Sepiring Masa Lalu
Di atas keramik, tikar digelar
Potongan masa lalu disuguhkan
mengepul bersama rindu yang bertabur di atasnya
Waktu menggantung pada kepala yang duduk bersila
Menyembunyikan detik di antara lidah dan langit-langitnya
Di luar, hujan menari, menabuh genting berongga
Di dalam, ember bernyanyi memecah sunyi
Barangkali jiwa akan pulang
Memeluk raga dalam tembok tua
Melepas jerat sunyi di dadanya
Tapi pintu nestapa tak urung diketuk
Hingga engsel dari besi tua melahirkan karat yang terus tumbuh
Bagai uap dari kepulan teh panas
Ia menguap hilang tanpa jejak
Hingga sepiring masalalu habis dilahap kenyataan
Sedangkan
Waktu masih terus berputar meski detiknya sudah tertelan
Karawang, 30 April 2026
Simbol Kedustaan
Ada rasa penuh duka dalam dada penuh luka
Sayatan tak kasat mata
Nyatanya lebih ampuh memberi derita
Perkataannya hanya sebuah simbol
Kedustaan tiada akhir
Memberi harapan juga penghakiman
Hanya kepala sakit
Yang patuh tak melawan
Sedangkan tubuhnya tercabik-cabik
Oleh bilah kekuasaan
Karawang, 7 Juni 2026
Rasa Yang Rahasia
Pada malam penuh bintang
Kuselipkan rasa kasih untuk hati
Yang belum sempat kugenggam
Pada rintik hujan yang jatuh
Kutitipkan rasa rindu yang bergemuruh
Untuk raga yang belum pernah kusentuh
Andai si pemilik atma itu tahu kegilaanku
Yang memujanya bak candu
Entah seperti apa tanggapannya
Biarlah malam, bintang dan hujan saja
Yang mual mendengar rayuanku
Kau tak perlu khawatir
Akan kurahasiakan perasaan membara ini
Di dalam dadaku sendiri
Karawang, 5 Februari 2025
Nur Kholipah atau perempuan yang dikenal dengan nama pena Nuruli ini lahir di Karawang pada tanggal 11 Juni 2000. Hobinya dalam membaca buku menumbuhkan keinginannya untuk menulis. Dan salah satu impiannya adalah berkumpul dengan para penulis-penulis cerdas negeri ini. Ia juga sedang mengikuti Kelas Puisi Jadi Cuan, Sekolah Kepenulisan Kosana Publisher @kosanapublisher bersama @intanhafidahnh sebagai mentor kelas.