur
satu dahan rapuhnya patah
meninggalkan rindang kenangan

kita acap kali merasa mahir
padahal terlalu buta mengeja makna
rahasia waktu siapa yang tahu
mungkin esok akar tetap kuat menopang denyut kehidupan
atau justru tumbang di ujung musim penghujan

Kubu Raya, 25 Juni 2026

 

๐—๐—ฒ๐—ท๐—ฎ๐—ธ ๐— ๐—ฎ๐˜€๐—ฎ ๐—Ÿ๐—ฎ๐—น๐˜‚

aku tak sempat bertanya apakah dewasa
sebahagia bermain hingga senja menepi
seceria berlari-lari di pematang sawah
sembari mengusir burung-burung yang mematuk padi
segesit menyerok ikan-ikan di parit
saat musim kemarau tiba

aku tak sempat bertanya, apakah dewasa
setakut pergi ke kamar mandi tengah malam jaraknya belasaan meter di belakang rumah dindingnya terpal tanpa atap
di bawah pohon nangka

Berita Lainnya

Abhinaya Kita: Puisi Aviv Jalali

aku tak sempat bertanya tentang kedewasaan
yang ku ingat banyak cerita dalam jejak masa kecil
suaranya menggema dalam ingatan
kenangan indah yang tak pernah terulang

kini aku tengah menakar hidupku dalam sunyi
tak lagi bertanya perihal tawa
pun tangis yang kerap menyiksa
cukup tidak gila
itu saja

Kubu Raya, 26 Juni 2026

๐—ฆ๐—ถ๐—บ๐—ฝ๐˜‚๐—น ๐—ช๐—ฎ๐—ธ๐˜๐˜‚

kita pernah mengikat simpul waktu
setelah percakapan khidmat bersama Tuhan
lalu menyusuri jalanan lenggang
sebelum fajar benderang
satu dua kendaraan berlalu laju
derunya menyentak hening

kata-kata mengikuti derap kaki
ciptakan harmoni
kita akan menabur cahaya
di sepanjang jalan hidup ini
ikrar kudus tersemat dalam erat jemari

lebih dari satu darsawarsa
memori tak terulang kembali
langkah tergesa-gesa di pagi buta
sejak kelahiran anak pertama ke dua dan ke tiga

bergantian menjaga kompor di dapur
agar nyalanya lebih terang dari kenangan
sebab celoteh riang saat perut mereka kenyang
lebih berarti dari ingin kita sendiri

Kubu Raya, 29 Juni 2026

 

๐—ฆ๐˜‚๐—ฎ๐˜๐˜‚ ๐—ฆ๐—ฎ๐—ฎ๐˜ ๐—ก๐—ฎ๐—ป๐˜๐—ถ

Kelak kita mesti berpisah
Aku pergi lebih dulu atau dirimu
Sebab habis waktu bercinta
Anak-anak sudah dewasa

Air mata tetap hangat
Yang dingin hati siapa
Akumengantarmu atau kaumengantarku
Derita berkuasa

Lancang merancang sabda
Kita selalu bersama
Dari awal pintu terbuka
Sampai tertutup sempurna
Sebab tak ada rumah tanpa kita berdua di dalamnya

Kubu Raya, 11 Juli 2026

 

Aisyah Muhammad, seorang penulis kelahiran 1992 yang berdomisili di Kubu Raya, Kalimantan Barat. Ia adalah penikmat senja dan hujan, dua hal yang mengajarkannya bahwa keindahan sering hadir dalam bentuk yang sederhana. Kecintaannya pada dunia literasi membawanya menekuni puisi dan prosa reflektif, dengan tema-tema yang dekat dengan kehidupan, keluarga, kehilangan, cinta, dan nilai-nilai spiritual. Baginya menulis adalah cara mengabadikan waktu, merawat kenangan, dan menyampaikan doa melalui rangkaian kata. Setiap karya lahir dari keyakinan bahwa tulisan yang tulus akan selalu menemukan rumah di hati pembacanya. Karya-karyanya terkumpul dalam beberapa buku antologi juga di muat di media. Ia bisa dihubungi di Fb Aisyah Muhammad dan Ig aisyah_muhammad03.

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan