

Jangan pernah engkau usik rasa ini,
karena ia tak akan pernah padam,
meski badai godaan datang silih berganti.
Rindu ini mengusik sunyi
Berkelindan direlung dada,
namun tak pernah kuasa kutepis.
Ia hadir tanpa permisi,
menyapa setiap jeda,
menghidupkan kenangan yang tak pernah
benar-benar pergi.
Rindu ini terlalu dalam untuk sekedar
diungkap dengan kata.
Ia hanya mampu dipahami…
Oleh hati yang setia menunggu.
Maka biarkan ia tinggal
menjadi do’a yang diam,
menjadi harap yang tak pernah usai,
hingga waktu mempertemukan
Atau keabadian menguatkan rasa.
Rindu ini takkan pernah usai,
sampai waktunya kita akan dipertemukan.
Pekanbaru, 6 Agustus 2026

Yulima Ozeni Yusnita seorang Penyuluh Agama Kementerian Agama Kota Pekanbaru Menjadikan menulis sebagai bagian syiar dakwah untuk menebarkan kebaikan dengan untaian nasehat. Puisi ini ditulis ketika perasaan rindu membuncah kepada Rasulullah Saw. Dan semoga menjadi aksi di hadapan Allah nantinya. Menikah dengan Akmal Abdul Munir dan karuniai 6 orang anak.