Mozaik : Seharusnya Indonesia Raya Tiga Stanza

Seharusnya Indonesia Raya Tiga Stanza
 
Baru-baru ini saya ikut suatu webinar yang sebelum dimulainya acara diputarkan lagu Indonesia Raya, bagi saya itu normatif saja. Tetapi setelah saya ikut bernyanyi dari ruang virtual, eh ternyata Indonesia Raya yang dinyanyikan bukan Indonesia Raya satu stanza yang biasa populer dikumandangkan saat upacara, melainkan Indonesia Raya tiga stanza (bait). Nah, di sini menariknya. Sebelum dibahas lebih jauh, saya ilustrasikan terlebih dahulu hakikat dari sebuah lagu kebangsaan diciptakan dan dinyanyikan.
 
Hakikat diciptaknnya  lagu kebangsaan adalah untuk  membentuk nilia-nilai patriotisme dan nasinalisme suatu bangsa  serta menunjukkan identitas khas dari suatu bangsa atas bangsa-bangsa lain di dunia ini. Ada banyak cara untuk mengungkapkan rasa nasionalsme-patriotisme dalam lagu kebangsaan, misalnya bangsa Jepang mengadopsi Kimigayo dari sebuah puisi yang liriknya merupakan ungkapan pujian terhadap sang kaisar pada masa itu, zaman Heian (794-1185) dan kemudian melodinya ditulis pada akhir zaman Meiji (1868-1912).  Kimigayo sering  diterjemahkan sebagai “Semoga kekuasaan Yang Mulia berlanjut selamanya“, yang mengekspresikankekuaan sang kaisar Jepang pada masa itu. Sebenarnya ini adalah lagu yang diadopsi dari puisi pujangga yang terhimpun dalam antologi puisi bernama Kokin Wakashu sebagai puisi anonim. 
 
Begitu juga dengan lagu kebangsaan Austria Land der Berge,Land am strome yang liriknya tidak bergeser dari penyebutan atas elemen tanah,  sungai, gunung, juga memuji keindahan alamnya. Lagu ini mengungkapkan begitu indahnya alam dan kekayaan tanah yang dimiliki Austria yang negaranya terletak di belahan  benua Eropa yang lebih dari setengah wilayahnya dibentuk oleh Pegunungan Alpen. Jelas saja ekpresi identitas bangsa dituangkan dalam lagu kebangsaannya.
Hymnos is tin Eleftherian lagu kebangsaan  Yunani ditulis oleh Dionysios Solomos  diklaim memiliki lagu terpanjang di dunia. Lagu kebangsaan ini memiliki 158 stanza, tetapi yang lazim dinyanyikan hanya stanza pertama saja. Sama halnya dengan lagu kebangsaan Indonesia Raya yang digubah oleh Wage Rudolf Soepratman (1903-1938) yang sebenarnya dibuat dalam tiga stanza tetapi yang dinyanyikan secara resmi hanya stanza satu. WR Soepratman mengumandangkan lagu Indonesia Raya pertama sekali pada Kongres Pemuda II 28 Oktober 1928 di Batavia. 
 
Berikut lirik lengkap Indonesia Raya dalam tiga stanza yang sudah diubah sesuaikan dengan Ejaan yang Disempurnakan (EYD).
 
I
Indonesia tanah airku
Tanah tumpah darahku
Di sana lah aku berdiri
Jadi pandu ibuku
 
Indonesia kebangsaanku
Bangsa dan tanah airku
Marilah kita berseru
Indonesia bersatu
 
Hidup lah tanahku
Hidup lah negriku
Bangsaku Rakyatku Semuanya
Bangun lah jiwanya
Bangun lah badannya
Untuk Indonesia Raya
 
(Ulangan)
Indonesia Raya
Merdeka, Merdeka
Tanahku, Negriku yang kucinta
Indonesia Raya
Merdeka, merdeka
Hidup lah Indonesia Raya
 
II
Indonesia, tanah yang mulia
Tanah kita yang kaya
Di sana lah aku berdiri
Untuk slama-lamanya
 
Indonesia, tanah pusaka
P’saka kita semuanya
Marilah kita mendoa
Indonesia bahagia
 
Subur lah tanahnya
Subur lah jiwanya
Bangsanya, Rakyatnya, Semuanya
Sadar lah hatinya
Sadar lah budinya
Untuk Indonesia Raya
 
(Ulangan)
Indonesia Raya
Merdeka, Merdeka
Tanahku, Negriku yang kucinta
Indonesia Raya
Merdeka, merdeka
Hidup lah Indonesia Raya
 
III
Indonesia, tanah yang suci
Tanah kita yang sakti
Di sana lah aku berdiri
M’njaga ibu sejati
 
Indonesia, tanah berseri
Tanah yang aku sayangi
Marilah kita berjanji
Indonesia abadi
 
S’lamatlah rakyatnya
S’lamatlah putranya
Pulaunya, Lautnya, Semuanya
Maju lah negrinya
Maju lah pandunya
Untuk Indonesia Raya
 
(Ulangan)
Indonesia Raya
Merdeka, Merdeka
Tanahku, Negriku yang kucinta
Indonesia Raya
Merdeka, merdeka
Hidup lah Indonesia Raya
 
Tujuan mulia bangsa Indonesia tentu saja melalui pemerintahnnya  adalah untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Dan itu bisa diwujudkan dengan mengelola sumber-sumber produksi seperti sumberdaya alam yang dimiliki. Hakikat pada lagu Indonesia Raya ungkapan bahwa Nusantara ini kaya akan “tanahnya” itu ada pada stanza 2. Tanah sebagai simbol alam yang mendeskripsikan segala kandungannya; mineral berupa minyak bumi dan hasil tambang mineral lainnya layaknya emas, batu bara, timah, tembaga, aluminium dan sebagainya serta potensi kesuburan yang dimilikinya. 
 
Pada lagu Indonesia Raya tiga stanza ada harapan yang diungkap penggubahnya, kita bisa lihat lirik: S’lamatlah rakyatnya/S’lamatlah putranya/Pulaunya, Lautnya, Semuanya/Maju lah negrinya/Maju lah pandunya/Untuk Indonesia Raya. Sedangkan puja-puji penggubah terhadap negerinya yang ia cintai ada ada ungkapan: suburlah tanahnya/suburlah jiwanya/tanah yang aku sayangi/subur tanahnya.
 
Nilai filosofis Indonesia tiga stanza jelas berbeda dengan Indonesia Raya satu stanza. Soal menyanyikan lebih lama, dan tegak berdiri lebih lama beberapa menit disaat upacara agaknya tidaklah mengubah makna bahwa Indonesia Raya masih tetap negeri yang kita junjung tinggi, negeri yang kita sayangi, negeri yang kita cintai sampai akhir menutup mata. Sepertinya kita terkenang dan terbuai dengan syair Indonesia Pusaka-nya Ismail Marzuki.*
 
 
Untuk pemuatan karya sastra (Puisi, Cerpen, Esai Kritik Resensi, Peristiwa Budaya dan tulisan sastra lainnya) silakan dikirim melalui surel: redaksi.tirastimes@gmail.com

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan