Cerpen E. Rokajat Asura

DIA YANG MENGGENGGAM MASA LALU


            Kamar ini tidak berubah. Meja, kursi, tempat tidur, semuanya milik masa lalu. Untuk semua ini, Panca rela membayar uang kos bertahun-tahun, tanpa pernah ditempati. Padahal kota ini sudah beberapa kali ganti Wali Kota. Sungai yang membelah kota tempat kita dulu melabuh angan telah pula berubah.

            Aku juga bukan mahasiswi teknik yang cengeng lagi. Bila kau dulu mengira aku melakukan kebodohan dengan tidak membawa liontin pemberianmu itu, ternyata itu keliru. Bagiku liontin itu remote control, sekali pencet akan masuk ke saluran saluran yang itu-itu juga, selama bertahun-tahun. Kini aku bisa bersorak, sebab engkaulah yang menggenggam masa lalu.

            Saat kereta meluncur meninggalkan kotaku tadi pagi, berkali-kali aku mengingatkan diriku bahwa semuanya sudah berubah.

“Selesai seminar segera pulang, jangan ada sedikit ruang untuk tenggelam dalam masa silam,” ujar Mama. Tentu aku akan mengingatnya selalu, bukan karena takut durhaka, tapi karena kota ini akan begitu banyak kenangan yang menyambutku.

Sepuluh tahun ternyata terlalu singkat untuk bisa melupakan semuanya. Gambar kenangan itu begitu mudah hadir. Aku tidak bisa menghindar, ketika turun dari kereta, gambar kenangan mengucapkan selamat datang. Saat menyusuri koridor stasiun utara serupa menapaki masa lalu, tukang sate di sebelah barat stasiun, tempat kita mangkal dulu, pengrajin klapertaart di gang depan stasiun, yang entah berapa kali dalam setiap bulan kita nongkrong, dan tentu wajah Ibu Kos kita yang selalu berdandan sempurna sebagai menak Sunda. Kota ini telah banyak berubah selama sepuluh tahun terakhir, tapi aku tak perlu jadi tamu asing.

**

Hari ini, apa yang terjadi sepuluh tahun lalu itu dengan leluasa hadir ketika aku dibimbing Ibu masuk ke dalam kamar yang hampir empat tahun aku tempati. Aku sengaja membiarkan liontin itu di dalam laci meja belajar. Kuharap nanti kalau kamar yang kutempati diisi penghuni baru, dia yang akan menemukan liontin itu. Dan Panca marah besar.

            “Sampai sekarang Panca melarang Ibu menyewakan kamar ini. Jadilah kamar ini terus kosong, hanya sesekali saja dia datang, tidur barang sejam dua jam, lalu pergi. Tapi ibu tak pernah lupa menyuruh anak-anak untuk membersihkan bekas kamarmu ini.”  

Ah, Panca. Engkaulah ternyata yang tak mau melepas masa lalu. Kau memelihara kamar ini agar tidak berubah. Kenapa tidak sekalian kau beli kota ini, sehingga setiap jengkal kenangan kita tak terlindas masa. Tapi liontin itu, aku tak membutuhkannya, sebab aku tak mau kehidupanku dipilihkan benda mati itu.

            “Terakhir katanya tinggal di Jerman. Kau sendiri tidak pernah tahu dimana Panca berada?”

            Aku menggeleng. Kasihan dia. Kecewa dengan keputusan yang kuambil waktu itu. Ibu keluar dari kamar membiarkan aku menikmati kesendirian, menyambut sore yang merambat.

**

            “Ibu?” tanyaku ragu saat dini hari mendengar pintu diketuk. Tak ada yang menjawab. Kesadaranku belum sepenuhnya pulih ketika membuka pintu setelah mendengar ketukan kedua kalinya.

            “Aku telah diijinkan menemui kau malam ini. Jangan menolak. Bukankah sepuluh tahun kita berpisah, akan banyak yang bisa kita obrolkan? Tapi percayalah, aku hanya butuh waktu sedikit saja untuk bicara, setelah itu akan pergi,” ujar Panca ketika masih melihatku bengong.

            “Tapi, kita hanya ada di masa lalu, Panca, bukan siapa-siapa lagi sekarang ini.”

            “Tidak. Kau tidak berubah. Seperti pada liontin, kutukan itupun terjadi juga pada dirimu, Ndri. Kau tetap seperti sepuluh tahun lalu, seperti juga aku, sampai hari ini kau masih sendiri.”

            Aku tak bisa menolak, membiarkan Panca masuk. Dalam jarak sangat dekat, aku mencium wangi parfum yang dulu. Oh, sungguh kau tidak berubah, Panca. Semuanya kau genggam erat kecuali wajahmu sedikit pucat.

            “Aku dikasih tahu teman, katanya kau besok jadi pembicara. Kesempatan baik bisa menambah ilmu sekaligus bisa ketemu kau,” ujar Panca. Dia berdiri di depan meja belajar, membuka laci dan merogoh sesuatu dari dalamnya. Lalu, dia berbalik ke arahku, menunjukkan liontin itu, tertunduk sedih. Lelaki tangguh itu sekarang tampak demikian rapuh.

            “Liontin ini masih ada di tempatnya seperti dulu. Sekarang aku mengambilnya dan akan menyerahkannya kembali padamu. Jika kau tetap menolak juga, aku akan melemparkannya. Biarlah ia jadi milik masa sekarang, jangan terus-menerus dibelenggu di dalam laci meja ini,” jelas Panca. Aku menggeleng.  

            “Kau tidak mau berubah?”

            “Aku tak mau kembali pada masa lalu, Panca. Ada darah kita, janji kita, juga saksi pada apa yang kau lakukan dulu di dalam liontin itu.”

            “Apakah kau lebih memilih aku membuangnya? Sudah terlalu rapat kau menutup maaf?”

            “Sebelum kau minta, aku telah memaafkanmu, Panca, tapi jangan usik kehidupanku dengan menyerahkan liontin itu.”

Panca mengangguk, beringsut keluar kamar tanpa bicara. Langkahnya agak terbungkuk. Aku tak memerhatikan ke arah mana dia melemparkan liontin itu.

**

            “Ibu pernah melihat ini?” tanyaku seraya memperlihatkan liontin itu saat aku pamit.           “Dari mana liontin itu?”

            “Selama bertahun-tahun Panca menyimpannya di dalam laci meja belajarku, Bu. Untuk alasan itulah dia bersedia membayar uang kos, sekalipun tidak ditempatinya. Dia berharap tak ada seorang pun yang akan mengisi bekas kamarku, apalagi jika sampai menemukan liontin ini.”

            “Ibu baru tahu sekarang, Ndri!”

            “Kemarin malam dia datang, mengambil liontin ini dan menyerahkannya padaku untuk kedua kalinya, tapi aku tetap menolaknya. Dia pergi dan melemparkan liontin ini. Tapi tadi aku menemukannya kembali di bawah bantal.”

            “Kenapa kau menolak, Sayang?”

            “Janji tak ditepati dan merah darah diingkari, Bu.”

            “Kalau Panca tidak berubah, kenapa kau tidak juga berubah?”

            “Perubahan itu sudah aku lakukan sejak sepuluh tahun lalu, Bu. Justru aku akan kembali ke masa lalu, bila mau menerima liontin ini.”

            Aku pamit dan bergegas menuju stasiun. Kereta terlambat datang dua jam. Tak terlalu banyak penumpang malam itu. Hanya ada satu penumpang dekat toilet, seorang di bagian tengah sebelah kanan, dan dua orang dekat pintu keluar. Aku sendiri setelah menyimpan travel bag di kompartemen, mengatur posisi kursi dan pijakan, membentangkan selimut dan siap-siap tidur. Tapi kedatangan seorang pria ringkih diiringi batuk-batuk yang menempati kursi di seberangku, membuat aku menoleh.

            “Menjelang tengah malam batuk ini selalu setia datang. Serupa kenangan yang tahu kapan harus kembali,” ujar lelaki itu seraya memandang ke luar jendela; “Aku harap siapapun yang mendengar batuk ini, tak akan lupa bagaimana cara menerima maaf dariku. Jangan seperti gadis masa laluku, yang tak tahu bagaimana cara menerima perubahan.”

            Saat aku menanyakan akan turun di mana, dia menyebutkan nama stasiun yang sangat akrab denganku. Aku benar-benar memerhatikannya kini. Merasa diperhatikan, lelaki itupun menoleh. Panca?

***

Lahir di Bandung, telah menerima banyak penghargaan kepenulisan dari beragam lembaga. Telah menulis puluhan buku, yang terbit tahun 2020 antara lain Haji Hasan Mustapa: Sufi Besar dari Tanah Pasundan (biografi, Imania, 2020), Gogoda dan Di Pajaratan (Kumpulan Carita Pondok, editor, Siberia, 2020) dan Potrét (Kumpulan Puisi Sunda, editor, Siberia, 2020).

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan