Rindu: Puisi Nurzuha

18

Aggghhh
Tuhan
Hamba titipkan segantang rindu kepada bumantara melalui sandykala
Untuk Ibunda jua Ayahnda yang memberiku adiwarna melalui aksara do’a yang begitu sakti mandraguna
Allahu,
Tuhaan.
Tentang rindu yang beranak pinak dalam bait aksaraku pula
Tentang asmaraloka yang telahpun menjadi melankolia
Tentang harsa yang harus pula menjadi lara
Tuhan!
Pada siang malam yang begitu usangnya
Kutadah benar bekas kenang tentang mereka berdua
Kuputar ulang segala gulung senar ingat itu
Kukail kail punca perjalanan masa kecilku
Tidak Tuhan!
Aku memutuskan rentang benang wajahku
Kuhadirkan tangis tawa sekian kalinya di bilik sunyiku di tengah hingar bingar kota ini
Tuhan lihatlah!
Perempuan batu ini mengilai dalam bisu
Menenggak seluruh kerinduan yang begitu pucat pasi dalam rona roa do’a mereka ayah ibu.

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan