Puisi-puisi H. Dheni Kurnia

MEMBACA AIR
Kepada Roh Abah

Air yang bernafas sentak
Menyentuh bibir tebing
Mendentangkan tanah tinggi
Mengalun dendang panjang
Tentang arus yang membalik
Tentang tanah yang membusuk
Memaku pancang tiang gelombang

Dari pusar gundukan pasir
Air mengalir jauh ke kuantan
Membalik lagi ke indragiri
Enggan berpergian ke laut dalam
Berputar putar di tempat sama
Membentuk riak sejauh mata
Menceruk relung menempah nama

Hutan yang bersebahat dengan bunga
Membelah diri menjadi tanaman
Bagai alunan puput serunai
Mendesah simponi tak henti
Memutar waktu pada sumbunya
Mengingat kenang ke anak cucu
Memberi hidup sampaikan kini

O.. Air yang mengair
Nafasmu mewangi nadi
Seperti kesturi di petalongan
Seperti tapak gajah di kuala cenaku
Seperti gambus di pekanheran
Seperti pasir di tanah ringgit
Engkau pergi dan pulang sesukamu

O.. Molek yang menyunsang
Menyesak hari dengan arus
Menggantang lada di narosa
Berinduk limpah di selat berhala
Bernenek satu di hulu reteh
Berlimaukasai di riak sumpu
Mentahbis mole menjadi molek

Air yang membasuh muka penjajah
Adalah air yang sama di mesjid raya
Yang tunak mengolah rempah
Cengkeh pala dan tampuk gambir
Mengalir sampai ke eropah
Penghangat tubuh ketika demam
Mengukir emas di panasnya

Bagai gula dirubung semut
Air adalah kehidupan abadi
Yang menyebar ke kanal rendah
Melahirkan ribuan pekerja
Dari arab, cina dan madagaskar
Menjadi budak negeri cokelat
Bermandi peluh bersuka suka

Ketika dusun salak menjadi tinggi
Tanah busuk menjadi kembang
Harum mewangi di ujung sajadah
Berimam haji balik di mekah
Hingarlah jenderal di batavia
Melawatlah residen di tanjungpinang
Ke laman dusun sako kelayang

O.. Air yang mengair
Gelombangmu memecah lirik
Seperti alun riam di sungailalak
Seperti bendungan hilir di jahpura
Seperti mendung di awan belilas
Seperti kuala di ujung peranap
Engkau pergi dan pulang sesukamu

O.. Molek yang menyunsang
Rembasi kelok pematang singingi
Lamun ombak muara inuman
Mengair batu besurat lubuk jambi
Melahirkan desa di ujung negeri
Mengeraskan tadah di batang gangsal
Menumbuhkan legenda tentang puaka

Air yang mengalir panjang
Menyentuh tangga sultan indragiri
Yang berumah di tanah johor
Maka berdaulatlah tuanku
Teriaknya memekak ke keritang
Menyentak batin puak sembilan
Menabal patih di setiap simpang

Bagai gendang dengan rempak
Bunga bertali dengan kumbang
Bagai menyirih dengan kapur
Bibir merah mengulum delima
Air nan mengalir ibarat aio
Arus nan membalik bagaikan mole
Aio dan mole membelah laut

Pasir keranji bertiang emas
Pasir kelampaian berbunga melati
Pasir ringgit berhias taman
Batu gajah beriman lawas
Batu bersurat bermurah hati
Tanah tinggi berangka iman
Aio mole mewangi kesturi

O.. Air yang mengair
Rupamu indah melampau
Seperti mengaca di tanah jawa
Seperti payung di pagaruyung
Seperti bening perigi banyuwangi
Seperti pukau di tanah lintau
Mentahbis aio menjadi air

O.. Molek yang menyungsang
Yang berpusar di keramba singkarak
Memenuhi batang mandau dan kampar
Membasuh jalur di mudik rangau
Membagi duka di pusaran siak
Berlunyah padi di kuala cenaku
Menembus batas nama leluhur

Air yang mengeraskan pematang
Membekas tapak para suhada
Membasuh luka orang perantau
Mensuci diri tuan kadi
Pesta arak para penjajah
Diiring tembang buruh kontrak
Merendam karet dengan getah cuka

Tanjunggading menangkar gajah
Minyak menyembur di bumi emas
Sultan tertawa dengan senyuman
Mengiring lingga dengan marwah
Merentak lumpur berharap cemas
Hutan merekah berbunga rotan
Aio dan mole bergudang ingat

Air berpusar cerita bermula
Dekat pasiran di langkah lama
Datanglah sultan dan dayangnya
Melepas lelah sepanjang mata
Sungai kecil tanpa muara
Mengaduk lumpur di dasarnya
Memuji pencipta mencari sebab

O.. Air yang mengair
O.. Molek yang menyunsang
Mentahbis kenangan raja raja

Airmolek, 14.20

MEMBASUH MUKA DI KELAYANG

Di loyang rahim bersiram
Kolam penuh bidadari mandi
Diterangi cahaya dinihari
Menyongsong sinaran pagi
Kelayang negeri keramat

Turunlah peri dari kayangan
Dengan sayap tujuh sepilin
Membawa kabar bulan purnama
Berita suka setawar sedingin
Sebelum terbang menungkah layang

Mandi bersibak air mawar
Mewangi pandan terbawa arus
Menghentak hati datuk sakti
Mengimpi siang terkenang panjang
Rambut sang peri mengurai pinang

Di kolam loyang berlumpur emas
Di air keruh berwarna jernih
Diantara decak kecipak air
Membayang rindu dalam basahan
Datuk terhentak puncak berahi

Di kilau cahaya petang
Berhembus angin di tangkai sirih
Hanyutlah rindu datanglah hasrat
Jauh hendaklah menjelang
Dekat janganlah diturut

Tapi apa hendak ditanya
Dunia berlain alampun beda
Peri jauh keturunan bunian
Datuk sakti anak tumenggung
Menangkap bayang tidak mengukur

Seperti garis rukuk dan iman
Takdir adalah buah perjalanan
Datuk sakti berakal tinggi
Sang peri terikat dengan janji
Mekarlah bunga di taman loyang

Kepak sepilin menghilang satu
Selendang panjang menggumpal lepat
Tersuruk jauh di dapur asap
Hati terpaut tersebab hasrat
Segala ilmu menjadi hilang

Datuk dan peri lahirkan keturunan
Lelaki pemburu dan tuah pesilat
Berniaga jauh sampai seberang
Engku putri meruwat rumah
Ahli memasak dan bertanam

Di kolam loyang cerita menaut
Tujuh turunan membasuh kaki
Hilanglah mantra segala ilmu
Larutlah datuk dalam lamunan
Jenguk keturunan ke masa depan

Membasuh muka di dingin kelayang
Di kolam penuh bidadari mandi
Terkenang datuk membuka hutan!

Kelayang, 14.2016

BERDIRI DI BATANG PERANAP
Kepada Roh Pakis

Ketika talang mandi di rawa
Hanyutlah batang ranap layu
Lena menebar bau lumpur
Bergerigi bak tombak lanun
Mengapung kering tak berkulit

Ranap layu menjadi kembang
Tumbuh besar bersama pauh
Melahirkan bunga kaca piring
Membingkai loyang nampah seri
Pauh yang masam
Berubah legit
Loyang hitam
Menjadi tempayan

Ketika talang beraja di mata
Mengapak dayung di pohon pulai
Membentuk kajang untuk ke hilir
Terpasanglah rotan membentuk sawar
Yang menghambat air ke rakit kulim

Hati tak puas jiwa tak lepas
Datuk menyunsang kajang ke hulu
Mengayuh lurus ke batang peranap
Mandi basah di batang kuantan
Menepuk air
Untuk setawar
Menyelam dalam
Untuk sedingin

Ketika pauh bercampur salai
Piring berdentang petanda helat
Di lidah pauh menari decak
Di mulut beranap aromanya
Pauh dan ranap mengundang peranap

Hajat sudah mamak pun lepas
Balik ke asal di batang peranap
Membuat kenduri tujuh hari
Kampung bersinar tujuh turunan
Melepas lelah
Menyenang hati
Membuat rindu
Sepanjang badan

Ketika tudungsaji penuh terisi
Datanglah talang dari pedalaman
Di batas jambi dan sorolangun
Membangun marwah di pucuk rantau
Memberi gelar batin pesajian

Korong berseri kampung terbangun
Membentuk lingkar luhak tiga jorong
Dari rawa pauh yang meranap
Sampai ke lubuk batang peranap
Berdiri tegar
Membangun nasib
Mengenang malam
Tak berdinihari

Ketika hari berganti musim
Lewat masa sepanjang badan
Membentang jauh ke baturijal
Menaruh beban di semelinang tebing
Memangkas rebung di semelinang darat

Menerawanglah negeri di arus lalu
Memekarlah getah sepanjang jalan
Semerbak meruap di pandan wangi
Bercampur aroma batang serai
Untuk kemuliaan
Katipo putra
Sentako raya pagar gumanti

Ketika peranap dan batang peranap
Berinduk ke tanah reteh
Bersultan ke raja indragiri
Lahirlah penantian panjang
Kaki berdiri berlama lama

Batangperanap, 14.2016

PENDUMPUAN PEKANHERAN

Rentak lalu merentaklah
Gambus dan rebana jadi saksi
Sialang nan bergoyang
Dahan enau nan bertanda
Pasak batu nan tetap padat
Melesat ke roh bunian
Membuat pekan menjadi riuh

Melangkahlah bunian ke pasar lama
Mencari bakung ke pohon mati
Di pinggir danau lubuk kepayang
Tak terlihat mata nan banyak
Tak tersentuh tangan nan menjangkau
Tak terkejar roda pedati
Berputar putar mencari kampung

Di pondok nira penghulu tayo
Dekat pendupuan pekanheran
Terjemurlah silais dan redang
Baung merah berkumis ijuk
Menanti helat tujuh hari
Mengawal negeri dengan rotan
Jadikan tanah penuh tendawan

Sialang yang berbuah madu
Lahir besar sialang dua dahan
Rantau yang sepanjang galah
Lahir tunak rantau bakung
Danau biru melepas kajang
Lahir berair danau baru
Pulau redang jauh ditengah
Lahir rantau redang lama
Alam terkembang membentuk awan
Lahir datuk alang kepayang
Berangan angan memuja tubuh
Lahir adik lubuk berangan
Jauh berjalan talang dan mamak
Lahir adat talang jerinjing
Mematok tanah sepanjang batas
Lahir pendupuan kota lama

Pekanheran, 20.2016

MENANGKAP RINGGIT

Terbanglah roh terbanglah
Jauh ke bilik malikul kuddus
Ke rumah jalan yang lurus
Tak bersimpang tak berbelok
Tempat bertahta yaumul mahsar

Baliklah roh baliklah
Ke tangga di penyimpanan padi
Memahat palung beras dalam dalam
Untuk kemuliaan anak cucu
Tak mengais lais sepanjang badan

Hampirlah roh hampirlah
Di datar butir pasir ringgit
Agar kelihatan dari kejauhan
Mengilau terang berkulit cahaya
Kutangkap engkau selamanya

Pasir ringgit
Induk muara
Pasir ringgit
Roh nan terbang
Pasir ringgit
Roh nan balek
Pasir ringgit
Roh nan singgah
Kutangkap engkau selamanya

Pasirringgit, 20.2016

DHENI KURNIA; Lahir di Airmolek, Indragiri Hulu, Riau. Sastrawan dan Wartawan Indonesia ini, memenangkan Buku Puisi Terbaik pada HPI (Hari Puisi Indonesia) 2018 dengan judul BUNATIN. Sedang Buku Mantra Puisi Roh Pekasih, juga masuk Buku Unggulan di HPI 2017. Sedang buku Olang 2, mendapat penghargaan dari University Sultan Azlan Syah (USAS) , Perak, Malaysia

Sebagai Wartawan, pernah menjadi Wakil Ketua PWI Jambi (2000-2005), Ketua PWI Riau 2007-2017 (dua priode). Saat ini dipercaya pula menjadi Ketua JMSI (Jaringan Media Siber Indonesia) Riau priode 2020-2025.

Pernah membacakan puisi dan membawa kesenian Talang Mamak, Inhu, ke beberapa negara ASEAN, Amerika Serikat, China dan beberapa negara di Eropa.

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan