Puisi-Puisi Muslih Marju

4
Sumber: Pinterest

Resah Sisa

Resah-resah sisa bercampur kopi dan lagu-lagu
anak remaja yang mengisi malam minggu
dengan obrolan yang jauh dari intrik
politik membekas di dada

Tangan-tangan itu sesekali membelai
dada dan menimbulkan was-was untuk ke barat

Entah mana arti perjuangan atau arti perselingkuhan?
bekasnya mengganggu dada tak
bisa ditawarkan dengan lagu
dan tawa anak-anak ini.

Angin mendesir dengan cemas menghitung
hari kapan selesai kapan merapat

Entahlah…hanya satu pilihan: hadapi dengan berani!

Tulungagung, 2026.

 

Lompatan Angka

Angka melompat-lompat dari kotak dari kolom. Angka liar oleh tangan atau injakan kaki. Angka yang guling-guling ke tanah. Angka yang keluar kontrol. Angka berwujud huruf. Angka rupiah. Angka kursi.
Ketika satu persatu bermain dengan angka. Angka-angka yang diperkosa dan digiring kepada deretan nama. Dan nama-nama dengan perut gentong. Melahap semua angka-angka dengan mulut bertaring angka.

Tulungagung, 2026

Guru-Guru Itu Hanya Perempuan

Guru-guru itu hanya perempuan. Tiap pagi datang ke sekolah membawa kabut yang sengaja ditaruh di dada dan kadang dipucuk pantat. Yaa…itulah perempuan. Kabut kadang menipis kadang menebal. Jika terlalu tebal, air mata mengalir ke buku pelajaran. Ketika murid-murid membaca terdengar tangis kecil bercampur bacaan yang sengaja dikeraskan.
Guru-guru itu hanya perempuan. Suaranya membekas di dinding, lantai, jendela dan wajah-wajah. Aku hanya bisa meraba dinding di sore hari dan kurasakan dinding basah dengan perempuan. Apakah dinding tercipta sebagai perempuan?
Guru-guru itu hanya perempuan. Saat bercanda dengan tawa sedikit ditekan dan gigi-gigi yang menua, muncul kalimat separuh laki-laki. Laki-laki yang dicandakan hanya separuh. Namun tak ada nama yang disebut.
Guru-guru itu hanya perempuan. Berjuang dengan nada-nada lawas. Kembalikan suaraku.

Tulungagung, 2026.

Berita Lainnya

Duri

Mata mawar hanya bisa melihat duri
tangkai tak berduri berlalu
selang-selang menjulur pada rindu
patah terperangkap tangkai berair
lantas!
teratai-teratai mengapung mengamini kepompong yang tidur?
tidur!
kepompong itu hanya menawar waktu
agar lepas segala pita hitam
yang melilit tubuh rapuh
tapi tak mengapa
ada angin di sana
siap memakan satu persatu kulit dan kenangan
ah tidak!
tak ada kulit tak ada kenangan yang ada hanya air dan tentu saja embun
air dan embun digagahi terik mentari yang sinis
menguap!
tak apa dia akan tertangkap awan
awan menangkap dengan mendung dan membanting di tengah hujan badai
ia suka hujan apalagi badai
suka hujan? hujan itu yang akan menghapus air dari celcius
suka badai? badai itu yang menelan embun menjadi duri
aku juga suka duri
dan duri itu yang kini kupelihara darimu.

Tulungagung, 2026

 

Istrimu Mana?

Istrimu mana?
“jangan kau tanya bunga mekar,
dia selalu mekar di hati seribu lembah,
dan wanginya telah menjaga
sungai lembah bermekaran,”kujawab sesingkat matamu berkilat.
Maafkan jika aku adalah bangkai, boleh?
“aku sudah membangun tembok.”
Tegakah aku jadi cermin tanpa rupa?
“aku enggan berbagi cermin.”
cermin enggan berbagi
cermin terbuntal bantal
celup cermin itu pada malam-malam liar
agar air dari sungaiku bisa mencuci cerminmu.

Tulungagung, 2026

 

Dan Pada Subuh

Dan pada subuh
kutasbihkan savanamu
mengunci setiap rumput
hingga temu sebuah lorong
tempat kau menyimpan segala nasib
bergantung di akar rumput kuning.

Dan pada subuh
kutalbiskan setan bersavana
hening gigit resah bertanduk
resap pahit daun embun berklenyit
bertubi bertubir berturbin.

Dan pada subuh
kucium anus malam
bertandang segala kotoran di hidung
meraba masa jalan tegak.

Dan pada subuh
jarak dada dan lambung
terbelah situs bergelambir
lendir pandir benthir senthir.

Dan pada subuh
sudut mata mengekor rintih kabut
dosa tertumpuk sela gerigi mata
angka terganjal dua mata
berharap luruh dengan istighfar.

Dan pada subuh
Angin hitam menggigit tulang
Bumi kurus melipat diri
Gunung santun berdehem gemas
Laut tidur mengigau napas akhir

Dan pada subuh
Langit berangan bumi hijau
Bumi bermimpi langit biru
Hijau dan biru mitos yang ragu

Tulungagung, 2026

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan