Puisi-Puisi Sande

7

Noda Jelaga

ketulusan hati tercabik paksa
jalinan ikatan terobek menjadi serpihan
tercerai berai tertiup angin
meninggalkan jejak tak tertutup

tetesan air mata mengalir deras,
membasuh pipi menghitam
tanpa peduli tatapan sinis mereka
pada bara jiwa yang menyala

tertusuk duri tajam dalam dada
bukan lagi darah mengalir keluar,
melainkan jelaga pekat
dari sisa kepercayaan

Pamulang, 9 Juni 2026

Tulisan Terkait

Diary Sang Waktu: Raffi Rajj

Gembok Berkarat

‎peti kayu usang berisi
‎gema makian bergaung di dalamnya
‎mematung, pikiran mengelupas
‎leher lunglai dipaksa menunduk

‎sisi lain ruangan, perapian telah lama dingin
‎kayu bakar basah oleh lembabnya udara
‎kretek api pernah membara sesaat
‎sisa bara meninggalkan abu menumpuk

‎pandangan menelusuri tiap sudut
‎bibir menjahit kebisuan mutlak
‎menggenggam gembok berkarat
‎mencoba mengunci ruangan

‎sebelum pintu ruang tertutup
‎tetes air mata terakhir
‎tertinggal dalam genggaman
‎kunci kecil berkarat

Pamulang, 10 Juni 2026

 

Keropos

‎Menumpuk batu-batu tersusun rapi
Menjadi menara kokoh tanpa cela
‎Badai, gempa bumi, hingga amukan api
Tak mampu menggoyahkannya

‎Pondasi menara tampak perkasa
‎Hingga rayap perlahan menggerogoti
‎Sedikit hantaman merontokkan menara

‎Terlalu sibuk menggapai langit
‎Keroposnya pondasi tak terelakan
‎Sesal menggema di antara reruntuhan
Terbawa angin hingga menghilang

Pamulang, 12 Juni 2026

 

Sande adalah seorang ibu pekerja yang mencintai buku sejak kecil. Membaca menjadi hobi yang menyenangkan, sementara menulis hadir sebagai bentuk ekspresi diri. Ia juga sedang mengikuti Kelas Puisi Jadi Cuan, Sekolah Kepenulisan Kosana Publisher @kosanapublisher bersama @intanhafidahnh sebagai mentor kelas.

 

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan