Puisi-puisi Zulfatun N.

17

Mengurai Latar Biru Pada Jerami

Remang lampu berpendar menemani
Detik jam dinding berdetak
Angsa mendengkur saling sahut
Derit roda dan suara klakson kereta terdengar

Di dalam kotak putih,
bercorak coklat di tepinya.
Nalarku mengurai helai-helai jerami,
yang tertanam di keheningan.
Mataku tertuju pada sebuah buku
Hatiku tergerak menoreh pena di dalamnya.

Malah kutemui kenangan bertumpuk,
terbungkus plastik bersama waktu
perlahan kusingkap,
kutelanjangi setiap lembar.
Foto lama latar biru tersusun rapi –
kau dan aku pernah kusebut: kita.

Cilacap, 14 Juli 2026

 

Angin Pembawa Sejuk?

Terdengar lembut deru angin,
sapuannya pelan membelai wajah.
Anak rambut saling bergoyang,
menari hingga tertidur di pipi.

Pusaran angin terus berjalan,
membawa apa saja yang dirangkulnya,
bahkan rasa yang mati nurani.

Adilkah bila angin berpadu dengan panas?
Tak bisakah dihantar terpisah?
Angin sejuk lebih dahulu,
atau panas yang sesak.

Cilacap, 16 Juli 2026

 

Berita Lainnya

Patuh pada Takdir Patah

Ranting patah jatuh,
mungkin menyentuh tanah,
atau terjerebam di kubangan.
Betapa mustahil menjadi utuh kembali.
Nyatanya, begitulah takdir: menolak revisi.

Meski dipungut setiap serpihnya,
dibentuk lagi, pun rupanya takkan lagi sama,
tak lagi sekuat sebelumnya,
dan aromanya tertinggal pada detik patah.
Namun,
Bangganya manusia,
berbesar diri seolah nasib adalah kuasanya.

Cilacap, 19 Juli 2026

 

Karma

Seutas tali terlepas menguntai
Meski sedikit memaksa;
kuteguhkan sanubari,
kusulam masa,
sementara waktu berharga terbuang.

Nyawa seolah tercabut,
dan menyisakan separuh tertahan.
Linglung menemani setiap jengkal langkah,
terjebak labirin yang tercipta.

Ragamu diombang-ambing angin: tanpa arah
Lenyap begitu saja
Kita hanya kata di ruang senyap,
tak pernah tertuang tinta.
Tak perlu kuharap berpulang
Segala yang enyah kubiarkan saja.
Kusebut ini: karma.

Cilacap, 19 Juli 2026

 

Zulfatun Ni’mah, asal Cilacap, seorang mahasiswi tingkat akhir Program Studi Sastra Inggris di Universitas Terbuka. Di tengah kesibukan menyelesaikan masa studinya, ia aktif menggeluti dunia sastra, khususnya puisi bebas. Baginya, puisi ialah ruang personal yang paling aman untuk mengekspresikan diri sekaligus mengolah berbagai peristiwa kehidupan menjadi untaian kata. Ketertarikannya pada dunia linguistik membuat ia merasa tertantang untuk mempelajari susunan diksi yang indah. Ia yakin bahwa sebuah puisi yang baik tidak hanya berhenti pada keindahan visual kata, melainkan memiliki kedalaman makna tersembunyi di dalamnya. Melalui karya-karyanya, ia berusaha menjembatani realitas emosional sehari-hari dengan estetika bahasa yang matang. Ia juga sedang mengikuti Kelas Puisi Jadi Cuan, Sekolah Kepenulisan Kosana Publisher @kosanapublisher bersama @intanhafidahnh sebagai mentor kelas. Zulfatun dapat disapa lebih lanjut melalui akun Instagram resminya di @zul.tn_ .

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan