Di Persimpangan Keyakinan
Bogor sejuk dengan tetesan hujan
Teduh seperti tatapan matamu
Kebun teh titipkan rasa pada pucuknya
Menyembunyikan rahasia manisnya cinta
Di persimpangan Jalan Raya Puncak
Degup turut bersemayam
Matamu rapalkan mantra
Hatiku terpaku dan terpikat
Malam memecah sunyi
Bayangan wajahmu hiasi hatiku
Entah sejak kapan
Namamu jadi tokoh utama setiap berdialog dengan Tuhanku
Pagi malamku jadi pengganti tasbihku
Bolehkah aku terlibat dalam hidupmu
Walaupun hanya seperti kisah Zaenab dan Abu al-Ash
Saling mencintai dan menunggu
Hingga bersatu dalam keyakinan yang sama
Palu, 22 April 2026
Melepas Separuh Cinta
Sore itu
Suratmu menatapku
Stempel lilin sewarna mawar
Dan namamu terpahat di atasnya
Selembar foto Pantai Parangtritis
Senja merangkul dua jiwa yang beradu
Merakit perahu di dermaga kasih
Karam oleh gelombang cinta
Yogyakarta masih mencintaimu
Malioboro tetap setia menungguku
Ragaku tersisihkan
Dayungku telah patah
Kini, jemarimu genggam dayung baru
Tanggalkan perahu yang goyah
Memilih bahu baru untuk bersandar
Nikmati senja menjemput malam
Aku lepas separuh cinta yang terbelah
Dan rasaku hanya sanggup menggantung buta
Menepi di sela hantaman ombak
Palu, 22 April 2026
Menunggu Panggilan Pulang
Sepasang mata kehilangan mimpi
Saat angin membelai
Hadirku bagai kutukan
Tanpa sisa belas kasih
Tidak
Tuduhan itu begitu kelam
Aku datang dengan jemari lembut
Menawarkan peluk paling tulus
Merangkul bagai saudara lama
Aku menuntun, aku mendampingi
Tunaikan perintah Tuhan
Membawa jiwa kembali pada-Nya
Bukan dengan paksaan tapi dengan tenang
Sebab jiwa yang berserah
Perjalanan pulang adalah bagian dari cinta
Dan hidup hanyalah menunggu waktu
Saat nama jatuh dipanggil
Sulsel, 28 April 2026
Firdayanti Husein, perempuan sederhana yang menyukai syair dan design grafis. Hobinya membaca komik dan mulai menyukai dunia literasi sejak tahun 2025. Saat ini aktif di kelas puisi Akademik Thata Sastra batch 19. Anda dapat menghubungi di IG @ibnat.husein FB @ibnat husein. WA: 085787319154 Pinterest: cactaceaekaktyc