Yang Tertinggal di Rumah: Puisi Wardiham

6

Hari itu ibu pulang membawa buru-buru.
Tas yang telah kurapikan kancingnya
ia buka kembali dengan gagu.
Jemarinya lama tersangkut
di selipan baju-baju.

Malamnya meja makan sesak oleh aroma.
Asap ikan bakar dan merah sambal kesukaanku,
meluap bersama nasi yang terus ia sukat,
seakan fajar sengaja dihambat.

Beberapa hari kemudian
ia tertawa di telepon,
“Rumah kehilangan suaranya sejak kamu berangkat.”
Setelah klik yang memutus jarak,
aku melihat lagi jemari itu
setia berjaga di lipatan baju.

Tulisan Terkait

Puisi-Puisi Hinarto

Berita Lainnya

Ternyata, memang ada yang tak cukup ringkas
untuk dilipat ke dalam tas.

Makassar, 7 Juni 2026


Muh. Wardiham Anwar atau akrab dikenal Wardiham dari Sulawesi Barat, ia menulis puisi sebagai cara mengingat rumah, keluarga, dan perjalanan hidup. Baginya, “Karya yang baik lahir dari keberanian untuk terus mencoba”. Saat ini ia sedang mengikuti Kelas Puisi Jadi Cuan, Sekolah Kepenulisan Kosana Publisher @kosanapublisher bersama @intanhafidahnh sebagai mentor kelas.

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan