Kecenderungan Memilih Pesantren | Artikel : Abdul Rahman

190

KECENDERUNGAN MEMILIH PESANTREN

Anak adalah anugrah terindah yang dinantikan oleh setiap orang tua, ada yang baru menikah, sudah dikarunia seorang anak. Namun tak jarang juga pasangan yang sudah berpuluh tahun menikah, berusaha dan berdoa agar dikaruniai anak sebagai pewaris keturunan, namun tak kunjung punya anak.

Kehadiran anak adalah anugrah, sekaligus amanah yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah kelak. Oleh karena itu, wajar jika orang tua harus memikirkan perkembangan, pendidikan dan arah masa depan anaknya.

Setiap orang tua ingin agar anaknya menjadi sukses sesuai dengan cita-cita dan menyalurkan hobi dan bakat anaknya. Orang tua rela berkurban harta, waktu dan pikiran demi kesuksesan anaknya. Ada yang rela menggadaikan tanah dan rumah hanya demi anaknya.

Namun terkadang harapan tidak sesuai dengan kenyataan. Setelah anak dibiayai, disekolahkan dan dipenuhi semua kebutuhannya, malah anaknya durhaka, melawan dengan orang tuanya. Jika ini terjadi, siapa yang patut disalahkan, apakah anak atau orang tua yang salah tujuannya menyuruh anak sekolah?

Kita pernah mendengar orang tua menyampaikan kepada anaknya sekolah yang tinggi agar kelak kamu mempunyai banyak harta, sekolah yang tinggi agar kelak kamu disegani, atau sekolah yang tinggi agar kamu bisa menaklukkan dunia.

Jarang orang tua yang menyampaikan kepada anaknya, belajarlah agar kamu semakin dekat dengan Allah, belajarlah yang rajin agar kelak amalnya menjadi saleh.

Antara dua tipe pertanyaan diatas bisa kita renungkan arah dan harapan orang tua.

Berita Lainnya

Ada yang berharap agar anaknya menjadi orang yang kaya raya serba berkecukupan. Dan ada pula yang menginginkan anaknya kelak paham dengan agamanya dan hidup dalam kendali agamanya.

Rasulullah mengisyaratkan bahwa jika inginkan dunia harus dengan ilmu, jika ingin akhirat, harus dengan ilmu dan jika menginginkan keduanya, harus dengan ilmu. Mungkin inilah alasan orang tua dalam menyekolahkan anaknya. Sehingga orang tua mulai mencari pola yang tepat untuk menempatkan dimana anaknya harus bersekolah. Apakah di sekolah umum? Atau di sekolah agama ataukah anaknya harus dijauhkan dirinya dan diantar ke pesantren.

Pesantren merupakan salah satu pilihan orang tua untuk menjadikan tempat belajar bagi anaknya. Berbagai alasan orang tua menyekolahkan anaknya di pesantren, ada dengan alasan karena anaknya nakal, maka harus dimasukkan ke pesantren. Ada yang asal jauh darinya dan tidak pusing memikirkan perangainya. Ada yang karena menginginkan agar anaknya menjadi pribadi yang mandiri.

Bahkan ada yang menginginkan agar anaknya menjadi ulama. Semua niat dan tekad orang tua semoga diijabah oleh Allah SWT. Intinya, orang tua yang merasakan kurangnya pendidikan agama yang di masa kecilnya ingin agar apa yang dia alami, tidak terjadi pada anaknya.

Pola asuh pesantren juga beragam, mulai dari pola asuh tradisional hingga pola asuh moderat. Dari berbagai tipe pola asuh tersebut, orang tua sudah harus mengantongi, pesantren seperti apa yang dia inginkan agar kelak anaknya berhasil dalam pendidikan sesuai dengan sunnah rasulullah.

Sungguh pun demikian, orang tua tidak boleh berlepas diri, dengan menyerahkan tanggung jawab anaknya ke pesantren tanpa kontrol. Bagaimanapun, amanah mendidik anak tetap tanggung jawab orang tua sepenuhnya.

Sehingga diharapkan adanya sinergi antara orang tua, anak dan pihak pesantren. Di samping komunikasi dua arah yang dilakukan orang tua dan pihak pesantren, juga diharapkan doa tulus dari orang tua untuk kesuksesan anaknya. Jangan sampai orang tua merasa bebas dan lepas tanggung jawab secara moril ketika anaknya tidak lagi tidur di rumah bersamanya.

Semoga pesantren menjadi jawaban atas keresahan sebagian orang tua untuk perkembangan anaknya di dunia digital saat ini.

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan