CERPEN : Srikandi Krida – Lintang Alit Wetan

Srikandi Krida

Cerpen : Lintang Alit Wetan

Di ruang sidang pengadilan agama. Hakim yang sedang membacakan gugatan-perceraian Trondol dan Srikandi, ambruk. Roboh terkena serangan jantung. Kegaduhan pun terjadi. Sebab, jarak 100 meter dari gedung pengadilan agama. Pabrik pembuat bulu mata palsu yang menjadi sumber mata pencaharian para buruh dilalap si jago merah. Keponakan Sang Hakim pun ikut menjadi korban. Tewas mengenaskan, terbakar hidup-hidup di ruang pembuatan bulu mata palsu.

 Sebagai seorang suami, bangun gasik hal biasa. Setelah sholat Subuh di mushola depan rumah, Trondol mengantar Srikandi, istri tercinta nan cantik bahenol. Srikandi sudah stand by sedari tadi, berdandan menor-menor pupurane moblong-moblong. Trondol mengantarkan istrinya ke pabrik pembuat bulu mata palsu untuk bekerja. Pabrik pembuat bulu mata atau idep palsu.

“Yang…Sayang….Cepetan dong. Udah siang, nih!” panggil mesra Trondol buat istri tercinta.Dari dalam rumah terdengar suara Srikandi. “Iya…Sebentar! Aku lagi cari kunci rumah. Ditaruh dimana, ya?”

“Itu menggantung di paku di tiang rumah tengah!”Srikandi keluar rumah, mengunci pintu. Berlari tergesa-gesa mendekati suaminya. Setelah menerima helm dari Trondol dan memakainya, Srikandi naik motor berduaan. Boncengan.

***

Trondol dan Srikandi melewati beberapa jalanan di kota dawet ayu ini. Sesampainya di depan pabrik, Srikandi turun dari sepeda motor sembari memberikan helm yang dipakainya kepada suaminya.

Kang, nanti pekerjaan rumah diurus, ya?”

“Iya. Tidak usah khawatir.”Trondol tidak langsung menuju rumah, namun ia menuju ke warung kopi, memesan kopi, lalu berbincang-bincang dengan Panjul, teman sesama pengangguran.

Yu, kopi, gelas kecil.”

“Ya, sebentar” sahut tukang warung.

“Bagaimana, Bos. Sudah dapat pekerjaan?” sindir Panjul.

“Belum. Pabrik di sini, hanya membutuhkan buruh perempuan saja. Pria tidak ada harganya!” ujar Trondol tidak tersinggung.

“Memang betul.”

Sambil memberikan segelas kopi, tukang warung menyimpan obrolan, “Ini Kang kopinya.” 

“Ya, terima kasih Yu.” Trondol menerima segelas kopi.

“Panjul, apa kita berangkat ke luar negeri saja. Ayo!”

 “Hahaha…Bos…Bos. Kalau saya yang berangkat tidak ada yang merasa kehilangan. Karena sampai detik ini masih bujangan. Sedangkan Bos, apa tidak eman-eman meninggalkan bojo yang cantiknya kinyis-kinyis kinclong, seperti batu marmer?”

Trondol menyeruput kopi.  “Hadeh! Aku yang ngajak kamu ke luar negeri, kenapa you jadikan aku malas berangkat ke luar negeri?”

“Hahaha…Benar tidak? Sebagai teman, saya cuma mengingatkan. Selain itu, belum tentu bekerja di luar negeri menjamin hidup kita enak. Apa begini saja, Bos tetap berangkat, saya yang menambahi uang sakunya, lalu saya yang menjaga Sukilah, istri Bos. Oke?”

“Oke gundulmu!” 

Panjul tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban Trondol. Sedangkan Trondol, roman mukanya mulai merah. Marah. Guyonan Panjul semakin ngawur, dan kebablasan. 

***

Sembari bekerja, Srikandi berbincang-bincang dengan Salindri, teman satu kerjanya.  Biasa, obrolan sesama perempuan.

“Bagaimana, suamimu sudah dapat pekerjaan?”

“Kalau sudah bekerja, mungkin bombong rasanya,” keluh Srikandi dengan roman muka kurang bergairah. Loyo seperti orang kurang darah, kurang tidur. “Saya bisa di rumah, tidak repot-repot bekerja setiap hari mengurusi rambut seperti ini. Suamiku, disuruh mengerjakan pekerjaan rumah saja gamang. Kalau suamimu, bagaimana?”  

“Suamiku jadi tukang ojek. Ya, jadi tidak menganggur, mau mengantar jemput kalau aku berangkat-pulang dari pabrik pagi-sore. Saya yang mengalah setiap bulan mesti setor kreditan sepeda motor.”

“Siapa yang mengurus anak-anak?”

“Ya, dengan eyang kakung-putri.”Kedua teman kerja itu asyik mengobrol di pabrik. Sehari-hari kerja, di pabrik itu mereka cuma membuat bulu mata palsu.

***

Trondol sedang di sumur siang itu. Ia mencuci pakaian, celana dalam dan beha istrinya yang bahenol. Namun, Trondol kurang bahagia. Nampak dari wajahnya.Malam hari di depan rumah Trondol. Srikandi pulang dari pabrik diantar sepeda motor oleh Paijo, temannya. Srikandi turun dari boncengan sepeda motor memberikan helm pada Paijo. 

“Terima kasih Mas Paijo….Saya sudah diantar sampai rumah,” sembari senyum genit. Lenjeh.Paijo membalas senyum lenjeh itu. 

“Halah, seperti dengan siapa. Tenang saja, saya siap mengantar jemput kamu setiap hari.”

Srikandi tersenyum, tersipu-sipu malu. Malu-malu kucing. Malu-malu, tapi mau kalau ada mau. Srikandi menyodorkan tangan, bersalaman, mencium tangan Paijo.

“Saya pulang, ya?”

“Iya, hati-hati, Mas Paijo.”

Trondol mengeluh kepada Sukilah dan ditanggapi istrinya dengan dingin.Inti masalahnya, Trondol melihat Sukilah setiap hari pulang dari pabrik kemalaman. Larut malam. Alasan Srikandi, klise. Lembur. Jadi, pulang malam. Sedangkan, suaminya lebih larut lagi pulangnya. Bila Srikandi sampai rumah, maka Trondol belum pulang. Masih kelayaban.

Kelayapan?  Saya sedang usaha. Usaha cari pekerjaan!”

“Apa seumur hidup, Kang Trondol cuma usaha-usaha melamar kerja? Itu ada sepeda motor, untuk buka jasa ojek apa bagaimana, bisa Kang?”

“Ojek? Saya sarjana. Sarjana! Mau ditaruh dimana muka saya?”

“Di bokong semok bahenolku ya. Dikira hidup di kota kecil seperti ini, kertas ijazah sarjana bisa dimakan. Ijazah itu untuk apa?”

“Kenapa kamu tidak membela suamimu. Aku cinta banget sama kamu, Say….”Srikandi membalikkan badan 180 derajat. 

“Sudah tenang. Jangan berisik. Besok kerja, ya!”

 ***

Srikandi diantar pulang Paijo sampai depan rumah. Srikandi mencium mesra tangan Paijo. Sambil senyum genit, lenjeh. Dan menyingkapkan rok mininya yang super ketat tinggi-tinggi. Setinggi Puncak Slamet dengan hamparan indah, taburan bunga-bunga edelweis. Srikandi menyingkap rok mininya tinggi-tinggi, hingga nampak jelas transparan, tembus pandang celana dalam warna pink yang dikenakannya. 

Tidak cuma itu, Srikandi mendekapkan tonjolan dua gunung di dadanya yang rapat ketat di balik beha, ke tubuh Paijo. Srikandi menyerahkan segalanya agar dicium, dilumat habis-habisan oleh Paijo. Mereka bukan muhrim. Tetapi, adegan di depan rumah Trondol tatkala malam kian larut itu, sangat kebablasan. Di taman bunga, depan rumah, di atas rerumputan. Srikandi dan Paijo berubah laksana binatang. Sukilah begitu binal, sulit dikendalikan. Kerik jangkrik terdiam. Hanya lenguhan-lenguhan.  Trondol mengintip dari jendela rumah. Ia pun meradang. Menerjang. Merah darah. Marah hingga ubun-ubun kepala. Baru saja Srikandi membuka dan menutup pintu, terjadi perang dunia ketiga. Pertengkaran hebat.

“Oh…Jadi saya tidak boleh antar jemput, supaya kamu bisa guwelan dengan lelaki lain!”

Srikandi mengelak. “Kena apa Kang? Menuduh sembarangan! Tahu sendiri, saya pulang jalan kaki!”

“Dengan tukang ojek, pakai acara cium tangan, dan guwelan berkali-kali juga!”

“Cium tangan? Kalau naik ojek harus bayar!”

“Bayar-bayar dengan mulut! Gewelan ya?”Srikandi naik pitam. Mukanya berubah serupa sepuluh. Muka Rahwana. Mengerikan.

“Kalau aku menyeleweng, selingkuh. Kang Trondol mau apa?”Trondol kaget.  Terasa tubuh naik ke angkasa. Lalu pecah berantakan, berkeping-keping. Limbung. Trondol terdiam. Srikandi nyerocos kesana kemari. Mengungkit-ungkit semua aib. Rahasia rumah tangga. Tidak sekadar Kang Trondol tidak bisa menafkahi secara lahir, tetapi juga nafkah batin.  Apalagi tidak pernah memberi uang ke istrinya. Dengan modal ijazah sarjana, tidak bisa memberi makan istrinya.Trondol tergagap.

“Bukan maksudku seperti itu!”

“Lalu, maksudmu mau apa?”Trondol menghela nafas. Srikandi membela diri. “Kang Trondol yang mestinya bekerja! Yang salah itu, Kang Trondol! Kenapa perempuan yang harusnya merawat rumah, malah ini terbolak-balik. Ini terbalik. Senang ya, kalau aku pakai cawet terbalik? Daripada pusing, lebih baik kita pisahan saja. Cerai! Pegatan!” Trondol melongo. Nelangsa. 

“Maksudku bukan begitu. Oalah, jadi bubrah seperti ini.”

Dirasakan Trondol, tubuhnya terasa terbang melesat ke langit tinggi. Lalu, muncul seribu kunang-kunang terbang di atas kepalanya. Berjuta-juta palu godam memukul-mukul batok kepalanya.Dari mulutnya terdengar suara-suara tidak jelas. Ndleming. Lalu, “Bruk!” Kang Trondol ambruk. Pingsan***

Biografi: (*)Lintang Alit Wetan adalah nama pena dari Agustinus Andoyo Sulyantoro lahir di Kalialang, Kemangkon, Purbalingga, 13 Mei. Menyelesaikan S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di FPBS IKIP Yogyakarta (UNY) tahun 1997. Karya cerpen dan puisinya pernah diterbitkan sejumlah media dan juga dibukukan. Buku antologi puisinya yang sudah terbit Lingkar Mata di Pintu Gerbang(2015), kumpulan esai Banyumas dalam Prosa Nonfiksi (2016), menyunting buku Perjamuan Cinta (2015), kumpulan esai Manusia Jawa Modern (2016). Bergiat di Komunitas Unstrat Yogya, Kata Sapa Purbalingga, Sastra Peradaban Purwokerto. Belum menyelesaikan pendidikan Pascasarjana Unsoed dan Universitas Sanata Dharma. Alamat email: aasulyantoro@gmail.com. Buku-buku yang sedang dikerjakan, 1. Anoman Bukit Kendalisada (Kumpulan Cerpen), 2. Tuan Tanah Kamandaka (Kumpulan Cerpen), 3. Wind of Wings -–Sayap-sayap Angin—(Antologi Puisi 2 Bahasa, Cetakan 2), dll. Domisili: Bendungan Rt 002/Rw II No. 48, Simbarejo, Selomerto, Wonosobo, Jateng 56361.

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan