

Aku terbengong goblok
seperti seekor kodok pekok
terapung diatas eceng gondok
di tepian pondok
Inilah aku yang sedang diam tak berkutik di pintu masuk warung bakso milik Teh Endah. Asyik saja aku berdebat dengan diriku sendiri, masuk ataukah tidak?
Ah, sudahlah … aku menyerah. Layaknya serdadu kalah perang aku balik kanan dan mundur teratur. Sudah tidak ada lagi motivasiku untuk mampir di warung itu, bahkan Mario Teguh pun tak akan bisa membujukku. Tiba-tiba sayup lembut suara memanggilku dari belakang.
“Kasep … mau kemana? Tidak mampir dulu?”
Aku mengenali suara itu, Teh Endah, si pemilik warung bakso yang sudah setengah tahun menjanda sejak kepergian suaminya yang meninggal keracunan miras oplosan. Kini dia mewarisi usaha milik suaminya.
“Punteun Teh, kebetulan aku cuma lewat dan buru-buru ke kampus, ada tugas kuliah,” ujarku berbohong membikin-bikin alasan. Iya, aku si mahasiswa yang sudah tujuh tahun betah di kampus dan skripsinya tak kunjung selesai. Gila! Pikirku … tujuh tahun jadi mahasiswa, itu kuliah atau nyicil motor?
Teh Endah cuma membalas dengan senyuman kecil tersungging di bibir dowernya. Bukan tanpa alasan aku enggan mampir. Bakso Teh Endah sudah lama jadi bahan omongan di kelurahan kecil ini. Masyarakat sudah maklum kalau Teh Endah dan almarhum suaminya telah merintis usaha warung bakso mereka sejak belasan tahun silam. Bukan rahasia juga kalau bakso mereka adalah yang paling enak dan laris di seantero kelurahan ini.
Namun semenjak suaminya meninggal beberapa bulan yang lalu, dan Teh Endah mulai melanjutkan usaha warung bakso tersebut, satu persatu pelanggan mulai lari dan tidak datang berkunjung lagi. Tidak … bukan sebab baksonya tidak enak atau sudah berubah rasa dari sebelumnya, akan tetapi mulai maraknya desas-desus soal bakso Teh Endah yang tidak enak di dengar.
“Eh, Bu Lilis. Tahu tidak, kalau si Endah itu baksonya laris gara-gara pesugihan?”
“Ah, yang bener Bu Joko? Tahu dari mana memangnya?”
“Aduh … aduh … masa Bu Lilis tidak tahu, sih? Itu bakso nya si Endah bisa enak dan laris begitu kalau bukan sebab pesugihan dari mana lagi coba?”
“Hussh! Jangan sembarangan nuduh gitu atuh bu … fitnah itu teh namanya kalau kita cuma menuduh tanpa bukti. Ghibah …. ”
“Kalau gosipnya benar itu tidak dihitung dosa Bu Lilis,” Bu Joko mendadak jadi pakar urusan menghitung pahala dan dosa.
Bu Joko si pemilik warung harian begitu bersemangat macam memberikan kampanye pilkada pada ibu-ibu yang belanja di warungnya.
“Nih, denger ya Ibu-Ibu semuanya … ini tuh bukan lagi sekadar kabar burung. Tapi benar-benar dari sumber yang bisa dipercaya. Tahu tidak? Itu kuah baksonya Endah direndam pakai air rebusan celana dalamnya loh … idih, makanya jadi ramai dan laris begitu dagangannya ….”
Hiruk pikuk riuh rendah dari hari ke hari di kelurahan kecil ini membicarakan soal bakso dan celana dalam Endah. Bu Joko adalah yang paling getol bergosip di RT ini, mulai dari gosip pak Lurah yang pisah ranjang sama istrinya, soal perselingkuhan si Mamat penjual sayur dengan Marsih pembantu pak RT, hingga urusan bakso Teh Endah yang katanya direbus pakai celana dalam. Bagaimanapun aku yakin pasti kabar miring ini telah sampai kepada Teh Endah. Setiap tembok di sini punya telinga.
Aku resah dengan situasi dan kondisi begini. Sejujurnya sebagai seorang yang telah merasakan bangku kuliah, aku tidak seharusnya memercayai mitos dan takhayul seperti itu. Seorang intelektual mesti berpikir secara ilmiah dan rasional dalam memandang realitas dan fenomena yang ada di masyarakat. Eh, buset! Kesambet Jin Plato barangkali aku ya? Kok jadi bijaksana begini.
***
Malam hari itu udara dingin menusuk tulang, Endah si janda kembang yang badannya pun mulai mengembang akibat lemak itu merasa putus asa soal usaha baksonya. Sudah beberapa bulan warung bakso yang biasanya ramai dan sering antri pelanggan, kini sepi. Suatu hal yang jelas berdampak pada ekonominya
Sayup-sayup dalam keheningan dan kesendiriannya, Endah hanya bisa mengadukan segenap keluhannya dengan berpayung bintang-bintang di langit dan membisikkan segala gulananya pada semilir angin malam.
bakso.. o.. bakso yang malang
semalang nasibmu hai janda kembang
rasanya badan demam meriang
bukan karena jarang digoyang
bukan juga karena ingin di cupang
periuk nasi sudah kering kerontang
utang menari sekeliling pinggang
***
Pagi hari itu gosip soal bakso Endah tidak cuma santer di kalangan ibu-ibu saja, tetapi juga merambah ke bapak-bapak di kelurahan ini. Mulai dari obrolan cabul di warung kopi, sampai di arena sabung ayam.
Bagaimanapun juga sore itu aku beranikan diri untuk mampir ke warung bakso Teh Endah. Tentunya tidak mudah untuk mengumpulkan setumpuk keberanian buat mengunjungi warung bakso ini.
hasrat di hati sudah tak bisa kompromi
mau makanan yang bisa menggoyang gigi
kuteguhkan hati ke sini walau macam uji nyali
demi si bakso yang bulat seperti biji
(biji mata maksudnya)
“Sore Teh Endah …. ” aku beranikan diri menyapa Teh Endah yang duduk termenung dengan pandangan kosong di samping gerobak baksonya. Teh Endah setengah kaget membalas sapaanku.
“Oalah … si kasep … mau makan bakso kah? dibungkus atau makan disini?”
Teh Endah dengan sigap melontarkan pertanyaan menderu-deru memberondongku seperti peluru. Aku jadi canggung dan kikuk karena sudah lama sekali tidak mampir ke warung ini. Lidah ini seperti lengket kena lem susah mau bicara, namun aku beranikan juga menjawabnya.
“Makan disini,” jawabku dengan cara seksama dan tempo yang sesingkat-singkatnya.
Semangkuk bakso hangat pun disajikan, aku mulai makan. Bangsat! luar biasa sekali nikmatnya bakso ini, sudah lama betul aku tidak menikmatinya semenjak isu soal celana dalam itu, aku berbisik dalam hati
“Wah, lahap betul makannya, kasep,” Teh Endah tertawa kecil melihatku yang makan rakus seperti bocah yang sudah lama tak menyentuh makanan.
Aku tersipu malu karena tidak dapat menyembunyikan ekspresiku. Suasana yang mulai cair menyulut keberanianku muncul untuk bertanya pada janda itu.
“Teh Endah, aku boleh bertanya sesuatu?”
“Tentu saja kasep, aku punya waktu yang sangat banyak disini karena cuma kamu satu-satunya pelangganku,” Teh Endah terkikik dengan nada getir
“Maaf kalau sedikit menyinggung perasaan teteh. Teh Endah tentu tahu gosip soal bakso yang sedang hangat belakangan ini. Apakah benar gosip tersebut, Teh?”
Teh Endah tertunduk dan tampak sedih mendengar tanyaku, menandakan janda ini sudah tahu gosip yang sedang menimpanya tersebut.
“Maaf Teh Endah, kalau pertanyaanku jadi membuatmu sedih,” ujarku merasa bersalah
“Tidak mengapa kasep, aku tidak tahu siapa yang tega menyebarkan isu itu, sungguh tega orang yang menyebarkan fitnah pada orang kecil seperti aku yang cuma bertahan hidup cari makan. Demi Tuhan aku tidak mungkin melakukan hal seperti yang dituduhkan itu,” ujar Teh Endah dengan nada pilu. Ekspresi wajahnya seolah menyiratkan kata-kata membahana.
ini bakso ku murni dan yahud
resep rahasia dari nenek buyut
mana mungkin dari rendaman cangcut
si kain apek penutup jembut
Ekspresi sedih Teh Endah membuatku turut merasakan kesedihannya. Seperti menusuk ke jantung, tembus ke ginjal, empedu, dan sumsum tulang belakang.
Dalam hati aku berbisik, fitnah ini tidak boleh dibiarkan lebih lama lagi. Malam itu aku berinisiatif menemui pak RT untuk mengungkapkan kegelisahanku yang kian membuncah soal kasus bakso Teh Endah. Aku merasa memiliki tanggung jawab untuk membela janda itu yang telah terzalimi dan difitnah.
Beliau juga berjanji malam itu untuk mengumpulkan jajarannya beserta beberapa tokoh, termasuk memanggil bu Joko yang paling santer menyebarkan gosip tersebut untuk klarifikasi. Pak RT berjanji nama Teh Endah akan dibersihkan dari segala berita miring.
***
Sudah dua hari berlalu sejak aku menceritakan segala kesaksian dan pembelaanku terhadap Teh Endah kepada pak RT. Suatu sore aku kebetulan lewat di depan warung bakso Teh Endah. Aku menyapa janda itu yang tampaknya sedang sibuk membereskan mangkuk-mangkuk baksonya dengan wajah yang kelelahan.
“Teh, aku pesen baksonya dua ya, dibungkus saja”
“Oalaah … Kasep … aduh, mohon maaf pisan. Baksonya teh sudah habis.”
Aku kaget dengan setengah tak percaya.
“Serius, Teh? Beneran sudah habis?”
“Iya kasep. Aku sendiri kaget kok, mendadak hari ini warung ramai pengunjung, persis seperti waktu dulu. Aku sampai kewalahan dan harus tutup awal …. ”
“Alhamdulillah kalau begitu Teh, aku turut senang mendengarnya”
“Iya, alhamdulillah. Rezeki dari Allah memang tidak kemana-mana. Duh, aku jadi nggak enak sama si kasep, padahal pasti pengen banget makan bakso, ya?”
“Ah, sudahlah Teh, tidak mengapa … toh, aku bisa kembali lagi besok”
“Sebentar kasep, sepertinya aku masih menyimpan stok bakso di dalam rumah. Cukup lah dua porsi, karena kuah masih banyak. Tapi tidak pakai mie tidak apa-apa, kah?”
“O, boleh … Tidak apa-apa, aku tunggu saja disini. Hatur nuhun, maaf nih jadi merepotkan”
“Oalaah … Sama sekali tidak merepotkan kok. Sebentar ya, aku ke dalam dulu”
Sore itu aku begitu bahagia dan senang sekali. Bukan cuma karena masih bisa makan bakso favoritku, tetapi juga karena aku telah berhasil memperjuangkan penghidupan seorang Teh Endah yang pada akhirnya bagiku memperjuangkan sebuah kemanusiaan juga. Strategi berbicara kepada pak RT malam itu berhasil dengan jitu.
Sembari menunggu Teh Endah, aku iseng menghirup nikmatnya aroma kuah bakso Teh Endah yang sedang dipanaskan di atas kompor. Aku aduk-aduk kuah bakso itu secara merata hingga dasarnya. Secara tak sengaja pada kedalaman dasar panci itu, sendok yang kupegang tersangkut pada sesuatu. Dengan pelan-pelan aku angkat benda yang mengganjal tersebut. Mataku terbelalak, tampak sebuah celana dalam berwarna merah jambu dengan motif bunga dan renda-renda.
Mendadak aku mual dan migrain tak tertahankan. Bumi seperti berputar-putar macam baling-baling bambu Doraemon.
***
Cerpen ini dimuat dalam buku Antologi Bersama Cerpen “Pojok Komedi Berpuisi” Penerbit Elfa Mediatama, Cikarang Baru, April 2021
Firdaus Herliansyah, seorang peminat dunia literasi yang saat ini berdomisili di Kota Pekanbaru, Provinsi Riau. Penulis berprofesi sebagai ASN dan beberapa karyanya telah dimuat dalam beberapa buku antologi bersama. Penulis dapat dihubungi melalui Instagram: @firdausherliansyah dan Surel: firdaus.herliansyah@gmail.com Blog penulis: firdausherliansyah.wordpress.com
Untuk pemuatan karya sastra (Puisi, Cerpen, Pentigraf, Esai, Pantun, Kritik, Resensi, Peristiwa Budaya, dan tulisan sastra lainnya) silakan dikirim melalui surel:
redaksi.tirastimes@gmail.com