Puisi Indonesia Menyeberang ke Dunia, Antologi Puisi Dwibahasa Indonesia-Spanyol Diluncurkan Dihadiri Penyair Riau

9

JAKARTA — TIRASTIMES: Puisi menjadi salah satu pintu baru untuk memperkenalkan kekayaan sastra dan kebudayaan Indonesia ke dunia internasional. Langkah itu ditandai dengan diluncurkannya antologi dwibahasa ‘Hacia Todo‘ (Kepada Segala) yang menghimpun karya sejumlah penyair Indonesia dan diterjemahkan ke dalam bahasa Spanyol.

Antologi tersebut menjadi bagian dari ikhtiar Yayasan Hari Puisi (YHP) untuk “menduniakan” puisi Indonesia melalui penerjemahan ke dalam bahasa asing. Bahasa Spanyol dipilih karena merupakan salah satu bahasa global yang digunakan oleh jutaan orang di berbagai negara.

Launching antologi itu digelar di Aula Perpustakaan Nasional, Jakarta, dihadiri sejumlah perwakilan diplomatik negara sahabat, antara lain Duta Besar Ekuador Luis Guillermo Arellano Jibaja, Wakil Duta Besar Spanyol Fernando Burgos Sainz, Konsul dan Atase Kedutaan Besar Meksiko Ricardo Bicerril, serta perwakilan Kedutaan Besar Kolombia Nicolas Montoya.

Hadir pula, Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Dr. Hafidz Muksin, Kepala Perpustakaan Nasional Penyair Riau, Dr. (Can), Ir. Fakhrunnas MA Jabbar, M.I.Kom, Ketua WPI Riau, Hj. Tutin Apriyani, SE. Ada pula penulis, wartawan senior, Dr. Nasir Tamara dan sejumlah sastrawan di antaranya Arie F. Batubara, Ahmaddun Yosi Herfanda, putri Presiden Penyair, Sutardji Calzoum Bachri dan putri penyair Abdul Hadi WM dll.

Plt. Ketua Yayasan Hari Puisi (YHP) dalam sambutannya Syofyan RH Zaid mengatakan, puisi merupakan mahkota bahasa. Karena itu, setelah perjalanan panjang selama 13 tahun, YHP terus berupaya memperluas ruang gerak puisi Indonesia, bukan hanya di dalam negeri tetapi juga ke dunia internasional.

Menurut dia, pengakuan 6 Juli sebagai Hari Puisi Indonesia menjadi salah satu tonggak penting perjalanan gerakan puisi Indonesia. Kini, YHP memasuki langkah berikutnya, yakni membawa karya para penyair Indonesia menembus batas bahasa dan negara.

“Keluar, kita menjadi jembatan pengenalan sastra Indonesia ke luar negeri,” demikian gagasan YHP yang kini mulai diwujudkan melalui penerbitan antologi dwibahasa.

Program penerjemahan ini dirancang berkelanjutan. Setelah Spanyol, YHP menyiapkan penerbitan antologi puisi Indonesia-Italia, Indonesia-Prancis, Indonesia-Inggris, serta bahasa asing lainnya.

Di sisi lain, YHP juga menyiapkan program penguatan puisi di dalam negeri melalui Akademi Puisi Indonesia. Kurikulum dan tenaga pengajar untuk program tersebut telah dipersiapkan.

Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Dr. Hafidz Muksin memberikan apresiasi terhadap penerbitan antologi tersebut. Ia menilai penerjemahan puisi ke bahasa Spanyol merupakan langkah kreatif untuk memperkenalkan kekayaan bahasa, sastra dan peradaban Indonesia kepada masyarakat internasional.

“Sungguh saya sangat bangga, salut dan apresiasi kepada Yayasan Hari Puisi yang telah dengan semangat dan kreatif menghimpun puisi terbaik dari para penyair dan pencipta untuk diterjemahkan ke dalam bahasa Spanyol,” ujarnya.

Menurut Hafidz, antologi tersebut bukan sekadar kumpulan puisi, tetapi juga menjadi warisan ilmu pengetahuan, pengalaman dan nilai-nilai peradaban yang dapat dibaca oleh masyarakat Indonesia maupun Spanyol.

Ia berharap penerbitan buku serupa dalam bahasa Prancis, Italia dan bahasa asing lainnya segera menyusul.

Tulisan Terkait
Berita Lainnya

Penerjemah antologi, Danny Susanto, mengakui menerjemahkan puisi Indonesia ke dalam bahasa Spanyol bukan pekerjaan sederhana. Tantangan muncul karena banyak kata dalam puisi Indonesia mengandung sejarah, kebudayaan dan pengalaman lokal yang tidak mempunyai padanan langsung dalam bahasa Spanyol.

Nama makanan, tumbuhan, alat musik, ritual, tempat, istilah agama dan adat, misalnya, memiliki cakupan makna yang jauh lebih luas daripada sekadar sebuah kata.
Demikian pula metafora yang sangat dekat dengan pengalaman masyarakat Indonesia dapat terasa asing bagi pembaca berbahasa Spanyol.

Karena itu, dalam beberapa puisi Danny memberikan catatan budaya atau penjelasan singkat. Langkah tersebut dilakukan bukan untuk membatasi tafsir pembaca, melainkan membuka pintu menuju dunia budaya yang melahirkan puisi tersebut.

Ketua Panitia, Ariyani Isnamurti menilai Indonesia dan Spanyol memiliki titik temu menarik dalam sejarah perpuisian. Keduanya sama-sama memiliki akar kuat pada tradisi lisan. Indonesia mengenal pantun, mantra, seloka, karmina, gurindam dan talibun yang diwariskan secara turun-temurun, bahkan sebelum masyarakat mengenal aksara. Sementara Spanyol memiliki tradisi Romancero, cantigas dan coplas.

Menurut Ariyani, tradisi tersebut menunjukkan bahwa puisi pada mulanya lahir dari kebutuhan manusia untuk menyimpan pengalaman, nilai, sejarah dan kebudayaan melalui bahasa yang indah dan mudah diwariskan.

Ewith, Ariyani dan Hafidz Muksin dan sejumlah penyair

Dalam antologi ini termuat puisi karya puluhan penyair Indonesia dari berbagai daerah, lintas generasi dan latar belakang. Di antaranya Abdul Hadi WM, Sutardji Calzoum Bachri, Rida K. Liamsi, Acep Zamzam Noor, Sonia Farid Maulana dan lain-lain.
Dari Riau tampil pula karya Dheni Kurnia, Husnu Abadi, Fakhrunnas MA Jabbar, Jefry Al Malay, Kazzaini K.S., Marhalim Zaini, dan Taufik Ikram Jamil.

Selain para penyair tersebut, antologi juga memuat karya sejumlah tokoh Indonesia yang dikenal menulis puisi, termasuk Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono, Menteri Kebudayaan Fadli Zon, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti serta Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Hafidz Muksin.

Tim penyusun buku terdiri atas Ewith Bahar sebagai ketua, bersama Ariyani Isnamurti, Willy Ana dan Julia Basri. Sementara tim kurator diserahkan kepada Sihar Ramses Simatupang dan Herman Syahara.

Tim Kurator, Sihar Ramses Simatupang mengatakan, penerbitan Hacia Todo menjadi penanda bahwa puisi Indonesia tidak berhenti pada ruang pembacanya sendiri. Melalui penerjemahan, puisi dapat menjadi duta kebudayaan, memperkenalkan Indonesia melalui bahasa yang universal sekaligus tetap membawa jejak lokal dari tempat karya itu dilahirkan.

Sihar selanjutnya menjelaskan, tim kurator memiliki eterbatasan, program Menduniakan Puisi Indonesia seri pertama ini masih terfokus menghimpun puisi-puisi karya para penyair dan tokoh terkait Hari Puisi Indonesia, mulai dari inisiator, deklarator, pemenang utama Sayembara Buku Puisi HPI, peraih Anugerah Adiluhung, dan pengurusYayasan Hari Puisi. Selain itu.

“Kami juga turut mengundang sejumlah tokoh yang diketahui menulis puisi, seperti Susilo Bambang Yudhoyono (Presiden Indonesia ke-6), Fadli Zon (Menteri KebudayaanRI), Abdul Mu’ti (Menteri Pendidikan Dasar dan MenengahRepublik Indonesia) dan Hafidz Muksin (Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa).

Penyair Indonesia asal Tanah Melayu Riau yang menghadiri acara launching buku tersebut , Dr. (Can) Ir. Fakhrunnas MA Jabbar, M.I.Kom merasa bangga dapat hadir dan bertemu para penyair dan panitia penyelenggara Antologi Puisi tersebut.

“Program penerbitan antologi puisi dwi bahasa ini merupakan langkah maju yang strategis dari YHP dalam mengenalkan puisi Indonesia ke mancanegara. Antologi ini benar-benar menjadi tonggak penting dalam dunia perpuisian indonesia,” ujar Fakhrunnas yang didampingi istrinya Hj. Tutin Apriyani, SE (Ketua WPI Wilayah Riau). (NS/BK)

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan