

PEKANBARU-TIRASTIMES. BRICS yang didirikan 16 Juli 2009 adalah singkatan dari Brazil, Russia, India, China, South Africa, yaitu kelompok negara berkembang yang memiliki peran besar dalam perekonomian global. Kelompok BRICS saat ini menjadi simbol kekuatan ekonomi baru sebagai penyeimbang dominasi negara Barat dalam tatanan ekonomi dunia. Indonesia resmi bergabung BRICS, 6 Januari 2025, menandai langkah strategis untuk memperluas pengaruh dalam ekonomi global dan mendiversifikasi mitra strategisnya. Selain Indonesia, masuk pula Mesir, Ethiopia, Iran, dan Uni Emirat Arab. (Sumber: Badan Penelitian dan Pengembangan, Kementerian Pertahanan Republik Indonesia).
Pada November 2024, Moskow menjadi tuan rumah Forum Nilai-Nilai Tradisional BRICS (BRICS Traditional Values Forum) yang dihadiri anggota-anggota yang tergabung dalam BRICS.
Pada 11 Februari 2025, saya dihubungi seseorang yang bernama Olga, asisten Dmitry Kuznetsov (Head of the Secretariat) yang menangani BRICS Literature Award. Olga menyebutkan, bahwa ia memperoleh nomor kontak saya dari Victor Pogadaev, seorang Indonesianis asal Rusia. Memang, sebelumnya Pak Victor Pogadaev sempat menghubungi saya dan meminta saya menjadi salah seorang juri yang mewakili Indonesia. Tentu saja saya menyatakan bersedia, meski belum tahu persis, apa yang sebenarnya diharapkan BRICS.
Pada 7 Mei 2025, nomor ponsel saya dimasukkan ke dalam grup “BRISC Literacy Jury Team” oleh Vania Djohan Salim, yang pengakuannya merupakan perwakilan Indonesia untuk BRICS. Dalam grup WA itu, dua di antaranya saya kenal, yaitu Anwar Putra Bayu (Penyair Palembang) dan Dr Bondan Kanumoyoso (Dekan FIB-UI). Belakangan Anwar Putra Bayu mengundurkan diri dengan alasan kesehatan. Posisinya digantikan entah oleh siapa.
Di grup WA itu berulang kali saya minta diadakan pertemuan langsung, supaya sesama juri bisa saling mengenal lebih dekat. Tetapi, entah mengapa, belum ada waktu yang dapat disepakati bersama. Meskipun dewan juri belum sempat berkumpul bersama secara langsung, sekali-sekali masih terjadi komunikasi. Pada 20 Mei 2025, Vania Djohan Salim mengirimkan 16 daftar nama beserta karya dan biodata ringkasnya (terlampir). Saya agak terkejut juga dengan daftar itu, karena beberapa di antara daftar itu, namanya belum akrab dengan kehidupan sastra Indonesia.
Dalam pada itu, kembali saya mengingatkan perlunya pertemuan secara langsung untuk membicarakan banyak hal mengingat pemberian penghargaan kesusastraan BRICS bagi Indonesia bukan persoalan sederhana: mewakili sebuah bangsa besar yang heterogen, memilih dan menentukan karya seseorang yang pantas, patut, berkualitas, reputasional, dan merepresentasikan semangat dan jiwa bangsa. Yang lebih penting lagi, pertanggungjawaban moral, sosial, dan kultural kepada sastra, budaya, dan bangsa Indonesia. Oleh karena itu, saya mengirimkan beberapa pertanyaan yang menyangkut: (1) Dasar pemilihan nama-nama itu, apakah yang sudah meninggal boleh disertakan (dalam daftar itu ada nama Nh Dini dan Sapardi Djoko Damono yang sudah wafat). (2) Batas usia nama yang diusulkan, (3) Kriteria pemilihannya, (4) Argumen atas karya yang diusulkan, (5) Penjelasan dewan juri sebagai pertanggungjawaban akademis, kultural, dan sosiologis (terlampir).
Dalam perkembangannya, karena diperlukan tambahan anggota juri, saya kemudian mengusulkan nama Prof Dr Djoko Saryono (Malang).
Pada tanggal 22 Juli 2025, kembali saya mendapat kirimkan daftar nama dari lima negara, termasuk Indonesia, yang diusulkan sebagai penerima BRISCS Literature Award, yaitu: (1) Ethiopia (Abere Adamu), (2) Egypt (i) Ibrahim Abdel Meguid, (ii) Salwa Bakr, (iii) Fathi Embabi, (3) Indonesia (i) Ikasaka Banu, (ii) Intan Paramaditu (sic!), (4) The United Arab Emirates (i) Dr. Ali bin Tamim, (ii) Maisoon Saqer, (iii) Reem Al Kamali, dan (5) South Africa (i) Nthabiseng Jah Rose Jafta, (ii) Bongeka Mhlongo, (iii) Mo & Phindi.
Mengenai daftar nama itu, saya belum meresponsnya sama sekali, karena saya tetap berharap dewan juri dapat bertemu langsung dan mendiskusikannya dahulu.
Pada 23 Agustus 2025 saya menerima kiriman WA dari Sastri Bakry. Ia melampirkan calon penerima Penghargaan Sastra BRICS, yaitu Iksaka Banu dan Intan Paramaditha. Tetapi, pada 21 September 2025, kiriman WA dari Sastri Bakry, melampirkan calon penerima Penghargaan Sastra BRICS atas tiga nama, yaitu (1) Iksaka Banu, (2) Intan Paramaditha, dan (3) Denny JA. Lho, kok ada tambahan satu nama? Memang, pada 23 Juli 2025 saya bertemu dengan Sastri Bakry dan mengobrol banyak hal. Sastri sendiri menyatakan (atau mengklaim) sebagai perwakilan Indonesia untuk BRICS. Mengenai informasi itu, saya belum yakin benar, karena saya berpegang pada komunikasi dengan Vania Djohan yang sudah mengirim draf pengangkatan saya sebagai juri (terlampir).
Terjadi lagi kejutan. Pada 23 Oktober 2025, saya mendapat undangan Konferensi Pers
BRICS Literature Award, Senin, 27 Oktober 2025 dengan tiga nama yang dinominasikan, yaitu (1) Denny JA, (2) Iksaka Banu, dan (3) Intan Paramadita (terlampir).
Adanya penambahan dari dua nama menjadi tiga nama dengan urutan yang juga berubah, menunjukkan ada sesuatu yang dapat menjadi pertanyaan besar, bahkan sangat mungkin memantik kontroversi yang tidak produktif. Selain tidak jelas dasar kriteria pemilihan-penentuan nama-nama itu, juga tidak jelas, siapa saja yang memilih—menentukan nama-nama itu? Apa kapasitas dan autoritasnya? Dan yang lebih penting lagi, bagaimana pertanggungjawabannya kepada publik sastra kita dan kepada bangsa Indonesia?
Kepada pihak-pihak yang berkepentingan, mohon berhati-hati dalam menyikapi masalah ini. Mohon juga mempertimbangkan kembali pemilihan-penentuan nama-nama yang diusulkan itu, agar tidak terjadi kontroversi yang dapat berdampak luas dan kontraproduktif.
Berdasarkan pertimbangan di atas, perlu disampaikan secara transparan dan terbuka kepada publik proses penentuan nama-nama Dewan Juri, kriteria pemilihan-penentuan nama-nama yang layak dinominasikan, dan pertanggungjawaban dewan juri. Dalam kesempatan ini, saya juga menolak tiga nama, yaitu (1) Iksaka Banu, (2) Intan Paramaditha, dan (3) Denny JA untuk diajukan sebagai calon penerima BRICS Literature Award. Selain saya tidak memilih nama-nama itu, juga masih banyak nama yang lebih layak diajukan sebagai calon penerima BRICS Literature Award.
Maman S. Mahayana