Asa Dilampiri Sunyi: Puisi Kang Thohir

24

Dusun Kupu menemui asa dilampiri sunyi
Di angan membalut suasana yang tak pungkiri
Aku menari di atas awan hitam
Aku pun sejenak merasakan tenggelam
Banting kekerasan dan mencekam
Sungguh yang sangat misteri dan kejam
Burung-burung itu telah mati
Diterkam buas menghampiri
Terlelap ujung tanduk peristiwa
Penuh misteri dan sandiwara
Aku menyapa dengan lembut di antara
Mutiara dan emas menyambut mereka
Namun dihunus pedang dari belakang
Aku terasa tertipu di balik pintu malang
Terjerat tali tak ada ujungnya
Membelenggu asa dan tak bisa terbang
Kemanakah kiranya aku terbang
Dengan apa aku melayang
Ekonomi semakin berkurang
Tandus di atas kemunafikan
Atau hanya dendam dan pelampiasan
Di antara iri dan dengki menghampiri
Tak bisa aku hindari
Dari mereka yang hanya haus duniawi
Merongrong semua kekayaan
Padahal sudah dibagi dan diberi
Para serigala bermulut kucing
Hingga membuatnya terpana akan kecerdikannya dan kata manisnya
Membuat batin ini tak berdaya
Aku harus berbuat apa?
Sakit dari masa kecil sampai dewasa
Menderita batin dan jiwa
Dari mereka bertangan nakal dan lempar batu sembunyi tangan
Aku hanya sebagai alat untuk menutupi semua itu
Sungguh membuat aku bingung dan pilu
Terjerembap pada skenarionya
Masalah cinta, rumah tangga, keluarga, pekerjaan dan cita-cita juga harapan
Telah pupus dan sirna semua
Apakah aku harus bertahan?
Sudah lama aku menderita
Memang aku bukanlah siapa-siapa bagi mereka
Mereka punya bekingan dan pembela
Sedangkan aku siapa?
Hanya meminta kepada Sang Kuasa
Sebagai pelindung dan pembela
Aku sebenarnya sudah mengalah
Tapi aku tak ingin dicerca dan diinjak-injak
Akhirnya aku berontak
Pada kesunyian membentak
Aku ingin rasanya berpijak
Dari asap hitam kelabu dan gelap
Aku ingin berhijrah dan hirap
Terkesan menentang pada kenyataan
Namun aku sudah muak tak tahan
Melepas semua beban fikiran
Yang menghanyutkan cita-cita
Mencabik-cabik hati dan rasa
Menatap semua keburukan realita
Aku bingung mengadu pada siapa
Untuk mengungkapkan semua cerita
Hanya setetes pena menemani kisah
Terkadang jenuh dan susah
Karena air mata ini tak kunjung sirna
Membekas pada jiwa
Batin terasa meronta-ronta
Namun mereka tak merasa iba
Malah senang menatap bahagia
Aku hanya menahan dan diam saja
Mungkin karena kebencian mereka
Sekarang aku bergerak sendiri
Meski disambut sunyi
Malang melintang aku menatap cahaya
Ada intan mutiara menjadikan lentera
Menggenggam asa dan cita-cita
Aku mencari sumber kehidupan
Di atas bumi menelan kepahitan
Esok ada tumbuh buah yang segar dan manis
Aku menapaki rindu dan menangis
Di antara mendung dan gerimis
Di balik peristiwa berpayung pesimis
Aku merintis
Padahal haluan menuangkan kenyataan
Menaburkan garam dan air
Membuat saluran cerita yang mengalir
Tumbuh akar pepohonan rindu
Menjelma menjadi cinta
Pada angan-angan menyapa cita-cita
Menggapai sebuah harapan mendamba
Menjadi arti dari sebuah kebahagiaan
Entah itu kapan
Aku hanya menghayal melalui fikiran
Terkadang sulit dibayangkan
Semoga saja menjadi kenyataan
Ah, sudahlah

Brebes, 20 Desember 2024

Muhammad Thohir/Tahir (Mas Tair) yang dikenal dengan nama pena Kang Thohir, kelahiran Brebes, Jawa Tengah. Dari dusun/desa Kupu, kecamatan Wanasari. Dari anak seorang petani dan tinggal dari kehidupan sehari-hari bertani, berkebun, menanam bawang merah, padi, kacang, pare, cabai dan sayur-sayuran di ladang sawahnya. Kini, aku sedang menggeluti dunia tulis menulis atau literasi, khususnya sastra Indonesia. Suka menulis sejak duduk di bangku kelas empat SD dan sampai masuk ke Pondok Pesantren. Aku masih tetap aktif menulis dan semakin semangat ‘tuk menulis baik puisi maupun cerpen dan lain sebagainya yang aku tulis. Selain menulis aku juga suka membaca buku agar bisa bermanfaat untuk menambah wawasan (pengetahuan).

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan