“Cerita Mak Sebelum Tidur” Kenangan masa lalu yang tak terlupakan: oleh Mohd. Nasir

7

Sejak kecil, saya memiliki kenangan yang sangat dekat dengan sosok Mak. Hampir setiap malam, sebelum kami tidur, Mak selalu menyempatkan diri bercerita kepada kami. Cerita-cerita itu menjadi bagian dari kehidupan masa kanak-kanak kami. Di tengah suasana malam yang sunyi, suara Mak terasa begitu akrab dan menenangkan. Kami mendengarkan dengan penuh perhatian, seolah-olah dunia di luar kamar tidak ada lagi. Memang masa itu di rumah kami tak ada radio apalagi televi. Kami tak punya sarana hiburan.

Mak tidak pernah kehabisan cerita. Ada saja kisah yang diceritakannya kepada kami. Kadang berupa dongeng, kadang cerita tentang binatang, dan kadang pula cerita yang mengandung nasihat tentang kehidupan. Salah satu cerita yang paling sering kami dengar adalah dongeng Kancil. Kancil yang cerdik, pandai mencari jalan keluar dari kesulitan, selalu membuat kami penasaran. Dari cerita itu, tanpa kami sadari, Mak mengajarkan bahwa kecerdikan harus digunakan untuk menghadapi persoalan, bukan untuk merugikan orang lain.

Selain dongeng Kancil, Mak juga sering menceritakan kisah burung yang tidak mempunyai bulu. Cerita itu terdengar sederhana, tetapi bagi kami yang masih kecil, kisah tersebut begitu menarik. Kami membayangkan bagaimana seekor burung menjalani kehidupannya tanpa bulu seperti burung-burung lainnya. Dari cerita itu tumbuh rasa ingin tahu dan imajinasi kami.

Ada pula cerita tentang Si Mikin. Nama tokoh itu begitu melekat dalam ingatan saya. Setiap kali Mak mulai menyebut nama Si Mikin, perhatian kami langsung tertuju kepadanya. Kami ingin tahu apa yang akan terjadi, bagaimana tokoh itu menghadapi persoalan, dan bagaimana akhir ceritanya. Cerita-cerita Mak selalu membuat kami menunggu kelanjutan kisahnya dengan rasa penasaran.

Mak juga pernah bercerita tentang Si Hombi. Seperti cerita-cerita lainnya, kisah Si Hombi menjadi bagian dari dunia kecil kami. Tokoh-tokoh dalam cerita Mak seakan-akan hidup di dalam pikiran kami. Mereka hadir menemani malam-malam masa kanak-kanak, ketika kami belum mengenal banyak hal tentang kehidupan.

Yang paling saya ingat adalah cerita tentang Semangat Padi. Dari kisah itu, saya merasakan ada pesan yang lebih dalam. Padi mengajarkan tentang kehidupan, tentang ketekunan, tentang bagaimana seseorang harus tetap tumbuh dan memberi manfaat. Seperti padi yang semakin berisi semakin merunduk, manusia pun seharusnya tidak menjadi sombong ketika memiliki ilmu, pengalaman, atau keberhasilan.

Kini, ketika mengingat masa kanak-kanak, saya menyadari bahwa kebiasaan Mak bercerita bukan sekadar kegiatan untuk mengantarkan kami tidur. Di balik cerita-cerita itu terdapat pendidikan yang sangat berharga. Mak menanamkan nilai-nilai kehidupan melalui dongeng dan kisah-kisah sederhana.

Cerita Kancil mengajarkan kecerdikan. Kisah burung yang tidak mempunyai bulu menghidupkan imajinasi. Cerita Si Mikin dan Si Hombi memperkenalkan kami kepada tokoh-tokoh yang penuh warna. Sementara kisah Semangat Padi mengajarkan ketekunan, kerendahan hati, dan arti menjadi manusia yang bermanfaat.

Barangkali Mak tidak pernah membayangkan bahwa cerita-cerita yang disampaikannya pada malam-malam dahulu akan tinggal begitu lama dalam ingatan kami. Namun, begitulah kenangan bekerja. Suara seorang ibu yang bercerita sebelum tidur dapat menjadi sesuatu yang terus hidup, bahkan ketika masa kanak-kanak telah jauh berlalu.

Dari situlah mungkin benih kecintaan saya terhadap cerita mulai tumbuh. Saya belajar bahwa sebuah cerita bukan hanya rangkaian kata-kata. Cerita dapat menghibur, mengajarkan, menyentuh perasaan, dan menanamkan nilai kehidupan. Dan semua itu pertama kali saya mengenalnya bukan dari buku, melainkan dari suara Mak yang bercerita di malam hari.

Kini, setiap kali saya menulis atau mendengar sebuah cerita, ingatan saya sering kembali kepada masa itu: malam yang sederhana, kami yang masih kecil, dan Mak yang dengan sabar bercerita sebelum kami memejamkan mata.

Cerita-cerita Mak mungkin sederhana, tetapi dari cerita-cerita itulah dunia imajinasi saya mulai dibangun. Tak sedikit pula karya-karya yang saya tulis bermuara dari kenangan pada cerita Mak masa lalu. Ada yang saya angkat langsung menjadi karya, seperti cerita Ladang si Mikin. Cerita rakyat ini pernah dimuat pada Majalah Prestasi, majalah yang dikelola oleh almarhum Edi Ruslan Pe Amanriza.

Sebuah buku kumpulan cerita rakyat di bawah judul Negeri Serombou juga banyak idenya dari cerita Mak masa saya kanak-kanak dulu. Buku kumpulan cerita rakyat adalah buku pemenang pertama dalam lomba menulis cerita rakyat yang diadakan oleh Balai Pelatihan Guru Provinsi Riau.

Beberapa buku cerita saya seperti Tragedi Rimba Jirat Panjang dan Trauma Jepang juga bersumber dari cerita Mak masa lalu.

Jasa Mak tidak sedikit dalam memberi saya ide-ide untuk menjadi tema cerita yang saya tulis. Mak tak sempat membacanya karena beliau telah duluan dipanggil oleh Allah sebelum cerita dan buku tersebut diterbitkan. Semoga Mak menerima pahala setiap kali orang membaca karya-karya saya. Amin.

Pekanbaru, 31 Agustus 2026

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan