Terakhir | Cerpen : Sih Yuliawati

256

TERAKHIR

Usia pernikahan kami sudah masuk tahun kesembilan. Namun hingga saat ini belum juga ada tanda-tanda akan dikaruniai momongan. Berbagai usaha sudah dilakukan untuk segera bisa mendapatkan buah hati. Banyak solusi dari mana pun sudah kami jalankan, namun belum juga kunjung tiba kesempatan yang dinanti itu. Usiaku pun saat ini sudah masuk kepala tiga. Aku takut dan sangat khawatir jika Allah memang tak berkenan menitipkan amanahnya pada kami.

Suatu hari, Mas Wisnu suamiku, menyampaikan niatnya untuk adopsi anak saja. Itu iya usulkan karena aku sering kesepian di rumah jika dirinya pergi kerja. Supaya rumah kami tidak sepi, karena saudara pun jauh-jauh. Hanya anak-anak tetangga yang kadang main ke rumah sebentar-sebentar. Tapi semua aku kembalikan lagi pada niat Mas Wisnu.

“Bagi Rin, tidak masalah Mas, tapi bagaimana dengan keluarga Besar Mas di Kampung? Apakah mereka setuju?” ujarku sambil menepuk-nepuk bahunya.

“Mas rasa ini tidak perlu kita bicarakanlah dengan mereka. Karena kan kita yang akan menerima konsekkuensinya nanti.”

“Kalau memang Mas berkenan dan begitu, Rin mah ok saja,” jawabku pelan.

“Ok kalau begitu besok kita ke Panti Asuhan Bunda ya Dik,” ajaknya sambil memelukku erat.

Tak terasa air mata ini meleleh tanpa sepengetahuan suaminya. Aku hanya merasa seperti tak berguna jadi seorang wanita. Padahal menurut dokter kami semua sehat, hanya Tuhan saja belum memberikan rezeki-Nya. Sampai akhirnya niat mengadopsi anak pun keluar dari mulut Mas Wisnu. Padahal diriku masih berharap bisa hamil.

Qodarullah, Minggu pagi, saat kami hendak pergi ke panti asuhan, tiba-tiba tubuh ini hoyong lalu tak sadar lagi persis di depan rumah. Lebih kurang satu jam aku pingsan, kata Mas Wisnu menjawab pertanyaanku setelah sadar. Sudah banyak tetangga yang memenuhi ruangan di rumah kecil kami. Ada dua orang yang berpakaian putih-putih. Ternyata mereka tetangga belakang rumah, Bidan Fani dan Suster Ida. Dengan senyum khasnya mereka menyapa ramah.

“Bagaimana Mbak Rin? Sudah agak baikan?”

“Su…sudah Bu Fani, Cuma masih sedikt pusing dan mual. Terima kasih ya Bu, atas bantuannya.”

“Sama-sama Mbak Rin, ini kan sudah tugas saya,” ujar Bidan Fani sambil mengelus-elus lenganku lembut.

“Oh, iya, apa penyakit istri saya Bu fani?” tanya Mas Wisnu khawatir sekali.

“Kalau dari hasil pemeriksaan sementara sepertinya kecapekan saja Pak Wisnu. Dan sepertinya ada masalah dengan lambungnya. Tapi saya sarankan nanti Pak Wisnu beli tespek ya, ini hanya dugaan saya saja. Tapi belum jelas. Makanya setelah di tes besok pagi baru akan jelas hasilnya,” jelas Bidan Fani penuh harap.

“Kalau begitu saya beli sekarang saja ya Bu Bidan,” pinta Mas Wisnu kegirangan sambil memegangi kedua tanganku.

“Tapi ngetesnya besok pagi ya Pak, agar lebih akurat,” pinta Bidan Fani.

“Baik Bu Bidan. Terima kasih.”

 Akhirnya Allah memberikan jalan terbaik. Dia mengabulkan doa-doa dan harapan besar kami. Aku akan menjadi seorang ibu seperti wanita pada umumnya. Aku akan menjadi wanita yang sempurna. Yaa Allah, Engkau sungguh Maha pengasih dan penyayang.

“Alhamdulillah ya Dik, akhirnya Allah kabulkan doa kita. Baru saja kita berniat untuk ke Panti Asuhan, Allah sudah menjawab doa kita.” ujar Mas Wisnu sambil memelukku bahagia.

“Iya Mas. Padahal Rin sudah hampir putus asa Mas,” sahutku manja.

“Hemmm…, memangnya kamu saja yang begitu. Mas kan juga sedih. Apalagi kalau kumpul sama kawan-kawan seangkatan kita, rata-rata mereka sudah punya anak. Gimana gitu perasaan Mas Dik. Karena sepertinya kita saja yang belum punya anak.”

“Tapi Mas, aku sempat takut kalau Mas bakalan ninggalin aku, bagaimana kalau kita nggak punya anak?” Tanyaku cemberut.

“Dah….mulai nih, aneh-anehnya lagi. Sudahlah, sekarang gimana? agak enakan badannya? Kalau sudah besok kita ke dokter ya, kita lihat hasil USG anak kita,” tukas Mas Wisnu memotong pembicaraanku yang katanya mulai ngawur.

“Rin kan takut aja Mas, siapa tahu Mas akan tinggalin Rin.”

“Nggaklah sayang, Mas ini hanya milikmu. Percayalah.”

“Aamiin…semoga ya Mas. Selamanya kita akan bersama dalam suka dan duka,” pintaku sambil ngelendot ke bahunya.

“Wah… bahagianya Mas Wisnu dan Mbak Ririn. Sebentar lagi akan punya momongan ya,” celetuk Bu Tania tetangga depan rumah saat melihatku marathon pagi.

“Alhamdulillah Bu Nia, doakan selamat sampai lahiran ya Bu,” jawab Mas Wisnu bahagia.

“Oh, iya… selalu di doakan mudah-mudahan Mbak Ririn dan bayinya sehat dan selamat.”

“Terima kasih Bu Nia, jawab kami bersamaan. sambil tersenyum ke arah rumah mereka. Akupun kembali melangkah perlahan arah pulang.

Saat membahagiakan itupun tiba, aku melahirkan bayi perempuan mungil dan cantik, yang kami beri nama CANTIKA PUTRI. Tidak ada kebahagiaan  lain yang dapat diceritakan kecuali saat kehadiran buah cinta kami. Semua orang ikut bahagia. Keluarga, sahabat, kerabat dan para tetangga. Mereka semua memberikan selamat dan rasa suka citanya dengan penuh haru. Karena setelah melewati perjalanan panjang, aku dan Mas Wisnu akhirnya menjadi keluarga kecil yang penuh kebahagiaan.

Sejak Cantika lahir setiap hari Mas Wisnu selalu pulang dari kantor untuk melepaskan rindunya pada buah hati kami sekalian makan siang. Selain momong gadis kecilku, urusan rumah tangga, dan lainnya semua ku jalani dengan bahagia. Tapi karena belum biasa mengerjakan kerjaan rumah sambil mengasuh, jadi aku sedikit kerepotan. Asal sudah masak, mencuci dan bebenah rumah, aku merasa sangat kelelahan. Mas Wisnu paham benar dengan kondisiku. Dia juga sangat maklum, anak semata wayang papa dan mama yang biasa punya asisten rumah tangga Harus bisa mandiri. Mau bagaimana lagi, semua kukerjakan secara perlahan-lahan serta ku pelajari cara membagi-bagi waktu dengan menyambi. Karena gaji Mas Wisnu yang pas-pasan makanya kami nggak bisa pakai asisten rumah tangga seperti yang mama dan papa sarankan.

Tak terasa, Cantika tumbuh besar dan lucu. Kini usianya sudah 3 bulan lebih. Badannya yang montok membuatnya selalu gagal untuk tengkurap. Akhirnya nangis lagi dan nangis lagi. Aku nggak mau dia menangis, selalu di gendong agar diam dan tenang. Akhirnya jadi kebiasaan, kalau nangis harus digendong baru diam. Maklumlah sebagai ibu yang sekian lama mengharapkan kehadiran buah hatinya, tak ingin anaknya rewel.

Sementara kerjaan rumah menyita perhatian, gadis kecilku hari-hari terus saja rewel membuat aku kadang jadi panik. Disiasati terus tiap sebentar kerja dan mengasuhnya. Kadang kuletakkan si cantik dalam ayunan keranjang sampai tertidur, kalau rewel, digendong sambil masak.

Siang itu, Cantika anteng banget. Jadi aku bisa menyelesaikan pekerjaan sampai tuntas. Sekali-kali ku lihat buah hati kami di ruang tengah yang asyik memegang mainan karet. Dia sudah pandai menggenggam sesuatu. Apapun yang dekat kadang diraihnya.

“Alhamdulillah, dia mulai tenang dan nggak rewel lagi,” gumamku.

Keesokan harinya gadis kecilku tidak rewel. Sampai menjelang siang Cantika mulai bobok cantik. Bisa disambi mencuci baju dan menyetrika. Sekali-kali dia terbangun dan kulihat senyum sendiri. Kata mamaku kalau anak bayi senyum dalam boboknya tandanya dia bahagia jumpa bidadari di syurga. Aku pun senyum bahagia menyaksikannya.

Waktunya si kecil bangun, karena sudah jam 12.30. Sambil menunggu Mas Wisnu pulang makan siang,  kulanjutkan lagi menyetrika sedikit pakaian yang belum kelar. Setelah menyusui kuletakkan kembali Cantika di ayunan rotannya. Supaya tenang ku kasih dia mainan yang ada di sebelah bantalnya. Ada bebek karet jika di gigit berbunyi, krincing dan boneka micky mouse pemberian mama. Tapi mata Cantika tak lepas dari kantong plastik yang ada di tepi keranjang. Dia ketawa asal plastiknya ku jadikan bahan ci-luk-ba.

Tanpa berfikir panjang, ku genggamkan saja plastik tadi di tangan mungilnya. Tak berhenti penasaran dan lincahnya dia bermain sendiri sambil menggigiti plastik asoy itu. Tanpa sadar karena tidak ku anggap rewel lagi, akupun terus saja menyelesaikan pekerjaan, langsung menyusun pakaian ke dalam lemari dan bebenah sampai selesai.

“Sayang Mama, Dedek Cantik, kok bobok lagi? Capek main sendiri ya, sayang?” ujarku sambil mengangkat plastik yang ada di tangannya dan menutupi hidungnya.

“Cantik, kamu kenapa sayang, kok pucat begini! Kok diam saja nak!”

“Oh, Tidak! Cantik! Cantiiik! Bangun Nak! Ini Mama Cantik! Bangun sayaaang!” Teriakku histeris sambil mengangkat bayiku yang sudah tak bergerak dan pucat keluar rumah.

Saat aku sedang berlari ingin keluar rumah sambil membawa Cantika, tiba-tiba Mas Wisnu pulang.

“Mas, anak kita Mas, anak kita!” Akupun terjatuh lemas tak sadarkan diri.

Secepat kilat mas wisnu menyambut tubuhku yang hampir jatuh tersungkur.      

Sementara tubuh Cantika yang sedari tadi ku peluk terpental melayang. Untungnya tetangga yang memang mendengar teriakkan tadi segera menangkapnya. Beberapa orang yang juga di sana menyaksikan kejadian ini dengan penuh ketegangan.

Perlahan kubuka mata memandang ke langit-langit rumah, melihat sekitar, begitu banyak orang-orang yang ku kenal mengelilingi di mana diri ini tergeletak lemah tak berdaya.

“Anakku Cantik, anakku mana? Huuu…huu…huu. Anakku mana Bu Ajeng?”  Aku berteriak sambil mengguncang tubuh wanita paro baya yang menajagaku di sisi kiri.

“Sabar Neng Ririn, sabar ya, jangan begini, nanti pingsan lagi Neng,” bujuk Bu Ajeng sambil memeluk tubuhku yang terus menangis.

“Dik… anak kita sudah jadi bidadari Dik, jangan ditangisi lagi ya sayang,” suara Mas Wisnu terdengar lemah sambil mendekat dan mendekap tubuh lemah ini.

“Huuu…huuuu…huuug….Maafkan Rin Maaas, .maafkan Rin. Semua ini salah Rin Mas. Kalau saja tadi tidak menyelesaikan pekerjaan. Mungkin Cantika kita ma…ma…masih ….” Aku terkulai lagi tak sadarkan diri.

Setelah semua persiapan pemakaman gadis kecil kami siap. Aku mulai tersadar. Tapi hanya bisa duduk dan menatap dalam-dalam tubuh mungil yang sedang berada dalam gendongan suamiku.

“Cantika anakku!” Mendadak kekuatan itu datang bak seorang wanita tangguh.

Ku ciumi tubuh yang sudah terbalut kain kafan itu berkali-kali. Tak ada satu orangpun yang mencegah. Mas Wisnu hanya mampu menatapku pilu hingga netranya basah dan menganak sungai.

“Yang kuat Dik, yang kuat ya, kita harus ikhlas, semua datang dari Allah akan kembali kepada Allah Dik.”

“Tapi kenapa harus anak kita Mas? Kenapa bukan Rin saja yang mati?” Teriakku kembali histeris.

Beberapa orang yang sedari tadi berada di dekatku segera memeluk erat tubuh ini sambil terisak dan sebagian menguatkan.  

“Sudahlah Rin, Mama tahu perasaan Ririn, tapi kasihan anakmu. Relakan ya sayang. Mama juga sedih Nak. Tapi kasihan si Cantik ya, kalau lama-lama;di rumah,” bujuk lembut suara Mama.

“I…iya Ma, aku mau ikut ke makam ya Ma?”

“Ya, tapi jangan kayak tadi ya nak, kasihan anakmu.”

“Ya Ma, aku kuat Ma. Pasti kuat,” jawabku menegaskan ke Mama.

Hari-hari ku habiskan waktu untuk melamun dan menyesali semua kesalahan.

“Maafkan Mama Nak, ini semua salah Mama, kalau saja….” Tangisku meledak lagi.

Mama yang masih tinggal di rumah kami belum sanggup meninggalkan aku dalam kondisi seperti ini. Sedangkan Mas Wisnu sekarang lebih banyak diam dan menyendiri. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Mungkin dia kecewa padaku yang sudah gagal menjadi seorang ibu yang tidak bisa mengasuh dengan baik. Karena sejak pengakuanku kemarin lusa, kalau Cantika kuberikan kantong plastik untuk mainannya, Mas Wisnu langsung berubah sikap. Awalnya Dia begitu perhatian dan penyayang, sekarang menjadi acuh, diam dan jarang komunikasi dengan orang yang ada di rumah.

Aku tak pernah menyangka, kalau bahayanya main plastik bagi bayi. Begitu menutupi hidungnya dia tak bisa bernapas dan akhirnya harus pergi selamanya. Maksud hati membuat anak senang, tapi aku banyak kekurangan dalam hal mengasuh anak.

Suasana rumah kecil yang biasanya penuh dengan keceriaan, canda tawa kami, kini menjadi sepi dan bagai tak berpenghuni. Seisi rumah lebih sering diam dalam fikirannya masing-masing. Pilu hatiku melihat ini semua.

Hari ke duapuluh gadis kecilku tiada. Makin menyayat hati. Mama akan pulang ke kampung dan saudara yang lainnya juga sudah bergantian pulang lebih awal. Kini tinggal aku dan Mas Wisnu saja. Semoga Mas Wisnu lebih perhatian padaku saat semua keluarga sudah pulang.

Tapi harapan tinggal harapan, Mas Wisnu kini sangat acuh, sama sekali  tak peduli dengan perasaanku. Dia jarang pulang tepat waktu bahkan menegurku saja hampir bisa dihitung jari. Sekarang Dia seringkali marah tidak jelas dan menjadi Mas Wisnu yang tidak ku kenal lagi.

“Yaa Allah…mengapa harus begini nasib pernikahan kami? Apakah aku yang sepenuhnya dipersalahkan atas apa yang terjadi?”

Karena hatiku tidak menerima perubahan sikap Mas Wisnu, akhirnya kuputuskan untuk berpisah baik-baik. Aku tidak sanggup melawan rasa bersalah ini. Menjawab setiap pertanyaan yang selalu datang dari semua orang saja, menjadi merasa beban berat. Apalagi harus dicukein sama orang yang sudah bertahun-tahun menjadi pendamping hidup. Aku nggak kuat!

Permintaan perpisahan ini di setujui oleh Mas Wisnu. Tanpa pikir panjang dia menerima permintaan yang ku sampaikan. Lalu dia bilang biar saja dia yang akan keluar rumah, dan aku tetap berada di rumah milik kami. Berita ini sampai pada kedua orang tua kami dan keluarga. Semua terkejut dan menyalahkan kami.

“Mengapa tidak saling menguatkan satu sama lain. Yang terjadi itu kan kehendak Allah SWT. Pikir panjang lagi Wis!” bentak Papa di telpon saat kami menyampaikan ini.

“Maaf Pa, mungkin Allah juga yang menetapkan jodoh kami sampai di sini.” Jawabnya lembut sambil memohon maaf berkali-kali.

Papa hanya menyerahkan semua pada kami, walaupun sesungguhnya Papa tahu putri semata wayangnya sangatlah rapuh.

Dengan sikap dinginnya ku temani Mas Wisnu bebenah segala alat miliknya. Sambil sesekali memperhatikan foto cantik gadis kami yang sudah pergi.

“Mas…sekali lagi, maafkan Rin ya. Rin akui Mas, kalau Rin teledor dan khilaf. Tapi Mas… semua itu diluar dugaan Mas. Rin lebih terpukul Mas. Sekian lama kita berusaha mendapatkan momongan Mas. Nggak mungkin Rin akan membunuh anak kita Mas? Mohon Mas, maafin Rin ya?” Pintaku sambil memegang tangan suamiku dengan memelas.

“Ya Dik…Mas maafin. Cuma Mas nggak bisa tinggal di rumah ini Dik. Mas harus pergi. Mas merasa hancur jika harus melihat setiap sudut rumah kita yang pernah ada tangis Cantika. Jaga kesehatan dan jaga dirimu baik-baik ya. Nanti Mas akan kabari jika ada surat dari pengadilan. Mudah-mudahan Adik juga bisa memaafkan Mas karena nggak bisa jadi suami yang bisa melindungimu.”

“Mas, semua salah Rin. Tapi Mas kenapa jadi berubah total? Seolah-olah Rin seorang terdakwa. Rin nggak sanggup kalau Mas benci sama Rin. Jadi Rin mohon Mas jangan hukum dirimu sendiri. Kalau Mas izinkan, sekali lagi Mas, sebelum dirimu pergi peluk Rin untuk terakhir kali ya Mas.”

Mas wisnu membalikkan badannya ke arahku sambil menatap dalam wajahku. Entah apa yang ada dalam fikirannya saat ini, hanya Dia dan Tuhan yang tahu.

Akhirnya kami saling berpelukan sebelum perpisahan itu benar-benar terjadi. Hangat pelukan terakhir Mas Wisnu membuatku makin tertekan dan nelangsa. Akhirnya kulepaskan pelukan itu perlahan dan berlari keluar kamar.

Tak pernah terlintas di benakku semua akan berakhir seperti sekarang. Mas Wisnu yang begitu sangat romantis dan penyayang membawaku membina keluarga dalam suka dan duka. Tapi kini tinggal kenangan dalam duka. 10 tahun empat bulan usia pernikahan kami. Kini berakhir dengan duka yang mendalam. Aku harus ikhlas melepaskan keduanya. Aku hanya berharap kebahagiaan akan datang menjemputku.

Pelalawan, 11 Januari 2022

Sih Yuliawati, asal Pangkalan Kerinci, Kabupaten Pelalawan, Riau. Guru Sekolah Dasar Negeri 006 Pangkalan Kerinci. Kini telah mendirikan sebuah taman bacaan FATIRA di kediamannya. Ibu tiga orang anak yang saat ini sudah menulis beberapa buah buku solo berupa kumpulan cerpen, antologi cerpen dan antologi puisi, mempunyai motto hidup” Indahnya Hidup dengan Saling Berbagi.”

Untuk pemuatan karya sastra (Puisi, Cerpen, Pentigraf, Esai, Pantun, Kritik, Resensi, Peristiwa Budaya, dan tulisan sastra lainnya) silakan dikirim melalui surel:

redaksi.tirastimes@gmail.com

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan