

Kami masih ingat
Perjalanan 10 jam ke kota Rengat
Untuk sebuah perjamuan
Untuk sebuah acara pencerahan
Di kalangan masyarakat ramai
Dan malam-malam yang panjang
Di rumah kediaman
Di tepi sungai Indragiri
Kami pun masih ingat
Ketika kami menggoda
Agar puasa senin kamis dicukupkan
Karena ada acara halal bil halal
Dari satu rumah ke rumah lainnya
Menyempurnakan hari raya
Kami pun masih ingat
Ketika engkau meneteskan air mata
Karena ada yang bertengkar
Sejadi-jadinya
Di ruangan sidang lantai dua
Namun yang selalu kami ingat
Dari wajah sang guru
Adalah wajah keteduhan
Adalah wajah penuh senyuman
Adalah wajah penuh ketekunan
Pekanbaru, 2000/2020
“Ibrahim, kemana kita katamu”
Ini pagi koran kota melahirkan kisahnya di ujung langkah seorang pejalan.
Berduka. Seperti mengayunkan aroma dan keringat pagi.
Angin yang payah dan dingin yang lembut telah mengambilnya.
Di bawah matahari. Langitpun turun dan berbaris disini.
Banyak yang tiba-tiba mengenang dan mengingatmu.
Senandung dan mainan anak-anak terus berlalu.
Sepi dan semakin sepi.
“Ibrahim, berikan debar dunia itu kembali”
Pejalan itu terus melangkah. Pergi. Dan menghilang.
Rumahnya tak beratap. Tidak berjendela. Tidak berkursi.
Tidak beruang. Ia tengah bergurau dengan Ibrahim.
Di luar banyak yang menanti.Tapi ia terus saja melangkah.
Pejalan itu tak pernah berhenti. Tak pernah berkeluh.
Tak pernah diam. Ia tak mungkin berpulang.
“Ibrahim, pindahlah ke bulan”
Ini pagi koran kota masih berduka.
Ini pagi katak-katak di bulan masih berduka. Ini pagi gurun, ikan,
hutan dan semua sebab masih berduka.
“Keranda siapakah itu yang tengah malam masih berjalan?”
Seseorang bertaanya kepada seseorang. Sambil menangis. Semua diam.
Tak ada yang menjawab, tak ada yang berusaha untuk menjawab.
Sang penanya kesal. Karena hanya dia yang tak tahu.Ia pun resah.
“Ibrahim, berikan debar dunia itu kembali”
Pejalan itu masih melambai. Ia tidak tenggelam.
Dari Tarempa yang sedih, laut melahirkan nelayan.
Dan angin, Dan ikan. Dan pejalan.
Terima kasih Tarempa.
Wajahmu yang sederhana tapi menyimpan subur dan kegelisahan.
Tarempa tidak sedang tidur. Dan tarempa tak mungkin tidur.
“Ibrahim, lupakan dukamu”
Pekanbaru, 18 Januari 1988
Semua bergerak dalam lagu-lagu pujian
Engkaulah bulan
Engkaulah bulan
Membawa cahaya
Dalam bari-baris pengembara
Angin berpuisi
Bersama kebebasan yang masih ada
Sebelum ia mengikuti jejakmu
Beristirahat dalam kedamaian
Bersuaralah
Menulislah
Karena semua kepedihan
Haruslah dituntaskan
Pekanbaru, 2001/2020
Biodata HUSNU ABADI
Adalah salah seorang deklarator Hari Puisi Indonesia, yang menyatakan HPI adalah 26 Juli. Pada 2015, menerima penghargaan Yayasan Sagang (ANUGERAH SAGANG) kategori Seniman/Budayawan Pilihan Sagang. Sebelumnya, 2014, menerima Z. Asikin Kusuma atmadja Award dari Perhimpunan Penulis Buku Hukum Indonesia (ketua Prof. Dr. Erman Raja gukguk S.H.), di Pascasarjana UI Jln. Salemba, Jakarta. Pada 2007, menerima penghargaan Seniman Budayawan Pilihan Lingkaran Seni Drama DuaTerbilang (LDT) Universitas Islam Riau. Lautan Zikir (UIR Press 2004), merupakan kumpulan puisi tunggalnya yang ketiga setelah Lautan Kabut ( UIR Press, 1998) dan Lautan Melaka (UIR Press, 2002), Lautan Rinduku, Taj Mahal (2020), sedangkan Di Bawah Matahari, 1981 dan Matahari Malam Matahari Siang, 1982, ditulisnya bersama Fakhrunnas MA Jabbar. Buku eseisastra: Ketika Riau, Aku Tak Mungkin Melupakanmu (UIR Press, 2004), serta Leksikon Sastra Riau(UIR Press-BKKI Riau, 2009) bersama M. Badri. Kini masih menjabat Ketua BKKI (Badan Kerjasama Kesenian Indonesia) Provinsi Riau
Dilahirkan di Majenang, 1950, dan sejak 1985 menjadi pensyarah pada Fakultas Hukum UIR dengan jabatan akademis terakhir Associated Professor bidang Hukum Tata Negara. Alamat: Jln. Kelapa Gading 20, Kel. Tangkerang Labuai, Pekanbaru-Riau. (E-mail :mhdhusnu@law.uir.ac.id)