In Memoriam Sang Guru Assoc. Prof. Tity Hastuty (1960-2021)

PROF. TITY HASTUTI (1960-2021)

IN MEMORIAM SANG GURU ASSOC. PROF. TITY HASTUTI (1960-2021)

Oleh Husnu Abadi

Tiba-tiba  pada Ahad ini,  pekan pertama Agustus ini, dunia pendidikan di Riau ini, kehilangan salah  seorang guru yang penuh dedikasi. Universitas Islam Riau, tempat dia mengabdi sebagai dosen pada  prodi Pendidikan Akutansi dan kemudian pada Prodi PGSD  (Pendidikan Guru Sekolah Dasar), harus kembali mengibarkan bendera setengah tiang.  Bu Dra. Tity Hastuti,MPd. (binti Harjo Soewarto_ ,  61 tahun, meninggal dunia pada Ahad , pukul 20.30. setelah untuk beberapa lama sakit. Dalam sambutan Rektor UIR  Syafrinaldi ketika melantik 3 orang Wakil Rektor UIR (Dr. Syafhendry, Dr. Firdaus AR dan Dr. Admiral), Senin pagi, beliau menyatakan bahwa selama masa wabah Covid19 ini, UIR telah kehilangan dosen terbaiknya sekitar 10 orang,  dan yang terakhir adalah bu Tity Hastuti. Ini beban berat bagi UIR untuk mencaripenggantinya, yang komitmen dan karakter keteladannannya, mewarnai semua perilaku kesehariannya.

Salah satu keteladanan yang beliau contohkan adalah soal ketepatan waktu dalam setiap kegiatan termasuk dalam perkuliahan. Beliau sengaja  memberikan perhatian yang sangat  pada keharusan menepati waktu, dan selalu mengingatkan pada pengundang, khususnya di internal kampus, apakah acara akan dimulai pada waktu yang telah tertera dalam undangan atau bagaimana. Bila tidak ada jaminan tepat waktu sesuaai dengan waktu undangan, beliau selalu mengibgatkannya, sebab waktu buat beliau sangatlah berharga, baik karena tugas  pelayanan ataupun untuk mahasiswa. Beliau tak segan-segan juga untuk sedikit menyindir pihak pengundang bila pengundang lalai atas ketepatan waktu itu. Bahkan untuk acara  silaturrahmi dan pengajian bulanan Darma Wanita, dimana beliau diserahi untuk megurusnya, beliau tak segan-segan untuk mendisiplinkan para ibu-ibu dosen wanita dan para isteri para dosen yang pria. Nah untuk memberikan motivasi disiplin tepat waktu, beliau memberikan pengumuman kepada anggota Darma Wanita yang datang tepat waktu, misalnya jam 14.00, diberikan hadiah yang menarik, berkesan dan bermanfaat. Hasilnya ? Semakin lama jadwal acara Darma Wanita pun  semakin disiplin dan semakin dekat untuk  tepat waktu.   Dr. Sri Amnah, Dekan FKIP (2020-2024), yang meminta pada Tity Hastuti, sebagai Wakil Dekan Bidang Akademis, mengaku salut atas dedikasi dan keteladanan untuk tepat waktu, tepat janji ini. Bahkan hal ini sedikit banyak membuat pimpinan berusaha dengan serius bila mengunbdang rapat untuk tepat waktu. Paling tidak keseganan kolega atas konsistensi dan komitmen bu Tity, dirasakan pengaruhnya.  Semoga kami semua dapat meneruskan keteladanan dan keteguhannya.

Bagi saya, bu Tity memang punya sisi yang pantas  diteladani. Sebagai anggota P3T2 (Panitia Penyelesaian Pelanggaran Tata Tertib= Komisi Etika)  dari unsur FKIP, rapat-rapat Panitia selalu hidup bila ada beliau. Pertama soal keharusan tunduk dan taat pada  jadwal (harus tepat waktu), dan selalu meminta saya sebagai Ketua untuk memperhatikan  itu. Panitia ada 9 orang, dan hanya bisa dimulai bila telah dihadiri oleh 5 orang. Namun bila yang hadir baru 3 orang, dan 2 orang sudah pasti akan hadir (tapi terlambat), maka sidangpun sudah bisa dimulai. Hal ini menjaga dan menghormati mereka yang taat waktu. Model ini salah satu yang memberi usulan adalah Bu Tity.

Kedua, beliau termasuk anggota Panitia yang cukup radikal dan tak mau memberi toleransi pada kasus-kasus susila, apalagi korbannya adalah wanita (mahasiswi atau karyawti). Baik itu terlapornya adalah dosen, termasuk dosen yang berjabatan Professor sekalipun, maupun mereka yang sedang  menjabat sekalipun, dan siap menerima resiko dari mereka (kolega)  yang menerima keputusan Rektor akibat rekomendasi Panitia. Pada kasus susila, dimana terlapornya adalah 2 dosen, yang kesemuanya  mahasiswi sebagai korbannya, beliau mengusulkan agar  si A! direkomendasikan dipecat dari status dosen UIR dan si B  dinonaktifkan 6 semester.  Beliau termasuk sangat sensitif bila wanita selalu menjadi obyek perilaku pelecehan.

Sifat beliau yang menjunjung tinggi disiplin waktu, membawa beliau pada sifat yang zero tolerance pada perilaku yang berbau rasywah (memaksa mahasiswa untuk membayar  sejumlah uang atau meminta barang tertent,   dalam kaitan  hubungan dosen-mahasiswa). Pada sejumlah kasus yang diperiksa oleh Panitia (setelah kasusnya dilimpahkan Rektor UIR kepada Panitia) maka sejumlah kolega dosen yang diperiksa Panitia selalu direkomendasikan untuk dipecat, diskor selama sekian semester, atau dikembalikan ke Kopertis).  Beliau termasuk yang berada di garis depan dalam hal ini, asal menurut keyakinan Panitia dan fakta yang ada, memang telah terbukti.  Tentu saja keputusan menerbitkan rekomendasi ini , selalu diputuskan oleh sekurang-kurangnya 7 orang anggota,  dan disetujui oleh mayoritas anggota. Dalam hal ada anggota yang tidak sependapat dengan pendapat mayoritas, maka anggota tersebut dapat menyampaikan pendapatnya yang berbeda (dissenting opinion). Seingat saya, beliau pernah menyampaikan dissenting opinian, karena beliau berpendapat hukuman yang direkomendasikan itu kurang berat, dengan alasan yang cukup cerdas.

Apakah memang ada dalam kasus yang ditangani Panitia mereka yang berjabatan Professor ?  ternyata ada, dan seingat saya ada 2 orang yang berjabatan Associated Professor.

Menurut kesan yang didapat Prof. Ellydar Chaidir, bu Tity merupakan pribadi dan  teman yang menyenangkan,  sahabat yang penuh toleransi, peduli pada sejawat.  Penuh toleransi artinya siap menerima perbedaan pendapat dalam pengambilan kebijakan atauupun dalam dunia akademis. Namun, beliaupun punya kepribadian yang kokoh, dan siap untuk  membela mana yang benar serta siap mempertahankannya.  Ada tempatnya untuk bersikap toleran dan ada saatnya untuk menyatakan kebenaran, walau itu pahit. Contoh pada persidangan P3T2 di atas, adalah gambaran nyata sikap beliau, pada kasus susila dan pemalakan mahasiswa, beliau menerapkan prinsip yang kokoh dan kuat, tetapi ketika keputusan telah dibuat oleh Panitia, beliaupun menerimanya.

Bu Tity karena kemampuan akademisnya, mengajar di lintas prodi. Mahasiswa yang serius kuliah sangat menyenanginya, karena ilmu dan karakaternya yang kuat serta ilmu yang luas. Beliau sudah lama menyandang jabatan fungsional  Lektor Kepala (Associated Professor),  dan bertatus sebagai Dosen PNS yang dipekerjakan di UIR.  Usianya kini  61 tahun (mengabdi sebagai dosen sekitar 30 tahun) ,  dan semangatnya untuk kembali mengajar nampaknya  tak kesampaian,  mengingat penyakit yang dideritanya selama beberapa bulan ini. Tuhan telah memilihkan tempat yang layak untuknya, pada Ahad, 1 Agustus 2021, jam 20.30.

Hidup itu pendek, dan amal shalehlah yang mengabadikannya.

Selamat jalan bu  guru, perkenan kami meneruskan langkah keteladananmu !

(Husnu Abadi, adalah Ketua P3T2 UIR (2007-2017), dosen Fakultas Hukum UIR)      

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan